Jakarta: Semua yang bernyawa pasti memiliki ‘tenggat waktu’ untuk hidup di dunia. Namun, banyak orang menganggap umat muslim yang meninggal di bulan suci Ramadan istimewa atau dijamin masuk surga. Apakah benar?
Anggapan tersebut kerap muncul karena Ramadan dikenal sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Selama Ramadan, sebuah hadis juga menyebutkan bahwa pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu-pintu neraka ditutup.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Apabila telah datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan para syetan dibelenggu.” (HR Muslim). (Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, juz II, halaman 1079).
Lantas apakah benar umat muslim yang meninggal di bulan suci Ramadan dijamin masuk surga?
Melansir NU Online, ditegaskan bahwa waktu kematian seseorang, termasuk di bulan Ramadan, tidak bisa dijadikan ukuran pasti bahwa ia akan masuk surga. Masuk surga pada hakikatnya bergantung pada rahmat Allah dan amal saleh yang dilakukan seseorang selama hidupnya.
Dalam sebuah fatwa Syekh Nur Ali Salman yang dikeluarkan oleh Dairatul Ifta Yordania di website resminya, aliftaa.jo menyatakan:
فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِفَضْلِ اللَّهِ، وَسَبَبُهُ الْعَمَلُ الصَّالِحُ، وَرَمَضَانُ مَوْسِمٌ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ. وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ مَنْ مَاتَ فِيْ رَمَضَانَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِسَبَبِ الْعَمَلِ كَمَا ذَكَرْتُ
Artinya: "Masuk surga itu karena anugerah Allah, dan sebabnya karena amal saleh. Bulan Ramadhan menjadi waktu untuk beramal saleh. Tapi bukanlah maknanya siapa saja yang wafat di bulan Ramadhan akan masuk surga. Masuk surga itu karena sebab amal seperti yang telah kusebutkan.” (Dairatul Ifta, Fatwa Nomor 2322)
Orang yang Meninggal saat Berpuasa
Sementara itu, orang yang meninggal dalam kondisi puasa (baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan) dijamin masuk surga. Dari Hudzaifah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya: “Siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan ditutup hayatnya dengan kalimat ini pasti ia masuk surga. Siapa puasa satu hari mengharap wajah Allah, meninggal dalam kondisi puasa, pasti ia masuk surga. Siapa bersedekah mencari wajah Allah dan meninggal di atasnya, pasti ia masuk surga.” (HR. Ahmad. Dihassankan Al-Haitsami di Majma’ al-Zawaid, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di Ahkam al-Janaiz)
Jakarta: Semua yang bernyawa pasti memiliki ‘tenggat waktu’ untuk hidup di dunia. Namun, banyak orang menganggap umat muslim yang meninggal di bulan suci
Ramadan istimewa atau dijamin masuk surga. Apakah benar?
Anggapan tersebut kerap muncul karena Ramadan dikenal sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Selama Ramadan, sebuah hadis juga menyebutkan bahwa pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu-pintu neraka ditutup.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Apabila telah datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan para syetan dibelenggu.” (HR Muslim). (Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, juz II, halaman 1079).
Lantas apakah benar umat muslim yang meninggal di bulan suci Ramadan dijamin masuk surga?
Melansir
NU Online, ditegaskan bahwa waktu kematian seseorang, termasuk di bulan Ramadan, tidak bisa dijadikan ukuran pasti bahwa ia akan masuk surga. Masuk surga pada hakikatnya bergantung pada rahmat Allah dan amal saleh yang dilakukan seseorang selama hidupnya.
Dalam sebuah fatwa Syekh Nur Ali Salman yang dikeluarkan oleh Dairatul Ifta Yordania di website resminya, aliftaa.jo menyatakan:
فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِفَضْلِ اللَّهِ، وَسَبَبُهُ الْعَمَلُ الصَّالِحُ، وَرَمَضَانُ مَوْسِمٌ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ. وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ مَنْ مَاتَ فِيْ رَمَضَانَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِسَبَبِ الْعَمَلِ كَمَا ذَكَرْتُ
Artinya: "Masuk surga itu karena anugerah Allah, dan sebabnya karena amal saleh. Bulan Ramadhan menjadi waktu untuk beramal saleh. Tapi bukanlah maknanya siapa saja yang wafat di bulan Ramadhan akan masuk surga. Masuk surga itu karena sebab amal seperti yang telah kusebutkan.” (Dairatul Ifta, Fatwa Nomor 2322)
Orang yang Meninggal saat Berpuasa
Sementara itu, orang yang meninggal dalam kondisi puasa (baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan) dijamin masuk surga. Dari Hudzaifah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya: “Siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan ditutup hayatnya dengan kalimat ini pasti ia masuk surga. Siapa puasa satu hari mengharap wajah Allah, meninggal dalam kondisi puasa, pasti ia masuk surga. Siapa bersedekah mencari wajah Allah dan meninggal di atasnya, pasti ia masuk surga.” (HR. Ahmad. Dihassankan Al-Haitsami di Majma’ al-Zawaid, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di Ahkam al-Janaiz)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)