Shirley Tangkilisan, Managing Director Burson Indonesia, mengungkapkan bahwa kepemimpinan kini harus lebih bersifat "mengajak" daripada "menyuruh", sebuah esensi yang sejalan dengan semangat emansipasi yang inklusif.
Mengenang masa awal kariernya, Shirley menceritakan betapa berbedanya cara kerja dahulu ketika instruksi bersifat top-down. Namun, di era di mana informasi bisa diakses siapa saja melalui satu klik, pola tersebut sudah tidak relevan lagi.
"Dulu, kalau pimpinan bilang A, semua akan jadi A. Sekarang, leader harus punya visi, tapi cara menuju ke sana harus didiskusikan bersama. Apa yang berhasil bagi saya, belum tentu nyaman atau memberikan hasil terbaik bagi rekan kerja lain," ungkap Shirley.
Bagi Shirley, memimpin Gen Z adalah tentang "bergandengan tangan". Ia percaya bahwa pemimpin masa kini harus mampu mengajak timnya berdiskusi karena setiap individu kini memiliki referensi dunia luar yang sangat luas.
| Baca juga: Shirley Tangkilisan: Emansipasi Kian Nyata, Perempuan Kini Dominasi Posisi Strategis di Perusahaan |
Keberanian Gen Z: Kreativitas dan Globalisasi Informasi
Menanggapi karakter Gen Z yang kini mendominasi dunia kerja, Shirley melihat kekuatan besar pada keberanian mereka untuk bersuara (speak up). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung lebih kaku, Gen Z dinilai lebih cair dan memiliki referensi global berkat media sosial."Mereka tidak takut bicara dan sangat kreatif karena referensinya luas. Jika dulu kita harus ke toko buku untuk mencari informasi, sekarang mereka bisa mendapatkan ringkasan informasi hanya dalam 10 detik," jelasnya.
Kendati demikian, Shirley juga memberikan catatan penting. Kecepatan Gen Z dalam menyerap informasi terkadang perlu diseimbangkan dengan kedalaman berpikir.
| Baca juga: Apa Itu Quiet Quitting? Fenomena yang Bikin Karyawan 'Berhenti Diam-Diam' |
Sebagai pemimpin, Shirley sering menantang tim juniornya untuk menjelaskan alur berpikir (thinking flow) di balik ide-ide kreatif mereka agar hasil yang dicapai lebih matang dan memiliki landasan yang kuat.
Di akhir pembicaraan, Shirley menekankan bahwa kunci dari harmoni antar-generasi di tempat kerja adalah saling menghormati dan tidak merasa paling benar. Semangat Kartini tentang kemajuan bangsa hanya bisa dicapai jika setiap generasi bersedia belajar satu sama lain.
"Regenerasi itu artinya saling mengisi. Generasi baru mengambil intisari dari pengalaman seniornya, sementara kami yang lebih senior juga harus belajar mengadaptasi era yang baru. Kita harus meng-embrace perubahan, bukan menutup diri," pungkas Shirley.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News