NEWSTICKER
Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Hasil Rapid Test Tak Bisa Jadi Acuan Status Korona

Nasional Virus Korona
Candra Yuri Nuralam • 26 Maret 2020 01:02
Jakarta: Hasil rapid test atau tes cepat tidak bisa menjadi acuan orang tersebut terjangkit virus korona (covid-19). Ada banyak proses yang harus dilalui masyarakat saat mengikuti rapid test.
 
"Rapid test kita berbasis pada respon imunologis seseorang, virus jika masuk ke tubuh kita akan bentuk antibodi, ini yang diukur dan dideteksi oleh alat," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19, Achmad Yurianto di Gedung Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu, 25 Maret 2020.
 
Menurut Yuri, jika hasil dari tes cepat itu menunjukkan positif artinya tubuh orang tersebut pernah diinfeksi oleh virus tersebut. Namun, hasil negatif juga tidak bisa menjamin bahwa orang tersebut tidak terjangkit virus tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jika negatif tidak ada jaminan dia tidak terinfeksi virus, bisa saja sudah terinfeksi tapi antibodinya belum terbentuk. Pembentukan antibodi itu enam sampai tujuh hari. Jika belum segitu akan negatif," ujar Yuri.
 
Baca: Rincian Pemangkasan Anggaran untuk Penanggulangan Korona
 
Petugas yang memeriksa akan menanyakan ke orang yang negatif terkait keluhan dalam tubuhnya. Jika tidak ada keluhan petugas medis akan meminta orang tersebut untuk melakukan jaga jarak sosial atau social distancing terhadap orang-orang dengan cara melakukan isolasi diri.
 
Namun, dalam tujuh hari akan dicek kembali. "Jika setelah tujuh hari hasilnya kita gunakan pemeriksaan antigen dengan real time PCR," ujar Yuri.
 
Jika dalam tujuh hari hasilnya negatif maka bisa dipastikan kondisi orang tersebut tidak terinfeksi virus. Sebab, tujuh hari merupakan batas maksimal lamanya pembentukan antibodi untuk melawan virus.
 
Meski demikian petugas medis tetap akan menanyakan keluhan dari orang tersebut meski diyakini negatif. Orang itu tetap akan diminta untuk melakukan karantina sendiri di rumah dan menjaga jarak dengan siapa pun.
 
"Jika tidak ada keluhan atau keluhan minimal kita akan sarankan karantina di rumah bukan di rumah sakit dengan menggunakan masker 14 hari, dan jaga jarak oleh seluruh anggota rumah, alat makan sendiri terpisah, rajin cuci tangan dengan sabun, dan pola hidup bersih dan sehat," ujar Yuri.
 
Hasil <i>Rapid Test</i> Tak Bisa Jadi Acuan Status Korona
Ilustrasi Medcom.id
 
Selama 14 hari itu petugas medis tetap akan melakukan monitoring terhadap orang tersebut. Hasil dari monitor itu akan dikirimkan ke dinas kesehatan setempat.
 
Namun, jika hasil pemeriksaan dengan PCR menunjukkan positif, petugas medis akan melakukan tindakan. Tindakan yang diambil adalah dengan menentukan orang tersebut bisa melakukan isolasi secara mandiri atau harus dikirim ke rumah sakit.
 
"Jika positif PCR dan diyakini tidak bisa isolasi diri di rumah karena gejala batuk, panas, dan sesak, atau kita temukan faktor penyakit lain, misalnya hipertensi, ada beberapa hotel, wisma atlet untuk kepentingan ini," kata Yuri.
 
Penentuan rumah sakit untuk karantina pun ditentukan di situ. Jika sakit dari pasien itu tergolong kasus sedang, petugas medis bakal membawanya ke rumah sakit darurat.
 
Namun, jika termasuk kasus berat, petugas medis akan membawanya ke rumah sakit rujukan untuk penanganan lebih lanjut. "Di sana tentunya akan lebih intensif perawatannya," kata Yuri.
 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif