Seorang warga berteduh di bawah pepohonan sisi rawa. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)
Seorang warga berteduh di bawah pepohonan sisi rawa. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)

Danau Buatan di Rawa Badak Utara Mengering

Nasional kekeringan
Theofilus Ifan Sucipto • 10 Juli 2019 13:10
Jakarta: Teriknya matahari di Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, membuat beberapa warga beraktivitas sambil mengernyitkan dahi. Rawa Badak Utara adalah salah satu wilayah di DKI Jakarta yang berstatus siaga kekeringan.
 
Pantauan Medcom.id, volume air danau buatan di depan gerbang Rawa Badak Utara berkurang. Sedimentasi dan kondisi yang kurang terawat membuat genangan air setiap harinya terus berkurang.
 
Saking keringnya, muncul tanah yang membentuk dangkalan kecil di tengah danau. Bebatuan serta aneka sampah pun memenuhi tanah tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejatinya, volume air tepat di batas air, bahkan hampir meluap. Danau buatan ini biasa dipakai warga sekitar untuk bersantai di bawah pepohonan atau memancing.
 
"Biasanya air penuh di sini. Tiap akhir pekan diisi ikan lele, warga ramai memancing," kata salah satu warga Rawa Badak Utara, Sutadi, saat berbincang dengan Medcom.id di lokasi, Jumat, 10 Juli 2019.
 
Pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu mengaku rindu memancing dengan rekan-rekannya. Namun, niat tidak dapat terlaksana sedikitnya selama tiga pekan terakhir lantaran volume air terus berkurang.
 
Baca juga:Pemprov: Kekeringan Jakarta Belum Serius
 
Tumbuhnya rerumputan juga memperparah kondisi rawa. Rumput-rumput cenderung menguning dan kering tak mendapatkan asupan air lantaran hujan tak kunjung turun.
 
"Biasanya bagus dilihat hijau semua. Segar begitu. Tapi karena musim kemarau jadi begini," ujar Sutadi.
 
Warga lain, Abdul Nazar, mengeluhkan cuaca yang terik. Dia sibuk membolak-balik kipas rotan sekadar mendapatkan kesejukan.
 
"Kalau panas, sehari-hari juga panas. Tapi ini luar biasa panasnya. Masih untung ada pohon-pohon di sini," kata Abdul.
 
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah DKI Jakarta akan berlangsung pada September 2019. Warga Ibu Kota diminta bersiap menghadapi kekeringan.
 
Baca juga:Sebagian DKI Masuk Hari Tanpa Hujan Kategori Berat
 
"Kemarau di DKI Jakarta baru berjalan dua bulan (Mei-Juni), masih harus menyelesaikan sampai puncaknya di September," kata Kepala Staf Sub Bidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi seperti dikutip Antara, Kamis, 4 Juli 2019.
 
Ripaldi mengatakan, saat ini sudah ada wilayah di DKI Jakarta yang berstatus siaga kekeringan, terutama di Jakarta Utara. Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), dua wilayah di Jakarta Utara sudah masuk HTH sangat panjang yakni 30 sampai 61 hari.
 
"HTH di wilayah Jakarta sudah lebih 30-61 hari terjadi di Rawa Badak dan Rorotan," ucap Ripaldi.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif