Foto Imam Samudera dibawa warga jelang eksekusi mati pada 9 November 2011. Foto: Antara/Ismar Patrizki
Foto Imam Samudera dibawa warga jelang eksekusi mati pada 9 November 2011. Foto: Antara/Ismar Patrizki

Jejak Dr Azhari Menebar Teror Bom di Indonesia

Para Pelaku di Telunjuk Imam Samudera (7)

Wandi Yusuf • 08 November 2017 18:15
medcom.id, Jakarta: Aransemen bom yang diciptakan Dr Azhari mulai mengalun pada 12 Oktober 2002. Legian, Bali, berguncang. Sebanyak 202 orang meninggal. Sekitar 300 orang terluka dan sebagian besarnya cacat permanen. Hingga 15 tahun berselang, luka akibat bom itu masih terngiang, terutama bagi keluarga korban.
 
Tulisan ini hendak mengenang kembali peristiwa mengerikan yang kemudian dikenal dengan peristiwa Bom Bali I. Sudut pandang tulisan ini adalah sosok Dr Azhari. Bagaimana kiprahnya berada di balik setiap bom yang meluluhlantakkan sebagian tempat strategis di Indonesia. Mulai dari pertama kali diminta meracik bom, menebar teror, hingga akhirnya ditangkap pukul 15.45 WIB pada 9 November 2005 di Batu, Malang, Jawa Timur.
 
Bukan untuk membuka trauma. Setidaknya untuk mengingat kembali betapa sosok ‘gila’ macam Azhari sudah merusak harmoni di negeri ini.

Tulisan merujuk pada buku yang dirajut Komisaris Jenderal Arif Wachjunadi berjudul Misi Walet Hitam 09.11.05 – 15.45: Menguak Misteri Teroris Dr Azhari yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Arif saat ini menjabat Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
 
Ia melakukan riset selama dua tahun dengan melakukan perjalanan ke semua lokasi terkait dengan Bom Bali I. Puluhan saksi, baik pelaku maupun pemburu teroris, dia wawancarai. Termasuk petugas lapangan yang menjadi ujung tombak penangkapan Dr Azhari.
 
Pelarian dimulai
 
Tertangkapnya Amrozi pada 5 November 2002 jadi berkah besar bagi Polri. Karena dari mulutnya para pelaku bom Bali I secara bertahap bisa tertangkap.
 
 “Waktu Amrozi ditangkap, saya sudah sadar, inilah saatnya saya benar-benar diburu polisi. Pelarian saya hanya upaya mengulur waktu. Saya tak yakin bisa lolos dari kejaran polisi,” kata Ali Imron menyikapi tertangkapnya Amrozi.
 
Perburuan sejatinya sudah mereka sadari sehari setelah meledaknya bom Bali. Mukhlas sebagai pentolan pengeboman bahkan memberikan sepeda motor dan uang Rp1 juta kepada Ali Imron. Bekal ini memang diberikan agar Ali bisa berkelit dari kejaran polisi.
 
Baca: Sidik Jari Dr Azhari di Bom Bali (1)
 
Ali Imron menyaksikan Amrozi ditangkap. Seketika dia berupaya menjauh. Sepeda motor yang diberikan Mukhlas dia gunakan untuk bolak-balik ke Gresik, Lamongan, dan Surabaya. Ali mengajak muridnya melarikan diri ke Muara Sungai Mahakam di wilayah Sungai Tanjung Barukan Kaltim.
 
Tetap saja pelariannya sia-sia. Polisi bisa mengendus keberadaannya. Pada 13 Januari 2003 Ali dan Mubarok ditangkap. Mereka tertangkap saat bersembunyi di tambak sekitar Sungai Mahakam.
 
Imam Samudera tertangkap lebih dulu. Pencetus peledakan bom di Bali ini tertangkap pada 21 November 2002. Dia ditangkap di dalam bus PO Kurnia di Terminal Banten. Bus hendak masuk kapal tujuan Lampung di Dermaga 1 Pelabuhan Merak.
 
Tim pemburu dari kepolisian melacak beradaan Imam melalui surel. Imam yang rajin ke warung internet (warnet) dan bertelepon membuat kepolisian mudah menelusuri keberadaannya. Polisi juga sempat melacaknya mampir ke Ramayana, Cilegon, Banten.
Para Pelaku di Telunjuk Imam Samudera (7)
Setelah Imam ditangkap, berturut-turut pelaku bom Bali tertangkap. Abdul Ghoni tertangkap pada Desember 2002. Tim pemburu teroris yang digawangi Gories Mere sudah bisa menangkapnya pada Desember 2002 di Cileungsi, Kabupaten Bogor.
 
Abdul Ghoni sudah diburu sejak bermukim di rumah kontrakan Sutrisno di Kampung Mantung RT 01/05 Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Polisi juga sempat memantaunya saat bergeser ke Bantargebang, Bekasi.
 
Mukhlas alias Ali Ghufron ditangkap pada 3 Desember 2002 di Desa Tanon, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Dia sempat berupaya merebut pistol petugas saat tengah disergap. Dari penangkapan Mukhlas, tim pemburu menggerebek kontrakan di Jalan Laweyan, Solo.
 
Baca: Menjadi Misteri setelah Ledakan Bom Bali (3)
 
Di rumah kontrakan yang disewa Saad alias Roihan alias Mat Ucang itu polisi banyak menemukan barang bukti. Kontrakan itu ternyata salah satu markas Komando Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia. Di sana polisi menemukan buku Pedoman Umum Perjuangan Al-Jamaah Al-Islamiyah (PUPJI). Temuan ini mengungkap dalang di balik aksi teror di Indonesia: Abu Bakar Baasyir.
 
Umar Patek tertangkap di Afganistan. Tak lama setelah bom Bali meledak, Umar Patek memilih bertolak ke Afganistan melalui Bangkok dan berlanjut ke Bandara Lahore, Pakistan. Dari pakistan ini dia berencana menuju Afganistan. Namun, dia ditangkap petugas bandara. Rudi Sufahriadi menjemput Umar Patek pada 10 Agustus 2011. Dia dipulangkan menggunakan pesawat carter yang menanti di Islamabad, Pakistan.
 
Alat canggih
 
Perburuan para teroris ini melibatkan perlengkapan yang canggih pada saat itu. Tim pemburu dilengkapi kendaraan direction finder (DF) yang mampu melacak keberadaan sinyal telepon hingga puluhan kilometer. Mereka juga menggunakan GSM interceptor untuk menyadap informasi alat elektronik.
 
Berbekal peralatan ini tim juga menemukan sejumlah gudang senjata di Hutan Dadapan, Lamongan, Jatim, sekitar 4 kilometer dari rumah Amrozi. Lima hari setelah Amrozi tertangkap, polisi menemukan dua pucuk M-16, sepucuk AR-15 tipe A2, dua pucuk Lee Enfield, dua pucuk FN, 5.080 munisi kaliber 5,56, 45, dan kaliber 32. Oleh para pelaku senjata disimpan dalam enam tabung PVC.
 
Tim juga menemukan gudang senjata di Semarang. Pada 9 Juli 2003 petugas menggerebek sebuah kontrakan dua lantai milik Sarwin di Jalan Taman Sri Rezeki Selatan, Gang VII No 2. Ditemukan sejumlah dokumen teroris, senjata api, amunisi, dan bahan peledak berdaya ledak tinggi (high explosive). Ditemukan juga 26 bom rakitan, sebanyak 23 di antaranya siap diledakkan.
 
Pendekatan agama
 
Bukan perkara mudah mengorek informasi dari para teroris. Kapolri Dai Bachtiar banyak menyatakan amat sulit mengorek keterangan dari Imam Samudera.
 
“Bahkan tim pemeriksa sudah menyerah. Mereka mengaku tidak bisa apa-apa. Maka, saya sendiri yang memeriksa,” ujar Dai.
 
Dai menggunakan pendekatan agama untuk bisa masuk pada logika Imam Samudera. Sebagai orang asli Indramayu, Jawa Barat, Dai juga menggunakan pendekatan kedaerahan. Dai kerap menyapa penyuka puisi itu memakai bahasa sunda. Hasilnya positif. Sedikit-sedikit Imam mau bersuara.
Para Pelaku di Telunjuk Imam Samudera (7)
Jenazah Imam Samudera dimasukkan ke liang lahat usai dihukum mati, 11 November 2008. Foto: Antara/Wildhan
 
Sebelum ditangani Dai, perangai Imam tak bisa dikontrol saat diperiksa. Kata ‘thogut’ kerap terlontar dari mulutnya. Ujaran kebencian itu ditujukan Imam kepada Irwasda Polda Bali Komisaris Besar Ito Sumardi.
 
“Saya baru tahu istilah thogut, ya saat itu dari Imam Samudera,” kata Ito saat menginterogasi Imam. Selama diperiksa Ito, Imam tak pernah mau buka suara.
 
Baca: Densus 88 Antiteror Lahir (6)
 
Imam kerap beraksi memasukkan jari telunjuknya ke langit-langit mulut saat bertemu Ito. Lepas itu telunjuknya dia acungkan sambil berteriak “Thogut kamu!”. Matanya nyalang.
 
Perilaku aneh Imam ini dibenarkan Anwar Chambali. Anwar adalah penyidik yang merampungkan berita acara pemeriksaan (BAP) Imam Samudera. Anwar mengakui Imam berkarakter keras, berperilaku aneh, dan tak menawarkan persahabatan.
 
Di tengah riuh rendah penangkapan para pelaku teroris, jejak Dr Azhari—Sang peracik bom—tak terlacak. Dia berkelana entah ke mana. Pergerakannya dari satu tempat ke tempat lain begitu cepat. Dan dia masih terus menebar bom. (Bersambung)
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UWA)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>