ilustrasi BBM. Foto: Medcom.id
ilustrasi BBM. Foto: Medcom.id

Dampak Konflik Iran vs AS-Israel bagi Masyarakat Indonesia: Harga BBM hingga Sembako Naik

Fatha Annisa • 01 Maret 2026 15:43
Ringkasnya gini..
  • Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi berdampak pada ekonomi Indonesia, terutama kenaikan harga BBM dan energi.
  • Lonjakan harga minyak dunia bisa memicu inflasi bahan pangan, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga barang impor.
  • Harga emas berpotensi melambung seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat ketegangan di Timur Tengah.
Jakarta: Ketegangan politik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memiliki efek domino yang cukup signifikan bagi Indonesia. Meskipun secara geografis jauh dari Timur Tengah, ketergantungan global pada energi dan jalur perdagangan membuat dampak tersebut terasa langsung di dapur dan dompet masyarakat.
 
Berikut adalah analisis dampak yang paling relevan dengan kehidupan sehari-hari:

1. Kenaikan Harga BBM dan Energi

Timur Tengah adalah pusat produksi minyak dunia. Iran memiliki kontrol atas Selat Hormuz, jalur sempit yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika konflik memanas dan jalur ini terganggu, harga minyak mentah dunia bisa melonjak melampaui $100 per barel.
 
Efeknya bagi masyarakat, harga BBM non-subsidi (Pertamax dkk.) akan naik mengikuti pasar. Sementara itu, beban subsidi APBN untuk BBM bersubsidi (Pertalite & Solar) akan membengkak, yang berisiko memicu kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga atau membatasi distribusi.
 
Baca juga: Ratusan Penerbangan Dialihkan Setelah AS dan Israel Serang Iran
 


2. Inflasi Harga Bahan Pangan dan Barang

Kenaikan harga energi selalu diikuti oleh kenaikan biaya logistik. Pasalnya, truk pengangkut bahan pangan menggunakan Solar. Apabila biaya operasional truk naik, harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur di pasar tradisional biasanya ikut merangkak naik.

Konflik juga dapat mengganggu jalur pelayaran melalui Terusan Suez dan Laut Merah. Hal ini menyebabkan biaya asuransi kapal naik dan rute pelayaran menjadi lebih jauh (memutar lewat Afrika), sehingga harga barang elektronik atau pakaian impor menjadi lebih mahal.


3. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Saat terjadi ketegangan global, investor cenderung menarik modalnya dari negara berkembang (seperti Indonesia) dan memindahkannya ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS atau Emas.
 
Akibatnya, nilai tukar Rupiah bisa melemah atau terdepresiasi. Saat Rupiah melemah, harga bahan baku industri yang diimpor (seperti gandum untuk mi instan/roti atau kedelai untuk tahu/tempe) akan melonjak, yang ujung-ujungnya dibebankan kepada konsumen.
 
Baca juga: Israel dan AS Bombardir Iran, PBB Bisa Apa?


4. Harga Emas Melambung

Emas adalah instrumen perlindungan nilai saat terjadi perang. Masyarakat yang ingin membeli emas untuk investasi atau perhiasan akan menghadapi harga yang sangat tinggi jika ketegangan ini terus berlangsung.
 
Di sisi lain, ini menjadi kabar baik bagi mereka yang sudah memiliki simpanan emas dan ingin menjualnya (buyback).


5. Sentimen Sosial dan Keamanan Siber

Ketegangan ini sering kali memicu polarisasi di media sosial. Aksi hacktivism (peretasan) atau penyebaran disinformasi (hoaks) yang berkaitan dengan konflik tersebut cenderung meningkat. Hal ini dapat memengaruhi kenyamanan bermedia sosial dan meningkatkan risiko penipuan digital yang memanfaatkan sentimen kemanusiaan.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan