Label Bapak Reformasi Amien Rais Dipertanyakan

M Sholahadhin Azhar 01 Desember 2018 12:17 WIB
amien rais
Label Bapak Reformasi Amien Rais Dipertanyakan
Politikus PAN Amien Rais (tengah). Foto: Medcom.id/Dheri Agriesta.
Jakarta: Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Hasto Kristiyanto mempertanyakan, penyematan gelar bapak reformasi oleh publik kepada Amien Rais. Sebab Amien tidak bergeming saat Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah, menyebut Presiden Soeharto sebagai 'guru korupsi'.

"Kalau beliau mau menggunakan hati nurani dan pikirannya, tentu saja akan berpihak pada Pak Ahmad Basarah. Kecuali sudah berubah. Kecuali masih mendukung nepotisme," kata Hasto di Jakarta Pusat, Sabtu, 1 Desember 2018.

Menurutnya, julukan bapak reformasi seharusnya konsisten diamalkan Amien Rais. Sebab, Amien juga berperan menggulingkan pemerintahan 32 tahum Presiden Soeharto.


Sikap Amien yang sekarang ini, kata Hasto, terkesan tak mengemban lagi gelar bapak reformasi. Bahkan semakin parah, karena kepentingan politis sangat kentara.

"Saya pikir Pak Amien Rais pun, ya kalau beliau menggunakan hati nurani dan pikiran nurani yang jernih melihat Pak Harto sebagai simbol sebagai induk dari korupsi," kata Hasto.

Baca: PDIP Pasang Badan Buat Basarah

Ia menyebut, semua pihak memahami bagaimana zaman Soeharto korupsi begitu marak. Kondisi zaman itu, telah menjadi bahan penelitian dari studi yang mendalami korupsi. Banyak akademisi menjadikan era Soeharto contoh keterpurukan pengelolaan regulasi dan perilaku koruptif.

"Banyak penggiat korupsi, bahkan berbagai dokumen-dokumen ketika Tap MPR untuk mengusut seluruh kekayaan Pak Harto dan kroninya," kata Hasto.

Sisi lain, ia menyebut ada hikmah yang bisa dipetik dari pernyataan Basarah. Yakni sebagai momentum bagi para pemimpin atau calon pemimpin untuk berkomitmen menyejahterakan rakyat.

Baca: Berkarya akan Memolisikan Ahmad Basarah

Jangan sampai, kata Hasto, Indonesia yang sekarang mengulangi sikap eksklusif elite seperti era Soeharto. Keterbukaan dan transparansi sangat minim, sehingga korupsi semakin subur.

"Saatnya juga membuka harta kekayaannya dari mana asalnya, Pak Prabowo berapa triliun kekayaannya itu dari mana beliau. Nah, ini menjadi momentum dengan (rencana) gugatan dari Partai Berkarya itu," tandasnya.



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id