Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. ANT/Adam Bariq.
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. ANT/Adam Bariq.

KPK Cermati Peran Menpora Imam di Kasus Suap KONI

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Juven Martua Sitompul • 22 Mei 2019 09:32
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menunggu laporan utuh atau hasil analisis atas putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta terkait adanya aliran uang kepada Menpora Imam Nahrawi senilai Rp11,5 miliar. Nasib Imam disebut tinggal menunggu waktu.
 
"Normatifnya selalu nanti jaksa-jaksa itu akan lapor, mereka juga punya naluri siapa yang duluan siapa yang belakangan (ditetapkan sebagai tersangka)," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 22 Mei 2019.
 
Baca: KPK Menyoroti Aliran Uang ke Menpora

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saut mengatakan timnya memiliki strategi dalam menjerat pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah perkara, termasuk Imam dan staf ahlinya Miftahul Ulum. Dia mencontohkan salah satu perkara yang ditangani dengan teliti dan hati-hati.
 
"Kalian kan sudah hafal kenapa KTP-el lama banget gitu, itu semua kan enggak lepas dari strategi strategi itu," kata Saut.
 
Saut mengamini kelanjutan kasus suap dana hibah KONI dari Kemenpora dalam hal ini nasib Imam dan Miftahul telah dibahas internal pimpinan KPK. Lembaga Antirasuah mencermati detail peran Imam dan Miftahul dalam kasus tersebut.
 
"Hari ini bahkan saya dengan Pak Agus sudah diskusi, saya enggak usah sebutkan apa diskusi itu. Yang jelasa kita amati detil kasus itu," katanya.
 
Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 2 tahun 8 bulan penjara dan dihukum membayar denda Rp100 juta subsider 2 bulan kurungan terhadap Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy. Hamidy dinilai terbukti telah menyuap pejabat Kemenpora untuk memuluskan proses pencairan dana hibah.
 
Dalam amat putusannya, majelis hakim meyakini uang senilai Rp11,5 miliar mengalir kepada Imam. Uang suap terkait dana hibah Kemenpora kepada KONI itu diserahkan Hamidy kepada Imam melalui Miftahul dan staf protokol Kemenpora, Arief Susanto.
 
Miftahul menerima uang dengan rincian, Rp2 miliar pada Maret 2018, yang diserahkan di kantor KONI. Kemudian, Rp500 juta diserahkan pada Februari 2018 di ruang kerja Sekjen KONI. Selanjutnya, Rp3 miliar melalui Arief Susanto yang menjadi orang suruhan Ulum.
 
Kemudian, Rp3 miliar kepada Ulum di ruang kerja Sekjen KONI pada Mei 2018. Selanjutnya, penyerahan Rp3 miliar dalam mata uang asing. Uang diserahkan sebelum lebaran di Lapangan Tenis Kemenpora pada 2018.
 
Baca: KPK Tunggu Jaksa Jerat Pihak Lain di Kasus Suap KONI
 
Meski Imam dan Miftahul membantah menerima uang, menurut hakim, pemberian uang itu diakui oleh para terdakwa dan saksi lainnya. Hamidy terbukti menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo, dan staf Kemenpora Eko Triyanta.
 
Hamidy melakukan praktik kotor itu bersama-sama dengan Bendahara KONI Johny E Awuy. Hamidy dan Johny terbukti memberikan 1 unit Toyota Fortuner hitam dan uang Rp300 juta kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana diberikan kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp100 juta.
 
Johny dan Hamidy juga memberikan ponsel merek Samsung Galaxy Note 9 kepada Mulyana. Selain itu, Hamidy juga memberikan uang Rp215 juta kepada Adhi Purnomo dan Eko Triyanta.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif