Hendardi: Reuni 212 Dijadikan Arena Baru Politik
Ketua Setara Institute Hendardi/MI/Rommy Pujianto
Jakarta: Reuni 212 jelas gerakan politik. Ketua Setara Institute Hendardi menyebut itu terbukti dari gerakan yang awalnya digagas elite Islam pada 2016 diulangi pada 2017.

"Sebagai sebuah gerakan politik maka kontinuitas gerakan ini menjadi arena politik baru yang akan terus dibangkitkan," tegas Hendardi melalui keterangan tertulis, Jumat, 30 November 2018.

Gerakan itu, terang dia, terus dilakukan bersamaan dengan agenda politik formal jelang Pilprs 2019. Mereka menarget ruang publik demi menaikkan daya tawar politik kepada pemburu kekuasaan. Kelompok politik yang sedang memerintah pun menjadi target elite 212.


Menurut Hendardi, reuni 212 tak memiliki tujuan jelas. Terutama dalam mewujudkan cita-cita nasional.

Baca: Reuni 212 akan Digelar di Monas

Hendardi menyesalkan penggunaan pranata dan instrumen Islam yang justru memperburuk kualitas keagamaan di Indonesia. Apa pun alasannya, populisme agama sesungguhnya menghilangkan rasionalitas umat dalam beragama.

"Juga menghilangkan rasionalitas warga dalam menjalankan hak politiknya," tegas dia.

Di sisi lain, Hendardi memandang gerakan ini mulai kehilangan dukungan dalam dua tahun belakangan. Masyarakat dinilai mulai menjauhi praktik politisasi identitas agama demi meraup dukungan politik.

Baca:  Anies Izinkan Reuni 212 Digelar di Monas

Mereka juga ogah menjadi alat pihak tertentu menundukkan lawan politiknya. Warga pun semakin sadar dan cerdas melihat gerakan yang justru membahayakan persatuan.

"Jadi, kecuali untuk kepentingan elite 212, gerakan ini sebenarnya tidak ada relevansinya menjawab tantangan kebangsaan dan kenegaraan kita," ucap Hendardi.

Aroma politik juga dicium Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arsul Sani. Ia menyebut arah dukungan massa sudah jelas.

Baca: Reuni 212 Diyakini Tak Gerus Elektabilitas Jokowi

Aksi tersebut dianggap berbeda dengan derakan 212 pada 2016. Saat itu, gerakan diinisiasi elite 212 sebagai reaksi pernyataan eks Gubernur DKI Basuk 'Ahok' Tjahaja Purnama terkait Surat Al-Maidah ayat 51.

"Kalau ini kan warna politisnya kental banget. Kalau waktu soal Ahok itu memang ketersinggungan agama, akidah. Itulah yang mendominasi," ujar Arsul di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 28 November 2018.

Reuni akbar 212 bakal digelar di halaman Monumen Nasional (Monas), Minggu, 2 Desember 2018. Kegiatan ini diklaim tak jauh berbeda dengan gerakan serupa pada 2016.

"Insyaallah kita silaturahim lagi, kita akan tausiah, zikir, sekaligus memperingati Maulid Nabi di hari Ahad bulan Desember tanggal 2," kata Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma'arif di Gedung Kemenko Polhukam, Jumat, 9 Oktober 2018.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id