Sedimentasi danau buatan di Rawa Badak Utara, Jakarta Utara. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)
Sedimentasi danau buatan di Rawa Badak Utara, Jakarta Utara. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)

Warga Belum Merasakan Dampak Musim Kemarau

Nasional kekeringan krisis air bersih
Theofilus Ifan Sucipto • 10 Juli 2019 13:53
Jakarta: Sejumlah warga yang berada di Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, mengaku belum merasakan dampak musim kemarau. Kendati, wilayah ini menjadi salah satu titik di DKI Jakarta yang berstatus siaga kekeringan.
 
"Sejauh ini enggak kenapa-kenapa," kata Ketua RT 10 RW 09 Rawa Badak Utara, Katrin, saat berbincang dengan Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.
 
Katrin mengetahui informasi soal potensi kekeringan di wilayahnya. Namun dia belum menemukan masalah maupun mendapat laporan dari warga atas dampak jelang puncak musim kemarau. Dia merasa aman asalkan aliran air dari Perusahaan Air Minum (PAM) tetap tersedia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang penting air dari PAM jalan terus. Kan buat mencuci dan mandi," ungkapnya.
 
Baca juga: Warga Jakarta Diminta Hemat Air
 
Hal tak senada justru diungkapkan salah seorang warga. Aina, warga Rawa Badak Utara, mengeluhkan aliran air yang terus tersendat selama dua pekan terakhir. Ini diperparah dengan kondisi air tanah yang keruh dan tak layak konsumsi.
 
"Saya enggak tahu ini karena musim kemarau atau bukan. Tapi airnya jadi begitu," kata dia.
 
Meski begitu, Aira enggan mempersoalkan hal tersebut. Ia lebih fokus mencari nafkah dari hasil penjualan kecil-kecilan yang ditekuni.
 
Sementara itu, Ketua RT 05 RW 03, Wastinah, mengeluhkan hal yang sama. Dia menyebut aliran air memang tidak lancar selama 26 tahun tinggal di Rawa Badak Utara. Hanya saja saat ini kondisi tersebut masih baik-baik saja. 
 
"Semua warga masih beraktivitas saja seperti biasa," ungkapnya.
 
Baca juga: Danau Buatan di Rawa Badak Utara Mengering
 
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah DKI Jakarta akan berlangsung pada September 2019. Warga Ibu Kota diminta bersiap menghadapi kekeringan.
 
"Kemarau di DKI Jakarta baru berjalan dua bulan (Mei-Juni), masih harus menyelesaikan sampai puncaknya di September," kata Kepala Staf Sub Bidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi seperti dikutip Antara, Kamis, 4 Juli 2019.
 
Ripaldi mengatakan, saat ini sudah ada wilayah di DKI Jakarta yang berstatus siaga kekeringan, terutama di Jakarta Utara. Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), dua wilayah di Jakarta Utara sudah masuk HTH sangat panjang yakni 30 sampai 61 hari.
 
"HTH di wilayah Jakarta sudah lebih 30-61 hari terjadi di Rawa Badak dan Rorotan," ucap Ripaldi.
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif