Jutaan pekerja di seluruh dunia mengalaminya, namun banyak yang tak menyadari bahwa mereka sedang berada di dalamnya. Quiet quitting bukan soal kemalasan, melainkan soal sistem yang menguras tanpa pernah mengisi kembali.
Kondisi ini tidak mengenal batas usia atau jabatan karena siapa pun bisa terjebak di dalamnya. Dari staf baru hingga manajer senior, semua rentan saat penghargaan tak lagi sebanding dengan pengorbanan.
Memahami quiet quitting bukan pilihan, melainkan keharusan bagi siapa pun yang peduli pada kesehatan dunia kerja. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk membaliknya sebelum terlambat.
Lantas, apa sebenarnya fenomena quite quitting? Simak penjelasannya berikut ini yang dikutip dari unggahan Instagram @kemnaker:
Apa Itu Fenomena Quiet Quitting?
Namanya memang terdengar dramatis,"berhenti diam-diam”. Namun, kenyataannya jauh lebih halus dan jauh lebih umum dari yang banyak orang kira.Secara sederhana, quiet quitting adalah bukan berarti seorang karyawan benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya. Istilah ini merujuk pada kondisi psikologis saat seseorang memilih untuk hanya mengerjakan apa yang secara spesifik diminta, tidak lebih, tidak kurang.
Tidak ada lembur sukarela, tidak ada ide yang dilontarkan di luar rapat, tidak ada semangat untuk berkontribusi melampaui deskripsi pekerjaan yang tertulis di kontrak.Yang membuat fenomena ini penting untuk dipahami bersama adalah karena ia bukan soal karakter yang buruk.
Quiet quitting hampir selalu merupakan respons terhadap sesuatu, seperti kelelahan yang menumpuk, apresiasi yang tak kunjung datang, atau lingkungan kerja yang terus mengambil tanpa pernah memberi balik. Dalam banyak kasus, ini adalah cara pekerja bertahan agar tidak benar-benar hancur.
Penting juga untuk dicatat bahwa quiet quitting bukan fenomena eksklusif satu generasi. Meski kerap dikaitkan dengan Generasi Z dan milenial yang dianggap tidak tahan banting, kondisi ini sesungguhnya dapat menjangkiti siapa saja seperti karyawan baru hingga profesional berpengalaman.
Tanpa disadari, mereka pernah berada di titik di mana bertahan terasa lebih masuk akal daripada pergi, namun pergi pun terasa terlalu berat untuk dilakukan.
Tanda-Tanda Saat Seseorang Mulai Lepas
Terdapat beberapa tanda peringatan yang menunjukkan seseorang sedang berada di fase ini, di antaranya:1. Kualitas seadanya
Pekerjaan diselesaikan tepat waktu, namun hanya sekadar memenuhi syarat tanpa ada nilai tambah atau kreativitas.2. Respons terbatas
Komunikasi dalam grup atau pesan singkat dibalas seperlunya saja tanpa ada inisiatif untuk berinteraksi lebih jauh.3. Alergi tugas tambahan
Permintaan untuk mengerjakan hal di luar deskripsi pekerjaan utama akan dirasakan sebagai beban yang sangat menyesakkan.4. Prinsip "yang penting beres"
Memiliki pola pikir bahwa yang terpenting adalah tugas selesai, terlepas dari bagaimana dampaknya bagi perkembangan karier.Mengapa Masalahnya Bukan Cuma di Kamu?
Sering kali lingkungan sekitar dengan mudah melabeli pekerja saat ini sebagai generasi yang "lembek" atau tidak tahan banting. Namun, kenyataannya Quiet Quitting sering kali merupakan reaksi terhadap sistem yang bermasalah, seperti:1. Ketidakjelasan arah
Pekerjaan yang tidak memiliki tujuan atau roadmap yang pasti.2. Minim Apresiasi
Usaha keras yang dilakukan sering kali tidak terlihat atau tidak dihargai oleh lingkungan sekitar.3. Dukungan yang Rendah
Atasan yang jarang memberikan bantuan atau bimbingan saat karyawan mengalami kendala.4. Batas yang Kabur
Hidup pribadi dan urusan kantor yang terus bercampur aduk tanpa adanya sekat yang sehat.Langkah yang Dapat Dilakukan
Untuk keluar dari jebakan fenomena ini, diperlukan kerja sama dua arah yang saling mendukung:Untuk Pekerja: Cobalah untuk merapikan kembali skala prioritas, komunikasikan batasan yang sehat kepada rekan kerja, dan jangan ragu untuk meminta arahan yang lebih jelas jika merasa tersesat.
Untuk Atasan: Berikan penjelasan tujuan yang lebih transparan, luangkan waktu untuk memberikan feedback positif, dan pastikan tidak ada anggota tim yang merasa berjuang sendirian.
Pada akhirnya, quiet quitting adalah pengingat bahwa keseimbangan adalah kunci. Pekerjaan memang penting, namun kesehatan mental dan menghargai diri sendiri jauh lebih utama agar profesionalisme tidak sekadar menjadi rutinitas di balik meja kerja. (Talitha Islamey)
Baca Juga :
Seleksi PNS Tenaga Kependidikan SMA Unggul Garuda Baru, Intip Syarat, Formasi, Jadwal, dan Cara Daftarnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News