Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Foto: Medcom.id/fatha annisa
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Foto: Medcom.id/fatha annisa

Menteri Ekraf: Industri Kreatif Terancam Imbas Konflik di Timur Tengah

Fatha Annisa • 04 Maret 2026 14:18
Ringkasnya gini..
  • Memanasnya geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, berpotensi berdampak pada ekonomi nasional dan industri kreatif.
  • Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah mendorong hilirisasi di sektor ekonomi kreatif.
  • Penguatan digitalisasi serta kolaborasi dengan swasta juga dilakukan agar UMKM dan industri kreatif menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Jakarta: Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai memanasnya geopolitik global seperti yang terjadi di Timur Tengah dapat berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional dan berdampak pada industri kreatif Indonesia. Terutama apabila industri kreatif masih bergantung pada impor.
 
“Ya, tentu terdampak kalau kita bergantung industri kreatif ini dari impor,” kata Teuku Riefky saat ditemui usai acara Laporan Pencapaian Program Emak-Emak Matic di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
 
Ketergantungan terhadap bahan baku maupun produk dari luar negeri membuat pelaku industri rentan ketika terjadi gangguan global. Pasalnya, konflik geopolitik dapat memicu ketidakstabilan ekonomi, terganggunya rantai pasok, serta tekanan terhadap daya beli masyarakat.
 
 
Baca juga: Kementerian Ekraf Dorong Kreator Indonesia Adaptasi dengan Dunia Digital

 
Sebagai langkah antisipasi, Teuku Riefky menyebut pemerintah mendorong hilirisasi di sektor ekonomi kreatif. Tidak hanya pada sektor tambang, hilirisasi juga diarahkan ke subsektor seperti fashion, kuliner, dan kerajinan.
 
“Kita menyiapkan hilirisasi agar industri kreatif Indonesia juga semakin berkembang, dengan sistem pemasaran yang juga menjangkau kawasan Indonesia,” ujar Menteri Ekraf.
 
Melalui hilirisasi, produk-produk impor diharapkan dapat digantikan oleh produk lokal sehingga proses produksi hingga penyerapan pasar benar-benar terjadi di dalam negeri. Dengan demikian, industri kreatif dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan lebih tahan terhadap gejolak global.
 

Penguatan Digital dan Kolaborasi

Selain hilirisasi, sistem penjualan modern melalui platform digital dan penguatan literasi digital menjadi bagian penting dari strategi pemerintah. Kementerian menyadari tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
 
 
Baca juga: Kemnaker Gandeng Shopee Luncurkan ToT Affiliate, Target 60 Ribu Talenta Digital

 
Kerja sama dengan swasta, termasuk Shopee, telah dilakukan dalam satu tahun terakhir untuk mendukung pelatihan dan perluasan akses pasar. Program seperti Emak-emak Matic dan Genmatic digulirkan untuk memperkuat kapasitas pelaku industri kreatif di berbagai daerah.
 
“Kementerian juga butuh berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan pihak swasta. Dalam hal ini Shopee dan sudah melakukan komitmennya dalam satu tahun terakhir,” jelasnya.
 
Menteri juga mengingatkan bahwa UMKM terbukti menjadi tulang punggung perekonomian saat Indonesia menghadapi krisis dan pandemi Covid-19. Dalam situasi geopolitik yang memanas saat ini, pemerintah berharap UMKM dan industri kreatif kembali menjadi penopang ekonomi nasional.
 
“Memanasnya geopolitik termasuk peperangan yang ada di Timur Tengah, kita berharap UMKM dan industri kreatif Indonesia bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,” tutupnya.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan