Juru bicara KPK Febri Diansyah - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Juru bicara KPK Febri Diansyah - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Sejumlah Petinggi Waskita Langsung Diperiksa Intensif

Juven Martua Sitompul • 18 Desember 2018 11:59
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung memeriksa intensif para saksi kasus dugaan korupsi 14 proyek fiktif yang digarap PT Waskita Karya. Tujuh saksi masuk dalam agenda pemeriksaan penyidik hari ini.
 
Ketujuh saksi itu yakni Direktur Utama PT Waskita Beton Precast Tbk, Jarot Subana; Manajer Maintenance PT Waskita Beton Precast, Imam Bukori; dan Kabag Marketing PT Waskita Karya, Agus Prihatmono.
 
Kemudian, Kabag Pengendalian PT Waskita Karya, Dono Parwoto; dua pegawai PT Waskita Karya Reality Ignatius Joko Herwanto dan Musiyono serta Staf Pengendali di Divisi Sipil Periode 2013-2015 PT Waskita Karya, Joko Ruswanto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka YAS (Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya periode 2010-2014, Yuly Ariandi Siregar)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018.
 
KPK sebelumnya menetapkan dua orang pejabat Waskita Karya sebagai tersangka. Keduanya yakni Kepala Divisi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk periode 2011-2013 Fathor Rachman dan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk periode 2010-2014 Yuly Ariandi Siregar. Mereka ditetapkan sebagai tersangka korupsi 14 proyek yang digarap PT Waskita.
 
(Baca juga: KPK Bidik PT Waskita Karya di Korupsi 14 Proyek)
 
Dalam kasus ini, kedua tersangka diduga melakukan pengeluaran atau pembayaran 14 pekerjaan fiktif PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor. Negara diduga merugi hingga Rp186 miliar. Berikut 14 proyek infrastruktur itu: 
 
1. Proyek normalisasi kali Bekasi Hilir, Jawa Barat.
2. Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) paket 22, Jakarta.
3. Proyek Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.
4. Proyek Bendungan Jati Gede, Sumedang, Jawa Barat.
5. Proyek normalisasi kali pesanggarahan paket 1, Jakarta.
6. Proyek PLTA Genyem, Papua.
7. Proyek tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi 1, Jawa Barat.
8. Proyek flyover Tubagus Angke, Jakarta.
9. Proyek flyover Merak-Balaraja, Banten.
10. Proyek Jalan Layang non tol Antasari-Blok M (Paket Lapangan Mabak), Jakarta.
11. Proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR) Seksi W 1, Jakarta.
12. Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 2, Bali.
13. Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 4, Bali.
14. Proyek Jembatan AJI Tulur-Jejangkat, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
 
Atas perbuatannya, Fathor dan Yuly disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
(Baca juga: KPK Ingatkan BUMN Terapkan Good Corporate Governance)
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif