MRT Jakarta Janjikan Tahan Bencana
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan stasiun MRT Jakarta yang ada di Senayan, tepatnya di seberang Mal Ratu Plaza, Jakarta Selatan, Kamis (18/10) - MI/Ramdani.
Jakarta: Indonesia sebagai negara 'ring of fire' tak bisa dilepaskan dari bencana gempa. Segala infrastuktur yang dibangun tentu harus tahan gempa. 

Tak cuma gempa, di Ibu Kota Jakarta bayang-banyang banjir masih sering menghantui di beberapa daerah. Dua hal ini amat sangat diperhatikan PT Mass Rapid Transit (MRT) ketika mereka mulai membangun MRT Jakarta. 

Sebagai kereta bawah tanah, MRT Jakarta harus memiliki ketahanan berlapis terhadap bencana. Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim memastikan seluruh konstruksi MRT Jakarta telah dibekali teknologi yang mampu menahan gempa.


"Seluruh jalur dan stasiun kereta MRT Jakarta telah dirancang tahan gempa hingga 8 skala richter (SR)," kata Silvia saat berbincang, Jumat 19 Oktober 2018.

Tak hanya itu, dinding terowongan juga dibuat dengan ketebalan satu meter. Selain berfungsi menahan gempa, dinding tersebut mampu menahan tekanan air bila terjadi banjir.

Dinding terowongan sudah dilapisi sealer untuk mencegah air masuk ke celah antarpanel dinding. Sementara di lantai dan stasiun terdapat water proofing membrane. Teknologi tersebut mampu mencegah air masuk ke dalam stasiun dan sambungan antarsegmen terowongan.



Pekerja menyelesaikan pengerjaan stasiun MRT - MI/Ramdani

PT MRT Jakarta mendesain pintu masuk stasiun dengan ketinggian 150 centimeter di atas permukaan jalan. Setiap pintu masuk stasiun akan dilengkapi flood barrier. Teknologi ini biasa digunakan di negara Eropa, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Upaya pencegahan banjir dilakukan berlipat ganda. Sebab, beberapa stasiun berada di kawasan rendah yang rentan tergenang. 

"Seperti di Dukuh Atas dan Bundaran HI, itu kan paling rendah. Untuk antisipasi kami juga menyiapkan pompa untuk menyedot air dan mengarahkan ke satu titik kumpul," ujar dia.

Terkait kenyamanan penumpang, seluruh stasiun akan dilengkapi penyejuk dan sirkulasi udara. Khusus untuk stasiun bawah tanah, suhu akan dijaga untuk tetap 25 derajat celcius.

(Baca juga: MRT dan Mimpi Merevolusi Transportasi Kaum Urban)

MRT untuk Semua Kalangan

PT MRT Jakarta ingin menghapus stigma yang menyebut fasilitas publik di Jakarta belum ramah terhadap penyandang disabilitas. Caranya dengan membuat MRT yang dapat dinikmati semua kalangan.

"Kami ingin transportasi publik untuk semua kalangan. Kami belajar dari fasilitas publik yang sudah ada," kata Silvia.

Silvia mengaku pihaknya juga meminta masukan dari komunitas difabel. Alhasil, MRT menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan penumpang berkebutuhan khusus.

"Stasiun MRT akan dilengkapi lift, eskalator, dan peta untuk tuna netra. Begitu di peron, pengguna kursi roda bisa langsung nunggu kereta yang untuk difabel," terang dia.

Kereta bagian tengah dirancang khusus. Di bagian dalam terdapat satu bagian kosong untuk kursi roda. Sementara seluruh jalur di stasiun MRT Jakarta akan dilengkapi dengan guidig block.

"Di lift juga ada braile untuk tuna netra. Lalu, ada pemberitahuannya juga lewat suara," ungkap Silvia.

Hingga saat ini, progress pembangunan konstruksi MRT fase I sudah mencapai 96,54%. Rinciannya, 95,36% konstruksi bagian depo dan jalan layang, sementara 97.71% bagian bawah tanah.

Seluruh konstruksi ditargetkan rampung pada Desember dan akan mulai beroperasi pada Maret 2019 mendatang. Kereta cepat ini diharapkan dapat mengubah gaya bertransportasi warga Jabodetabek, dari yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi beralih ke trasportasi publik.

(Baca juga: Menimbang Harga Tiket MRT)
 



(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id