Shirley menganalogikan perjuangan perempuan layaknya sebuah tunas yang jatuh di antara bebatuan. Persis seperti permjuangan Kartini yang terhimpit batasan norma pada zamannya, tunas tersebut harus mampu menembus kerasnya bebatuan untuk bisa tumbuh dan memberikan dampak.
“Keywordnya satu yang resonate banget ke aku adalah resilience ya. Jadi bagaimana kita tetap mencoba grow dan bertahan hidup satu hal, tapi kita juga harus tetap grow dan membuat impact,” ujar Shirley, Jumat, 24 April 2026.
Menurut Shirley, resilience adalah spirit yang selalu relevan. Mulai dari era Kartini, generasi milenial, hingga Gen Z saat ini. Ketangguhan ini menjadi pelindung agar perempuan tidak tergerus oleh perubahan zaman maupun teknologi.
"Jangan sampai kita mati digerus teknologi atau AI. Semua itu harus jadi pendukung, tapi intinya ada pada kita untuk terus bertahan, tumbuh, dan memberikan impact buat masyarakat atau orang di sekitar kita," ujar Shirley.
| Baca juga: Shirley Tangkilisan: Emansipasi Kian Nyata, Perempuan Kini Dominasi Posisi Strategis di Perusahaan |
Kesenjangan vs Tantangan Global
Berbicara mengenai tantangan di dunia profesional, Shirley mengakui bahwa hambatan bagi perempuan memang nyata. Namun, ia juga memberikan perspektif menarik mengenai tantangan di era sekarang yang bersifat lintas gender (cross-gender)."Dulu memang ada kesenjangan, ada norma tertentu yang membatasi perempuan berkarir. Tapi sekarang, laki-laki pun mengalami perjuangan yang sama untuk mencapai sebuah posisi. Jadi, kalau soal level up, itu sudah lintas gender," ungkapnya.
Perbedaan utamanya, kata Shirley, terletak pada cara berekspresi. Perempuan cenderung lebih sensitif dan terbuka dalam menghadapi tantangan, sementara laki-laki sering kali terbebani oleh ego dan maskulinitas yang membuat mereka menahan diri.
| Baca juga: Bukan Sekadar Perintah, Ini Cara Efektif Memimpin Generasi Z |
Sebagai pimpinan di perusahaan Public Relations (PR), Shirley menghadapi fenomena unik terkait kesetaraan gender. Jika di industri lain perempuan berjuang untuk masuk, di dunia PR justru perempuan sangat dominan.
"PR adalah lahan yang sangat akrab bagi perempuan. Tantangannya sekarang justru mencari laki-laki di bidang PR," kata Shirley.
Demi menjaga objektivitas dan kualitas kerja tim, Shirley bahkan sempat memiliki target khusus untuk merekrut lebih banyak karyawan laki-laki. Baginya, emansipasi dan kesetaraan bukan soal mendominasi satu sama lain, melainkan tentang menciptakan keseimbangan sudut pandang di dalam tim.
"Sangat penting untuk memiliki sudut pandang yang berbeda dalam sebuah tim komunikasi. Itulah kunci untuk terus tumbuh dan memberikan dampak yang luas," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News