Mahasiswa Harus Kritis untuk Tangkal Radikalisme
Ilustrasi - Medcom.id/ M Rizal
Jakarta: Direktur Wahid Foundation Yeni Wahid mengungkapkan daya kritis yang melekat dalam diri mahasiswa perlu ditingkatkan dalam menangkal paham radikalisme di ranah kampus. Daya kritis mahasiswa diperlukan dalam memilah informasi secara berimbang dan utuh.

"Mereka harus tahu yang sedang dikaji itu apa, informasi yang sedang digali itu apa. Lalu bandingkan dengan kajian-kajian serta informasi lainnya. Jadi enggak setengah-setengah, itu yang bahaya," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Melawan Teror: Dari Kampus Menyebar Damai' di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu, 23 Mei 2018. 

Dirinya menilai, di era banjir informasi saat ini memang rentan dijadikan alat dalam penyebaran isu intoleransi yang menjadi pangkal radikalisme. Hoaks dan ujaran kebencian dijadikan penggerak intoleransi dan disebarkan begitu cepat melalui konten-konten media sosial.


Sifat karakter mahasiswa yang cenderung sedang mencari jati diri memang dinilainya sangat rentan untuk terpapar. Oleh karena itu, memahami secara utuh sebuah informasi dapat dijadikan cara bagi mahasiswa untuk melihat suatu fenomena dengan lebih komperhensif.

Baca: Jokowi Mau Lembaga Pendidikan Bersih dari Ideologi Terorisme

"Jadi, saya berharap kampus mampu mengkonter paham-paham radikalisme lewat daya kritis mahasiswa dalam mencerna baik itu informasi atau ilmu-ilmu yang tengah ia geluti," ujarnya.

Senada dengan Yeni, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghozali mengungkapkan radikalisme di kampus muncul dikarenakan banyaknya mahasiswa yang ingin belajar ilmu keagamaan secara instan.

Padahal dalam mempelajari suatu ilmu khususnya tentang agama perlu adanya ketekunan serta waktu agar mampu mencernanya dengan utuh. Dirinya pun menekankan agar mahasiswa tidak secara mentah mencerna sebuah informasi yang mengarah kepada tindakan ujaran kebencian di media sosial atau forum-forum kajian. Pasalnya, informasi ujaran kebencian tidak memiliki rgumentasi-argumentasi yang tidak sejalan dengan Islam.

"Kelompok-kelompok yang ingin belajar agama secara instan malah sangat rentan terpapar karena hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Di situ sebenarnya pangkalnya. Mereka itu keliru membaca Alquran, hadis, dan sejarah Islam," ungkapnya.

Baca: Ideologi Terorisme Sudah Masuk ke Sekolah dan Keluarga

Di sisi lain, Direktur Regional Multirateral Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Andhika Chrisna mengklaim, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan seluruh kementrian dan lembaga dalam upaya menangkal radikalisme. Hal tersebut mengacu kepada Keputusan Menko Polhukam Nomor 77 Tahun 2016 tentang Pelibatan Kementerian Lembaga Negara dalam Penanggulangan Terorisme.

Dalam lingkup pendidikan tinggi dirinya mengungkapkan diperlukan kerja sama berbagai pihak, baik kalangan kampus maupun mahasiswa dengan menginformasikan aktivitas yang dianggap mencurigakan.

"Kita sudah melakukan kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan juga secara langsung bekerjasama juga rektor-rektor kampus. Jadi ada semacam MoU, dan memang radikalisme dikalangan mahasiswa itu rawan" ujarnya. (Media Indonesia/Nurjiyanto)





(DMR)