Ilustrasi korona. Medcom.id
Ilustrasi korona. Medcom.id

Gerak Cepat dengan Rapid Test

Nasional Virus Korona Rangkuman Nasional
Renatha Swasty • 31 Maret 2020 06:00
Jakarta: Uji cepat (rapid test) virus korona (covid-19) yang telah berlangsung sejak Jumat, 20 Maret 2020 membuat penambahan angka pasien terjangkit virus korona di Tanah Air meningkat. Sebanyak 1.414 orang positif terjangkit virus asal Wuhan, Tiongkok itu hingga Senin, 30 Maret 2020.
 
Pemerintah sengaja mengadakan rapid test untuk mencegah penyebaran virus korona. Semakin cepat mengetahui seseorang terjangkit virus maka semakin cepat pula seseorang ditangani dan diisolasi agar tidak menjangkiti mereka yang sehat.
 
"Agar deteksi dini indikasi awal seseorang terpapar covid-19 bisa dilakukan," kata Presiden Joko Widodo, Kamis, 19 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak 425.000 alat rapid test telah disebar ke sejumlah wilayah di Indonesia. Tes dikhususkan bagi mereka yang kontak dekat dengan pasien terjangkit virus korona, khususnya tenaga medis.
 
"Presiden Joko Widodo menginginkan distribusi alat pelindung diri (APD) dan rapid test atau alat tes cepat virus korona (covid-19) di seluruh provinsi, khususnya provinsi terdampak segera bisa dimanfaatkan," kata Juru Bicara Presiden RI Fadjroel Rachman di Jakarta, Rabu, 25 Maret 2020.
 
DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang diberlakukan rapid test. Uji difokuskan pada wilayah yang rawan penyebaran covid-19, yakni Jakarta Selatan.
 
Pemerintah telah memberikan 100.000 alat rapid test di Ibu Kota Negara. Hasilnya, 121 orang positif terjangkit korona dari 10.459 orang yang telah menjalani uji cepat ini hingga Jumat, 27 Maret 2020.
 
(Baca: Jokowi Mau APD dan Alat Rapid Test Rata Tersebar)
 
Uji cepat dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di lima wilayah di Jakarta serta Kepulauan Seribu. Mereka yang diuji ialah dari hasil tracing.
 
Rapid test massal juga dilaksanakan di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Ini lantaran Jawa Barat menjadi provinsi kedua dengan kasus terbanyak di Tanah Air.
 
Pemkot Bekasi misalnya melaksanakan rapid test massal di Stadion Patriot Chandrabaga, Rabu, 25 Maret 2020. Tes cepat dikhususkan bagi tenaga medis, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Sementara, rapid test bagi warga dilaksanakan secara door to door.
 
Sebanyak 300 orang dinyatakan positif korona dari 22.000 orang yang diuji cepat di Jawa Barat. Kasus terbanyak dari Sukabumi.
 
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) kaget dengan lonjakan kasus di Sukabumi. Namun, dia menyebut pihaknya bakal kembali melakukan tes pada orang-orang dengan hasil positif itu.
 
"Sedang kita teliti kenapa terjadi lonjakan yang sangat besar. Tadinya saya menduga lonjakan ada di Depok atau Bekasi tapi ternyata di Sukabumi," kata Emil, Senin, 30 Maret 2020.
 
(Baca: 300 Orang di Jawa Barat Positif Covid-19 Usai Rapid Test)

Cara Kerja Rapid Test

Rapid test akan melihat kondisi imunoglobulin pada darah seseorang. Keuntungannya, metode ini tidak membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada bio security level 2, sehingga bisa dilaksanakan semua laboratorium kesehatan yang ada di RS-RS di Indonesia.
 
Namun, pemeriksaan ini memiliki kekurangan. Sebab, hanya bisa dilakukan pada seseorang yang sudah terjangkit virus korona selama satu minggu. Bila belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu kemungkinan pembacaan imunoglobulin memberikan hasil negatif.
 
(Baca: Hasil Rapid Test Tak Bisa Jadi Acuan Status Korona)
 
Karena itu, Yurianto menyebut petugas tak langsung percaya bila rapid test seseorang menunjukkan hasil negatif. Pihaknya bakal kembali melakukan uji tujuh hari kemudian dengan metode polymerase chain reaction (PCR), yakni mengambil sampel cairan dari hidung dan tenggorokan.
 
"Jika dalam tujuh hari hasilnya negatif petugas medis akan meyakini kondisi orang tersebut tidak terinfeksi virus," papar Yurianto.
 
Sebelum mengadakan rapid rest, pemeriksaan dilakukan dengan metode swab yakni memeriksa jaringan sel hidung atau tenggorokan. Namun, tes tak bisa dilakukan di seluruh rumah sakit. Hasil tes juga keluar dalam waktu lama.

Mengejar Tes Kit Milik Korea Selatan

Metode ini diadopsi dari Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan mengadakan rapid test dengan alat buatan sendiri.
 
Berbeda dengan Indonesia, alat rapid test Korea Selatan tidak menggunakan sample darah tetapi sudah dengan metode PCR dengan tingkat akurasi lebih tinggi dan dapat keluar hasilnya dengan cepat.
 
Pemerintah Korea Selatan bahkan mengadakan tes dengan metode drive-thru. Pemerintah setempat disebut-sebut telah melaksanakan rapid test pada 300.000 orang.
 
Tes kit buatan Korea Selatan itu kini dicari-cari dunia, termasuk Indonesia, yang menggunakan alat rapid test dari China. Pemerintah Korea Selatan memprioritaskan tiga negara untuk mendapat ekspor tes kit, yakni Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Korea Selatan memilih Indonesia karena negara mitra utama untuk Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southern Policy) yang bertujuan meningkatkan hubungan dengan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.
 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif