Sidang Romahurmuziy. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Sidang Romahurmuziy. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Eks Pejabat Kemenag Disebut Lempar Batu Sembunyi Tangan

Nasional OTT Romahurmuziy
Kautsar Widya Prabowo • 30 Oktober 2019 15:24
Jakarta: Eks Kepala Biro Kepegawaian Kementerian Agama Ahamdi ditegur majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. Dia dinilai tidak bertanggung jawab meloloskan Haris Hasanuddin saat seleksi Kakanwil Kemenag Jawa Timur.
 
Ketua Majelis Hakim Fahzal mulanya menanyakan alasan Haris diloloskan dari seleksi administrasi. Meski, panitia seleksi (pansel) menyatakan Haris tidak memenuhi syarat administrasi.
 
"Kenapa saudara masih usulkan juga si Haris itu? Dia kan pernah mendapat hukuman disiplin tingkat sedang," tanya Hakim Fahzal di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 30 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ahmadi berkilah cuma mengirim berkas yang diserahkan Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Nur Kholis. Dia mengaku tidak tahu menahu soal berkas Haris. Pansel tidak meloloskan 24 berkas dari 86 berkas lantaran tak memenuhi syarat administrasi.
 
"Enggak bisa begitu, lempar lempar, itu lempar batu sembunyi tangan namanya kan kalau begini. Seharusnya kan saudara nggak melanjutkan itu ke pansel. Jangan tanggung jawab ini semuanya hanya ke pansel saja," tegas Hakim Fahzal.
 
Fahzal mengaku ketua pansel merupakan atasannya. Lagi-lagi dia mengaku cuma mengembalikan berkas yang diterima.
 
"Iya pak, karena atasan saya adalah pak sekjen, karena ketua pelaksana maka saya serahkan ke beliau," tutur Ahamdi.
 
Hakim Fahzal menilai Ahmadi bisa saja tak meloloskan Haris sejak seleksi administrasi. Dia khawatir ada pihak yang tidak salah dinyatakan bersalah.
 
"Enggak usah lempar-lempar, Pak. Kalau itu yang terjadi katakan saja, gitu loh. Kita mencari kebenaran apakah terdakwa Romahurmuziy ini mempengaruhi, gitu," kata Hakim.
 
Hakim Fahzal meminta saksi tidak bersaksi bohong. Dia meminta saksi berbicara apa adanya.
 
"Kita mencari kebenaran materil, kebenaran apa yang terjadi sesungguhnya. Itulah yang saya minta sama saksi-saksi, ini menyangkut nasib orang, nyatakan aja, kalau ada keterlibatan menteri agama ngomong saja kenapa sih? Tanggung jawab masing-masing, kan. Oke?" kata Fahzal.
 
Romy didakwa menerima suap Rp325 juta dari Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muafaq Wirahadi, Rp91,4 juta. Perbuatan itu bertentangan dengan posisinya sebagai anggota DPR periode 2014-2019 atau selaku penyelenggara negara.
 
Suap diterima Romy secara bertahap dari Januari-Maret 2019. Perbuatan rasuah ini diduga dilakukan bersama-sama dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pengangkatan jabatan Haris sebagai kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur.
 
Romy didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif