Tempe dan Kriya Indonesia Diminati Dunia
Bekraf mendukung produk kuliner dan kriya Indonesia menembus pasar internasional (Foto:Metro TV)
Jakarta: Suatu hal biasa dengan sedikit sentuhan kreativitas bisa memiliki nilai lebih. Contohnya seperti yang dilakukan CEO Tempe Krezi Djoeragan Tempe, Lucky Nurrobby Achmad. 
Dia mengemas tempe menjadi makanan yang lebih menarik. 

"Kebanyakan orang menganggap tempe itu tradisional banget. Saya ingin tempe bisa naik kelas di mata dunia," kata Lucky pada program Kini Indonesia Metro TV.

Selain mengangkat nilai jual tempe, alasan lain Lucky menggeluti bidang usaha Tempe Krezi ialah untuk meningkatkan minat masyarakat makan tempe.


"Biasanya anak-anak makan tempe agak susah. Saat kita bikin suatu hal yang berbeda, mereka suka. Kebetulan anak saya agak susah makan tempe. Setelah dibikin atraktif visual, akhirnya mereka mau makan," ucapnya.

Upaya mengkreasikan tempe bisa dibilang berhasil. Produk Tempe Krezi mulai diminati masyarakat. Terlebih setelah mengikuti kompetisi yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada Agustus 2018.

"Kita meraih juara dua. Setelah acara itu, banyak investor dan distributor yang bekerja sama dengan kita. Jadi, ada peningkatan cukup pesat," ujarnya.

Tidak hanya kuliner, sektor kriya Indonesia juga memiliki nilai tinggi. Misalnya, produk yang dihasilkan Indo Risakti.

Direktur Indo Risakti Windu Sinaga mengatakan, produk kreatifnya berbahan baku natural. Bahan tersebut biasanya tidak dilirik karena tidak bernilai, yaitu eceng gondok, mendong, kayu akar, dan lainnya.

"Bagaimana kita membuat suatu produk dari barang yang sudah dibuang, kita manfaatkan agar bisa menjadi produk bernilai tinggi," kata Windu.

Upaya Windu ini menuai hasil. Produknya telah mengikuti beberapa pameran internasional. Yang teranyar, di New York, Amerika Serikat. "Kita difasilitasi boleh Bekraf dan luar biasa. Ketika kita ke New York, responsnya luar biasa," katanya.

Keberhasilan Tempe Krezi dan Indo Risakti dalam memasarkan produk lokal Indonesia tak lepas dari peran Bekraf. Produk lokal menjadi dilirik pasar.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, pihaknya masif mempromosikan produk lokal. Tahun ini, Bekraf fokus pada tiga usaha kreatif, yaitu kuliner, fashion, dan seni (craft).



"Kenapa pada tiga ini? Daya ungkitnya besar. Kita bikin sesuatu yang cepat naiknya. Kita berharap tahun-tahun yang akan datang dengan anggaran besar, bisa bikin event lebih banyak," kata Triawan.

Salah satunya sektor craft. Pria yang berlatar belakang musisi itu menyebutkan, kualitas seni Indonesia tak kalah dengan produk luar. "Kemarin saya ke Milan Design Week 2018, luar biasa produk kita diminati," katanya.

Namun, satu hal yang disesali Triawan ialah mengenai harga. Harga produk seni Indonesia masih terlalu murah. "Kata orang-orang di sana (Milan Design Week), harga jualnya bisa dua kali lipat," ucapnya.

Oleh karena itu, Triawan minta agar para pelaku industri kreatif tidak takut mematok harga tinggi. Sebab, ada anggapan bahwa harga merefleksikan kualitas.

"Kalau kita jual telalu murah, nanti persepsi kualitasnya tidak terangkat. Kalau harga dinaikkan, jadi persepsi lebih baik," katanya.

Meski sudah diminati pasar global, Triawan meminta agar pelaku industri kreatif fokus memenuhi pasar lokal terlebih dahulu. Cara ini untuk membentengi pasar lokal dari produk impor.

"Kita selalu bilang, kuasai dahulu pasar lokal, level dunia nanti. Lihat saja Tiongkok dan Korea. Mereka menguasai pasar lokal dahulu, baru keluar," ucapnya.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id