Sidang suap hakim PN Jaksel - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Sidang suap hakim PN Jaksel - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Panitera PN Jaktim Minta Istri Buang Uang Suap ke Kakus

Nasional Kasus suap hakim
Fachri Audhia Hafiez • 09 Mei 2019 15:53
Jakarta: Panitera Pengganti PN Jakarta Timur, Muhammad Ramadhan, sempat meminta istrinya Desi Diah Suryono membuang uang suap ke toilet rumah. Perintah itu dilakukan saat Ramadhan mengetahui petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menangkapnya.
 
Hal itu disampaikan Desi yang juga mantan Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan bersaksi untuk tiga terdakwa. Selain Ramadhan, dua terdakwa lainnya ialah hakim PN Jakarta Selatan, Iswahyu Widodo dan Irwan.
 
Desi menjelaskan, awalnya Ramadhan meletakkan sebuah amplop di tempat tidur. Amplop tersebut berisi uang dengan pecahan dollar Singapura. Namun, saat itu Ramadhan meminta Desi untuk membuangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tolong buang ke WC, kata dia gitu. Saya bilang 'kenapa?'. Kata dia, 'Ari ditangkap, ada KPK di bawah'," ucap Desi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Mei 2019.
 
Ari yang dimaksud Desi ialah, Arif Fitriawan seorang advokat yang juga merupakan kuasa hukum Direktur PT Asia Pacific Mining Resources (PT APMR), Martin P Silitonga. Desi mengaku saat itu Ari memang sudah ada di rumahnya kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan sebelum suaminya ikut tertangkap.
 
Desi menolak saat diminta membuang uang itu ke WC. Ia sempat meminta Ramadhan untuk menyerahkan uang itu kepada KPK.
 
"Suami saya dibawa ke KPK sambil memberikan amplop yang ada di tempat tidur kepada petugas KPK. Saya menyampaikan agar suami saya jujur saja," ujar Desi.
 
Dalam perkara ini, Iswahyu dan Irwan didakwa menerima uang dari Arif Fitriawan dan Direktur PT Asia Pacific Mining Resources (PT APMR), Martin P Silitonga.
 
(Baca juga:Istri Buang iPhone ke Sungai Tahu Suami Ditangkap KPK)
 
Suap yang juga diterima Muhammad Ramadhan itu sejumlah Rp150 juta dan SGD47 ribu atau setara Rp500 juta. Suap diberikan agar Iswahyu, Irwan, dan Ramadhan memenangkan perkara perdata yang sedang diurus Martin dan Arif di PN Jakarta Selatan dengan Nomor 262/Pdt.G/2018 PN JAKSEL.
 
Perkara yang ditangani oleh hakim PN Jakarta Selatan dan panitera PN Jakarta Timur itu merupakan gugatan pembatalan perjanjian akuisisi antara CV Citra Lampia Mandiri (CLM) dan PT Asia Pacific Mining Resources. Dalam gugatan itu, Hakim Iswahyu bertindak selaku ketua majelis hakim dan Irwan selaku hakim anggota.
 
Upaya suap itu bermula saat Arif Fitriawan selaku kuasa hukum (penggugat) menemui Ramadhan untuk meminta bantuan memenangkan perkara yang diurusnya. Ramadhan pun menerima permintaan Arif Fitriawan.
 
Jaksa mengatakan, Ramadhan memiliki akses ke PN Jakarta Selatan meski telah bertugas di Jakarta Timur. Ramadhan sebelumnya lama bertugas di PN Jakarta Selatan. Pada kesempatan itu Ramadhan berkoordinasi dengan Iswahyu dan Irwan untuk memenangkan perkara Arif.
 
Setelah jumlah uang suap disepakati, Ramadhan meminta uang itu diantarkan ke kediamannya di Lavender Residence, Jalan Swadaya 1, Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Namun sesaat setelah penyerahan uang itu, Arif dan Ramadhan, ditangkap KPK.
 
Atas suap tersebut Iswahyu dan Irwan, mereka didakwa melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 
(Baca juga:Uang Rp10 Juta Mengalir ke Eks Panitera PN Jaksel)

 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif