Petugas RSD Wisma Atlet Jakarta menyiapkan kamar bagi pasien isolasi. Medcom.id/Yurike Budiman
Petugas RSD Wisma Atlet Jakarta menyiapkan kamar bagi pasien isolasi. Medcom.id/Yurike Budiman

Kisah Penyintas Covid-19 Melawan Kesepian

Nasional Virus Korona wisma atlet jakarta
Suryani Wandari Putri Pertiwi • 27 September 2020 07:06
Jakarta: Menjalani karantina di rumah sakit bagi warga terpapar covid-19 membuat pasien merasa tertekan karena kesepian. Jauh dari keluarga dan merasa terbuang karena tidak bisa berinteraksi dengan banyak orang bukan hal yang jarang ditemukan.
 
Begitulah perasaan Juno, penyintas Covid-19 eks pasien Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Jakarta.
 
Dia berkisah ditempatkan di sebuah unit di RS Darurat Wisma Atlet. Unitnya berisi dua kamar tidur dan berfasilitas lengkap seperti ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Awalanya dia tak hidup dalam isolasi sendirian karena memeliki teman senasib yang juga dikarantina. Namun, teman satu unitnya itu dinyatakan negatif. Juno pun terpaksa tinggal sendiri.
 
"Saya sendirian, kondisinya sepi meskipun ada 50 pasien dalam satu lantai. Kami (pasien isolasi) bertemu hanya waktu tertentu saja," kata Juno saat webinar bersama gerakan Ijinkan Dirimu, Sabtu, 26 September 2020, malam.

Bersama melepas risau

Tak bisa bertemu muka dengan keluarga. Bahkan tak bisa sekadar berbicara dengan orang lain seperti biasa. Kondisi ini membuat Juno kesepian.
 
Rindu dengan orang terkasih dilepas lewat panggilan video. Kehadiran keponakannya yang baru lahir menjadi penyemangat. Dia pun terus berpikir positif untuk melawan virus korona yang menjangkitinya.
 
Untuk menghilangkan risau, dia berusaha melakukan hal-hal yang membuatnya senang. Misalnya 'berjalan-jalan' di pertokoan jagat maya. E-commerce yang semakin 'ramah' kala pandemi membuatnya lupa sedang mengidap covid-19.
 
"Kami (pasien) masih bisa belanja, pesan makanan secara online juga. Belanja ini memang membuat saya senang. Bahkan cari-cari barang di ecommerce pun bisa melupakan bahwa saya terpapar," katanya.
 
Juno tak hanya menjaga kesehatan mentalnya sendirian. Pasien lain dan perawat membuat grup percakapan WhatsApp untuk saling berkomunikasi. Grup itu dipakai untuk saling memberi atau sekadar bercanda dan bergurau.
 
Tenaga kesehatan di RSD Wisma Atlet pun memberikan perhatian lebih bagi kesehatan pasien, secara fisik dan mental. Petugas medis selalu berinisiatif mengajak pasien senam.
 
"Pada saat senam ada momen kita saling bertemu dan saling bercerita. Namun tetap melakukan protokol kesehatan," pungkasnya.

Sepi keluarga yang ditinggal


Rasa kesepian ternyata tak hanya dialami petugas medis atau pasien yang diisolasi. Keluarga yang ditinggal ternyata juga merasakan hal yang sama.
 
Contohnya pengalaman ibu dari Amalia Paravoti, seorang pengasuh pasien covid-19. Amalia mengakui ibunya kesepian lantaran tinggal sendirian.
 
Amalia pun kadang merasa bersalah kepada orang yang melahirkannya itu. Tapi, dia mesti menjalankan tanggung jawab profesi. Dia berusaha meluangkan waktu bagi sang ibu agar tak merasa ditinggalkan.
 
"Ibu saya kan berbeda dari generasi sekarang yang sudah mainan media sosial. Ibu saya hanya Whatapps. Jadi biasanya saya videocall," lanjut Amalia.
 
Agar ibunya tak bosan dan kesepian, Amelia membekali modem dengan kuota lebih agar bisa sepuasnya mengakses YouTube sebagai hiburan. Amelia pun merasa kecemasan dan kesepian hal yang wajar terjadi, namun bukan berarti manusia harus kalah.
 
(SUR)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif