Terdakwa selaku mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan meninggalkan ruangan seusai menjalani sidang pembacaan eksepsi kasus dugaan korupsi. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)
Terdakwa selaku mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan meninggalkan ruangan seusai menjalani sidang pembacaan eksepsi kasus dugaan korupsi. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

Karen Agustiawan Meminta Opname

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Fachri Audhia Hafiez • 07 Februari 2019 15:02
Jakarta: Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan mengeluhkan gangguan pada saraf otak. Dia mengajukan surat permohonan rawat inap di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta kepada majelis hakim.
 
"Saya sering vertigo, ternyata pembuluh di balik otak ada penyumbatan. Sehingga otak kanan saya nggak bisa kerja sepenuhnya," kata Karen di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Februari 2019.
 
Ketua Majelis Hakim Emilia Djaja Subagia menanyakan apakah kondisi tersebut sangat mendesak untuk dijalankan rawat inap. Sebab, Karen tampak terlihat sehat saat menjalani persidangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi anda kelihatannya sehat ya, apakah ini mendesak?" tanya Emilia.
 
"Sudah mendesak karena sebetulnya kata dokter otak saraf, saya harusnya dirawat Desember," jawab Karen.
 
Baca juga:Karen Kecewa Tak Langsung Bacakan Pembelaan
 
Majelis hakim kemudian meminta dokumen rujukan dari rumah tahanan (rutan) untuk memberikan surat izin rawat inap Karen. Menurut kuasa hukum Karen, dokter rutan telah menyerahkannya ke RSPAD.
 
Kendati demikian, majelis hakim tak keberatan dengan permohonan izin tersebut. Namun, ada pembatasan terkait rawat inap.
 
"Pada dasarnya kami enggak keberatan tapi kesulitan bagi majelis jika terdakwa di luar rutan itu perbuatan hukum. Tentu itu ada pembatasan karena dia menginap itu pembatasan berefek (kedepannya)," kata hakim Emilia.
 
Karen mengatakan semenjak menjadi tahanan, saraf otaknya perlu tindakan khusus. Dia beralasan, karena belum bisa beradaptasi di dalam rutan.
 
"Sebelum saya ditahan, otak saya biasa-biasa saja. Tapi saat saya ditahan dengan beberapa orang di dalamnya itu, dengan oksigen yang sedikit, akibatnya otak saya mengecil," ujar Karen.
 
Baca juga:Karen Anggap Dakwaan Jaksa Keliru
 
Majelis Hakim menunda izin rawat inap Karen. Sebab, dokter yang akan menangani Karen perlu dibawa ke hadapan majelis hakim. Serta surat rujukan lengkap dari tim kuasa hukum Karen, agar majelis hakim dapat mempertimbangkan.
 
Karen Galaila Agustiawan didakwa merugikan senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai Direktur Hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan Direktur Utama PT Pertamina periode 2009-2014. Dalam melakukan investasi PT Pertamina, terkait participating interest atas Lapangan atau Blok BMG Australia tahun 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di Pertamina.
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya due diligence (uji kelayakan) serta tanpa adanya analisa resiko. Namun, sudah ditindaklanjuti dengan penandatanganan Sale Purchase Agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina.
 
Dengan demikian, dia dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, yang memiliki Blok BMG Australia.
 
Jaksa menilai, perbuatan Karen sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif