Perpustakaan Nasional (Perpusnas) merupakan gabungan dari empat institusi yang lahir pada 17 Mei 1980, dan hingga kini diperingati sebagai hari lahir Perpusnas (Foto:Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi)
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) merupakan gabungan dari empat institusi yang lahir pada 17 Mei 1980, dan hingga kini diperingati sebagai hari lahir Perpusnas (Foto:Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi)

Mengenal Lebih Dekat Perpustakaan Nasional RI

Nasional perpustakaan nasional
Pelangi Karismakristi • 13 September 2016 00:00
medcom.id, Jakarta: Perpustakaan menjadi pintu gerbang untuk menggali ilmu pengetahuan. Perpustakaan menyimpan banyak buku yang disebut sebagai jendela dunia. Perpustakaan dapat ditemui seluruh provinsi, kabupaten/kota, sekolah, universitas, pondok pesantren, bahkan di lembaga permasyarakatan.
 
Tak terkecuali Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Sesuai Pasal 1 ayat 5 UU no 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, Perpustakaan Nasional memiliki fungsi yaitu Perpustakaan Pembina, Rujukan, Deposit, Penelitian, Pelestarian, dan Pusat Jejaring Perpustakaan, serta berkedudukan di ibu kota negara.
 
Keberadaan Perpusnas ternyata memiliki catatan sejarah panjang yang patut untuk disimak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sekretaris Utama (Sestama) Perpusnas Dedi Junaedi menjelaskan, awalnya perpustakaan ini merupakan gabungan dari empat institusi yang lahir pada 17 Mei 1980, dan hingga kini diperingati sebagai hari lahir Perpusnas. Di antaranya Perpustakaan Museum Pusat, Perpustakaan Sejarah dan Politik, Perpustakaan Wilayah tipe B Daerah Khusus Ibukota serta Bidang Bibliografi dan Deposit.
 
Walaupun secara resmi Perpusnas berdiri pada pertengahan 1980, integrasi secara fisik baru bisa dilakukan pada Januari 1981. Hingga 1987, Perpusnas masih berada di tempat yang berbeda, yaitu Jalan Merdeka Barat Nomor 12 (Museum Nasional), Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11 (Perpustakaan SPS), dan Jalan Imam Bonjol Nomor 1 yang sekarang menjadi Museum Naskah Proklamasi.
 
"Alhamdulillah, dengan adanya kedekatan Ibu Kepala Perpusnas Mastini Hardjoprakosa dan Ibu Tien Soeharto, Perpusnas ditempatkan di sini (Jalan Salemba Raya 28). Kita tidak mengeluarkan anggaran apa pun, dapat fasilitas gedung baru," ujar Dedi kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di Gedung Utama Perpusnas, Jakarta.
 
Gedung Perpusnas kala itu merupakan sebuah gedung kuno bekas sekolah HBS Koning Willem III. Saat itu, gedung dan lahan digunakan sebagai kantor Jawatan Kesehatan TNI AD (Rinkes Kodam V/ Jaya).
 
"Dulu itu dipakai orang zaman Belanda untuk sekolah, istilahnya Kawidri," ucap Dedi.
 
Mengenal Lebih Dekat Perpustakaan Nasional RI
Sekretaris Utama (Sestama) Perpusnas Dedi Junaedi (Foto:Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi)
 
Untuk menampung perpustakaan yang berpencar tadi, sebuah gedung yang terdiri atas Blok B, C dan D masing-masing bertingkat tujuh, sembilan, dan tujuh mulai dibangun pada 1987. Keberadaannya sejajar dengan bekas bangunan sekolah HBS yang telah dipugar. Dengan diresmikannya gedung baru ini pada 11 Maret 1989 oleh Presiden Soeharto, dimulailah perjalanan baru dalam sejarah Perpusnas.
 
Menurut Kepres Nomor 11/ 1989 Pasal 19 Perpusnas RI merupakan gabungan tiga lembaga, yaitu Pusat Pembinaan Perpusatakaan, Perpustakaan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Perpustakaan Wilayah di Provinsi merupakan satuan organisasi yang melaksanakan fungsi dan tugas perpustakaan nasional tersebut. Dengan adanya gabungan ketiga lembaga itu, maka sejarah Perpusnas RI dapat dirunut berdasarkan pendekatan kelembagaan.
 
"Dari Kepres Nomor 11, berubah jadi Kepres Nomor 50 bahwa Perpusnas melebarkan bukan hanya 4 gabungan, tapi akhirnya menyatu dengan Pusbinpustak. Sehingga kita mempunyai vertikal di 27 provinsi saat itu," kata Dedi.
 
Mengenal Lebih Dekat Perpustakaan Nasional RI
Naskah kuno Negarakertagama (Foto:Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi)
 
Perpusnas menyimpan banyak koleksi buku. Tercatat pada awal 2015 mencapai 2,6 juta buku. Jumlah itu masih terus bertambah dari tahun ke tahun. Tak hanya buku saja, ada juga koran, majalah, dan foto kuno.
 
Menariknya, ada 11 ribu naskah kuno yang dipamerkan. Tiga di antaranya telah terdafatar dalam Memory of The World UNESCO, antara lain Naskah Negarakertagama, Babad Diponegoro, dan La Galigo yang merupakan warisan budaya nusantara.
 
Perpusnas terdiri atas 6 lantai yang memiliki fungsi masing-masing. Lantai 1 untuk melakukan registrasi pengunjung, dan terdapat loker serta pojok hot spot. Naik ke lantai 2, merupakan tempat katalog, di mana pengunjung bisa mengisi form dan menuliskan buku yang dicari untuk diserahkan kepada pustakawan.
 
Pada lantai selanjutnya, disimpan koleksi buku sosial, humaniora, dan sebagainya. Kemudian, lantai 4 menyimpan koleksi audio visual kuno. Lantai 5, menyimpan koleksi naskah dan buku kuno. Dan, lantai 6 terdapat koran-koran lawas.
 
Semua koleksi di sana mendapat perawatan ekstra. Salah satunya, suhu ruangan gudang penyimpanan dibuat dingin.
 
Jika berkunjung ke sana, jangan heran jika pengunjung tidak bisa asal ambil buku yang ingin dibacanya. Pustakawan akan mengambilkan buku yang dicari atau dikenal dengan sistem tertutup. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian koleksi.
 
Menyesuaikan diri dengan era digital, Perpusnas berupaya memenuhi tuntutan zaman yang makin berkembang. Perpusnas melakukan terobosan dengan meluncurkan Perpusnas online pada Agustus 2016. Hal ini dilakukan untuk memberikan kemudahan pembaca dalam mengakses koleksi buku Perpusnas melalui ponsel pintar.
 
"Ada iPusnas, e-Resources, dan e-Journal yang jumlahnya 10 ribu, serta ios (Indonesia One Search) yang terdiri atas 500 perpustakaan. Mudah-mudahan bisa diakses dan sinyalnya bagus, khususnya di daerah terpencil," ucap Dedi.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif