Ilustrasi mengaji. Foto: ANT/Saiful Bahri
Ilustrasi mengaji. Foto: ANT/Saiful Bahri

Kemenag Ungkap Perlunya Pembinaan Majelis Taklim

Nasional Memagari Majelis Taklim
Renatha Swasty • 02 Desember 2019 14:14
Jakarta: Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Juraidi menegaskan pemerintah sepatutnya memperhatikan majelis taklim. Dia menyebut majelis merupakan pagar pendidikan.
 
Juraidi menuturkan ada dua alasan penting pemerintah memperhatikan majelis taklim. Pertama, lembaga yang tumbuh dari masyarakat itu banyak memberikan kontribusi mencerdaskan bangsa dan negara.
 
"Mak-mak yang tidak bisa mengakses dunia pendidikan formal melalui sekolah dan madrasah dibina oleh majelis taklim," kata Juraidi dikutip dari situs Kemenag, Senin, 2 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Juraidi melanjutkan, bapak-bapak yang sibuk bekerja sampai pensiun, yang belum sempat belajar agama, ditampung majelis taklim. Anak putus sekolah juga diajari agama.
 
"Bahkan, saya pernah mengajar ngaji para asisten rumah tangga melalui majelis taklim," ungkap Juraidi.
 
Kedua, dia menuturkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah wajib mengatur pendidikan keagamaan. Hal ini diteruskan lewat PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
 
Aturan itu menyebut secara eksplisit majelis taklim merupakan lembaga pendidikan nonformal. Dengan demikian, majelis taklim berhak atas anggaran fungsi pendidikan yang alokasinya mencapai 20% dari anggaran negara.
 
"Majelis taklim justru melaksanakan pendidikan agama kepada masyarakat yang tidak terjangkau dan tersentuh dunia pendidikan formal. Karena itu, majelis taklim perlu diberikan perhatian, dibantu peningkatan manajemen pengelolaannya agar semakin bisa memberdayakan masyarakat di sekitar," tegas Juraidi.
 
Dia menyebut melalui Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2019, Kementerian Agama ingin memberikan penguatan pada keberadaan majelis taklim. Penguatan dilakukan secara komprehensif mencakup lima rukun majelis taklim, yaitu: jemaah, ustaz/ustazah, pengurus, tempat, dan materi taklimnya.
 
"Kalau soal pakaian seragam dan lainnya, itu sunnah saja," ujar dia.
 
Dia memaparkan pembinaan yang dimaksud dalam aturanbukan intervensi dan menggurui. Juraidi menjelaskan aspek pembinaan sangat luas, yakni menerbitkan juknis, modul, pedoman, melakukan pendataan, mengundang rapat, menyampaikan informasi, dan memberikan bantuan.
 
"Pembinaan diberikan sesuai kebutuhan majelis taklim, pada aspek yang memang masih memerlukan penguatan. Kemenag tentu tidak berpretensi menggurui," kata dia.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif