Airnav Semarang. (Foto: Medcom.id/Gervin Purba)
Airnav Semarang. (Foto: Medcom.id/Gervin Purba)

Balai Monitor dan Airnav Bersinergi Tangani Masalah Frekuensi

Nasional Balai Monitor
Gervin Nathaniel Purba • 13 Agustus 2018 19:03
Semarang: Kesulitan berkomunikasi dengan Air Traffic Controller (ATC) menjadi kendala yang kadang dihadapi oleh pilot pesawat. Biasanya hal ini disebabkan frekuensi yang tidak berizin (ilegal).
 
Ketika menghadapi gangguan tersebut saat hendak mendarat, pilot berkewajiban membuat laporan saat mendarat. Dia harus mencatat secara detail jenis gangguan yang dialami, posisi ketinggian, waktu, dan letak koordinat.
 
"Informasi itu akan kita teruskan kepada Balai Monitor Kelas I Semarang,” ujar General Manager Airnav Indonesia cabang Semarang Yudi Nur Dinuri, saat ditemui Medcom.id di kantor Airnav Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Koordinasi tersebut sudah tertuang dalam kesepakatan kerja sama (MoU) antara Airnav Semarang dengan Balai Monitor Kelas I Semarang. Kerja sama tersebut dilakukan secara periodik karena mengikuti perkembangan teknologi.
 
"Paling tidak dua tahun sekali harus kita ubah antara Airnav dengan Balai Monitor," ujar Yudi.
 
Setelah dilaporkan, Balai Monitor Kelas I Semarang akan mencari sumber gangguan tersebut. Apakah gangguan berasal dari pemancar biasa, pemancar radio swasta, atau pemancar radio tidak terdaftar (ilegal).
 
Balai Monitor dan Airnav Bersinergi Tangani Masalah Frekuensi
General Manager Airnav Indonesia cabang Semarang Yudi Nur Dinuri. (Foto: Medcom.id/Gervin Purba)
 
"Begitu mendapatkan laporan dari Airnav, otomatis Balai Monitor Kelas I Semarang akan menindaklanjuti dengan mencari sumber gangguan dimaksud. Bisa saja di wilayah Jawa Tengah lain, misalnya di Pati, Pekalongan,” kata dia.
 
Yudi menjelaskan efek gangguan frekuensi sebetulnya sangat berbahaya karena komunikasi antara pilot dengan ATC bermuatan instruksi dan izin lain. Apabila ada instruksi yang disampaikan oleh ATC kepada pilot, tapi terjadi gangguan frekuensi yang menyebabkan informasi tidak utuh, maka akan membahayakan keselamatan penumpang.
 
Biasanya gangguan dominan dari radio pemancar atau siaran radio yang tidak terdaftar, atau pemasangan penguat sinyal selular, akan mengganggu jaringan selular di area sekitarnya.
 
Balai Monitor dan Airnav Bersinergi Tangani Masalah Frekuensi
Pihak ATC berkomunikasi dengan pilot. (Foto: Medcom.id/Gervin Purba)
 
"Biasanya musik-musik yang dipancarkan di suatu wilayah. Dia mungkin ingin berimprovisasi ingin membuat radio siaran, namun belum ada izin sehingga tidak tertata penggunaannya,” kata Yudi.
 
Ditegaskan Yudi, wilayah Semarang jarang mengalami gangguan. Laporan gangguan sangat minim. Dalam setahun hanya mengalami dua kali gangguan.
 
Untuk meminimalkan gangguan, Yudi mengimbau kepada masyarakat yang ingin menggunakan frekuensi baik siaran radio maupun radio amatir, harus berizin. Pengajuan izin dilakukan melalui instansi pemerintah yang sudah ditunjuk.
 
"Kalau radio amatir ada organisasinya, misalnya Orari. Kalau izin radio swasta, ya mengajukan izin stasiun radio frekuensi yang bisa digunakan,” ucapnya.

 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif