Ilustrasi. (Foto: MI/Arya Manggala)
Ilustrasi. (Foto: MI/Arya Manggala)

Wartawan Diminta Waspada Terhadap Massa 212

Nasional kekerasan terhadap wartawan aksi 212
Candra Yuri Nuralam • 22 Februari 2019 14:44
Jakarta: Pemerhati Media dari Universitas Sumatera Utara, Barto Silitonga, menyayangkan insiden kekerasan terhadap wartawan saat acara Munajat 212, Kamis, 21 Februari 2019. Barto meminta wartawan lebih berhati-hati.
 
"Insiden dugaan kekerasan terhadap wartawan yang meliput Munajat 212 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, harus menjadi perhatian semua pihak. Tidak hanya aparat penegak hukum, tapi juga para wartawan itu sendiri," kata Barto di Jakarta, Jumat, 22 Februari 2019.
 
Barto menyebut wartawan tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah saat menghadapi massa sebanyak 212. Kalau pun melawan, akan berefek fatal kepada wartawan itu sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karenanya, seluruh cara harus dilakukan dari berbagai pihak. Termasuk meningkatkan "insting" kepekaan wartawan terhadap potensi yang mengancam keselamatannya, sehingga akhirnya rekan-rekan memilih "tiarap" atau menghindar sejenak mencari berita, di tempat dan momen tersebut," ujar Barto.
 
Dia mengimbau wartawan tidak memaksakan diri. Wartawan perlu memikirkan efek panjang bila terlalu memaksakan diri.
 
(Baca juga:AJI Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis saat Munajat 212)
 
"Ingat! Karangan bunga dan ucapan bela sungkawa terhadap kita hanya datang satu hari, setelahnya kerugian ditanggung sendiri, sepanjang hayat," tutur Barto.
 
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam kekerasan terhadap sejumlah jurnalis saat Aksi Munajat 212. AJI ingin anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) yang diduga berlaku kasar ditindak tegas.
 
"Sejumlah jurnalis menjadi korban kekerasan, intimidasi, dan persekusi oleh massa dari laskar Front Pembela Islam (FPI)," kata Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri, di Jakarta, Jumat, 22 Februari 2019.
 
Asnil menyebut jurnalis CNN Indonesia, Detik.com, dan Suara.com menjadi korban kekerasan saat Munajat 212. Dia menilai tindakan laskar FPI yang menghapus rekaman video maupun foto kegiatan Munajat 212 adalah perbuatan melawan hukum.
 
"Mereka telah menghalang-halangi kerja jurnalis untuk memenuhi hak publik dalam memperoleh informasi," kata Asnil.
 
(Baca juga:Dua Pencopet Ditangkap di Acara Malam Munajat 212)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif