CEO Blackgold Natural Resources, Rickard Philip Cecil. Foto: Hafidz Mubarak/Antara
CEO Blackgold Natural Resources, Rickard Philip Cecil. Foto: Hafidz Mubarak/Antara

Bos Blackgold Natural Rosources Diperiksa KPK

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Juven Martua Sitompul • 02 Mei 2019 10:57
Jakarta: CEO Blackgold Natural Resources Rickard Philip Cecil dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I.
 
"Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SFB (Direktur Utama PLN Sofyan Basir)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Penyidik juga memanggil Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq dan dua pejabat PLN, Kadiv Pengembangan Regional Sulawesi Suwarno, Kepala Divisi Batubara Harlen dan Manager Perencanaan Pengadaan IPP Suprapto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komisaris PT Skydweller Indonesia Mandiri, Rheza Herwindo; Staf Admin Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, Diah Aprilianingrum; dan wiraswastawan Mukhradis Hadi Kusuma juga dipanggil Lembaga Antirasuah.
 
"Mereka juga akan dimintai keterangan untuk penyidikan tersangka SFB," kata Febri.
 
Baca:KPK Usut Pejabat PLN di Suap PLTU Riau-I
 
Muhammad Al Khadziq merupakan suami Eni Saragih. Persidangan mengungkao Eni menerima suap dari Bos Blackgold Natural Recourses Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. Fulus digunakan membiayai pengurusan pilkada Muhammad Al Khadziq.
 
Keterlibatan Sofyan berawal ketika Direktur PT Samantaka Batubara mengirim surat ke PT PLN (Persero), pada Oktober 2015. Surat pada pokoknya memohon PLN memasukkan proyek dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Sayangnya, surat tak ditanggapi. Johannes akhirnya mencari bantuan agar dibukakan jalan berkoordinasi dengan PLN, untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-I.
 
Pertemuan diduga dilakukan beberapa kali. Eni, Sofyan, dan Johannes juga hadir dalam beberapa pertemuan itu.
 
Pada 2016, Sofyan menunjuk Johannes mengerjakan proyek Riau-I. Sebab, mereka sudah memiliki kandidat mengerjakan PLTU di Jawa.
 
Baca:Idrus Merestui Eni Terima Suap
 
Padahal, Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan, yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK) belum terbit. PLTU Riau-I dengan kapasitas 2x300 MW kemudian diketahui masuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Johannes meminta anak buahnya siap-siap karena sudah dipastikan Riau-I milik PT Samantaka. Sofyan lalu memerintahkan salah satu Direktur PT PLN merealisasikan PPA antara PLN dengan BNR dan CHEC.
 
Sofyan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka merupakan pengembangan penyidikan Eni, Johannes, dan Idrus Marham yang telah divonis. Eni dihukum enam tahun penjara, Kotjo 4,5 tahun penjara dan Idrus Marham 3 tahun penjara.
 
Sofyan dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsijuncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif