Jakarta: Menstruasi berkaitan dengan martabat, akses fasilitas, serta kesejahteraan jangka panjang remaja perempuan. Permasalahan ini menjadi semakin serius bagi mereka yang tinggal di kawasan dengan akses kesehatan kurang memadai, di bantaran sungai yang tercemar, atau wilayah pedesaan dengan infrastruktur sanitasi dan kebersihan terbatas.
Ketiadaan akses membuat sejumlah remaja perempuan terpaksa menggunakan kain bekas tanpa proses pembersihan yang steril. Alternatif tidak aman ini meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi secara signifikan.
Beban ekonomi untuk membeli produk sanitasi layak pun memperparah keterpinggiran ekonomi keluarga kurang mampu. Data dari UNESCO menyebutkan bahwa keterbatasan akses terhadap kebutuhan menstruasi (kemiskinan periode/period poverty) menjadi salah satu pemicu utama jutaan remaja perempuan di seluruh dunia terpaksa putus sekolah.
Di Indonesia sendiri, isu menstruasi masih diselimuti keheningan dan stigma sosial. Berdasarkan data, satu dari empat anak perempuan mengalami menarke (menstruasi pertama) tanpa memiliki pengetahuan dasar sebelumnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Lewat Inisiatif 'HER WAY'
Kick-off meeting program HER WAY atau SEKAR di Kabupaten Bandung pada 6 November 2025.
Merespons situasi tersebut, peningkatan kesehatan perempuan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendistribusikan produk sanitasi, melainkan membutuhkan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.
Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi antara Kimberly-Clark Softex, Project HOPE, dan RISE Foundation lewat keberlanjutan program HER WAY (Healthy, Educated, and Resilient Wellbeing for Every Adolescent Girl and Young Woman).
Program berbasis siklus kehidupan ini dirancang untuk mendampingi perempuan pada fase-fase krusial, mulai dari masa pubertas, remaja, hingga fase awal menjadi ibu. Inisiatif ini juga diselaraskan dengan prioritas kesehatan nasional Indonesia yang menitikberatkan pada pemberdayaan remaja, kesehatan ibu, serta kesejahteraan keluarga.
“Kami juga memberikan donasi produk, termasuk popok Sweety dan pembalut Softex, kepada komunitas melalui Yayasan Project HOPE,” ujar Febrina Herlambang, Head of Communications and Corporate Affairs Kimberly-Clark Softex Indonesia.
Pada tahun ini, program HER WAY mengusung sub-tema Dignity for Every Mother. Fokusnya adalah membangun ruang aman bagi para perempuan untuk saling berbagi pengalaman, mengakses informasi medis terpercaya melalui kelas persiapan ibu, serta memperkuat jaringan dukungan komunitas lintas generasi.
“Kami yakin bahwa edukasi yang lebih baik, kemudahan akses terhadap fasilitas sanitasi, serta pemberdayaan masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan suportif,” kata Laura Brye, Senior Program Specialist, Global Health Asia Region, Project HOPE.
Sesi Ibu di Puskesmas Pakujaya, Tangerang.
MENSTRU-WISE: Memutus Rantai Stigma Horisontal
Tahun ini juga ditandai dengan peluncuran kampanye MENSTRU-WISE (Smart About Period, Wise About Health). Kampanye ini berupaya mendorong remaja perempuan agar lebih mengenali anatomi tubuh sendiri, mendeteksi gejala awal gangguan hormonal, serta berani mengambil keputusan medis yang tepat.
Sering kali, masalah ketidakteraturan siklus, kesehatan hormonal, dan beban emosional saat menstruasi diabaikan karena adanya tabu sosial untuk mendiskusikannya secara terbuka.
Fannie Zhang, President Director Kimberly-Clark Softex Indonesia, menegaskan bahwa kesehatan menstruasi adalah bagian integral dari kesehatan universal.
"Melalui edukasi berkesinambungan, kami berkomitmen untuk membantu menghilangkan stigma negatif serta memastikan hak setiap perempuan terhadap pengetahuan dan layanan kesehatan yang layak dapat terpenuhi,” ujarnya.
Program Health Heroes Goes to School di 14 Sekolah Menengah Atas di Tangerang.
Program HER WAY sendiri diproyeksikan mampu menjangkau hingga 220.000 remaja perempuan di Indonesia melalui kombinasi kampanye digital, edukasi tatap muka di sekolah, dan penguatan basis komunitas.
Proyeksi jangka panjang selama dua tahun ke depan juga ditargetkan dapat memberikan dampak positif bagi lebih dari satu juta perempuan. Intervensi ini difokuskan di beberapa wilayah urban dan sub-urban utama, seperti Tangerang, Bandung, Sidoarjo, dan Banyuwangi.
Berbeda dengan program kesehatan konvensional, RISE Foundation memosisikan generasi muda bukan sekadar sebagai objek penerima bantuan, melainkan sebagai aktor penggerak utama (agents of change).
Melalui pendekatan peer-to-peer dalam program Heroes Goes to School and Community, para remaja dilatih untuk mengedukasi teman sebaya mereka. Ekosistem ini juga diperkuat dengan melibatkan tenaga pendidik di sekolah guna memastikan literasi kesehatan reproduksi dapat berjalan secara ilmiah, sehat, dan bebas dari penghakiman sosial.
Jakarta:
Menstruasi berkaitan dengan martabat, akses fasilitas, serta kesejahteraan jangka panjang remaja perempuan. Permasalahan ini menjadi semakin serius bagi mereka yang tinggal di kawasan dengan akses kesehatan kurang memadai, di bantaran sungai yang tercemar, atau wilayah pedesaan dengan infrastruktur sanitasi dan kebersihan terbatas.
Ketiadaan akses membuat sejumlah remaja perempuan terpaksa menggunakan kain bekas tanpa proses pembersihan yang steril. Alternatif tidak aman ini meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi secara signifikan.
Beban ekonomi untuk membeli produk sanitasi layak pun memperparah keterpinggiran ekonomi keluarga kurang mampu. Data dari UNESCO menyebutkan bahwa keterbatasan akses terhadap kebutuhan menstruasi (kemiskinan periode/period poverty) menjadi salah satu pemicu utama jutaan remaja perempuan di seluruh dunia terpaksa putus sekolah.
Di Indonesia sendiri, isu menstruasi masih diselimuti keheningan dan stigma sosial. Berdasarkan data, satu dari empat anak perempuan mengalami menarke (menstruasi pertama) tanpa memiliki pengetahuan dasar sebelumnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Lewat Inisiatif 'HER WAY'
Kick-off meeting program HER WAY atau SEKAR di Kabupaten Bandung pada 6 November 2025.
Merespons situasi tersebut, peningkatan kesehatan perempuan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendistribusikan produk sanitasi, melainkan membutuhkan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.
Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi antara Kimberly-Clark Softex, Project HOPE, dan RISE Foundation lewat keberlanjutan program HER WAY (Healthy, Educated, and Resilient Wellbeing for Every Adolescent Girl and Young Woman).
Program berbasis siklus kehidupan ini dirancang untuk mendampingi perempuan pada fase-fase krusial, mulai dari masa pubertas, remaja, hingga fase awal menjadi ibu. Inisiatif ini juga diselaraskan dengan prioritas kesehatan nasional Indonesia yang menitikberatkan pada pemberdayaan remaja, kesehatan ibu, serta kesejahteraan keluarga.
“Kami juga memberikan donasi produk, termasuk popok Sweety dan pembalut Softex, kepada komunitas melalui Yayasan Project HOPE,” ujar Febrina Herlambang, Head of Communications and Corporate Affairs Kimberly-Clark Softex Indonesia.
Pada tahun ini, program HER WAY mengusung sub-tema Dignity for Every Mother. Fokusnya adalah membangun ruang aman bagi para perempuan untuk saling berbagi pengalaman, mengakses informasi medis terpercaya melalui kelas persiapan ibu, serta memperkuat jaringan dukungan komunitas lintas generasi.
“Kami yakin bahwa edukasi yang lebih baik, kemudahan akses terhadap fasilitas sanitasi, serta pemberdayaan masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan suportif,” kata Laura Brye, Senior Program Specialist, Global Health Asia Region, Project HOPE.
Sesi Ibu di Puskesmas Pakujaya, Tangerang.
MENSTRU-WISE: Memutus Rantai Stigma Horisontal
Tahun ini juga ditandai dengan peluncuran kampanye MENSTRU-WISE (Smart About Period, Wise About Health). Kampanye ini berupaya mendorong remaja perempuan agar lebih mengenali anatomi tubuh sendiri, mendeteksi gejala awal gangguan hormonal, serta berani mengambil keputusan medis yang tepat.
Sering kali, masalah ketidakteraturan siklus, kesehatan hormonal, dan beban emosional saat menstruasi diabaikan karena adanya tabu sosial untuk mendiskusikannya secara terbuka.
Fannie Zhang, President Director Kimberly-Clark Softex Indonesia, menegaskan bahwa kesehatan menstruasi adalah bagian integral dari kesehatan universal.
"Melalui edukasi berkesinambungan, kami berkomitmen untuk membantu menghilangkan stigma negatif serta memastikan hak setiap perempuan terhadap pengetahuan dan layanan kesehatan yang layak dapat terpenuhi,” ujarnya.
Program Health Heroes Goes to School di 14 Sekolah Menengah Atas di Tangerang.
Program HER WAY sendiri diproyeksikan mampu menjangkau hingga 220.000 remaja perempuan di Indonesia melalui kombinasi kampanye digital, edukasi tatap muka di sekolah, dan penguatan basis komunitas.
Proyeksi jangka panjang selama dua tahun ke depan juga ditargetkan dapat memberikan dampak positif bagi lebih dari satu juta perempuan. Intervensi ini difokuskan di beberapa wilayah urban dan sub-urban utama, seperti Tangerang, Bandung, Sidoarjo, dan Banyuwangi.
Berbeda dengan program kesehatan konvensional, RISE Foundation memosisikan generasi muda bukan sekadar sebagai objek penerima bantuan, melainkan sebagai aktor penggerak utama (agents of change).
Melalui pendekatan peer-to-peer dalam program Heroes Goes to School and Community, para remaja dilatih untuk mengedukasi teman sebaya mereka. Ekosistem ini juga diperkuat dengan melibatkan tenaga pendidik di sekolah guna memastikan literasi kesehatan reproduksi dapat berjalan secara ilmiah, sehat, dan bebas dari penghakiman sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)