Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Kasus Ujaran Kebencian Ustaz Lancip Naik Penyidikan

Nasional ujaran kebencian Demo Massa Penolak Pemilu
Siti Yona Hukmana • 17 Juni 2019 19:29
Jakarta: Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya menaikkan kasus ujaran kebencian yang menyeret Ahmad Rifky Umar alias Ustaz Lancip ke penyidikan. Hasil penyelidikan dalam perkara ini menunjukan adanya perbuatan tindak pidana.
 
"Setelah kami lakukan gelar perkara, kami naikkan menjadi penyidikan dan nanti akan kami panggil sebagai saksi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Senin, 17 Juni 2019.
 
Baca:Ustaz Lancip Mangkir Lagi Panggilan Polisi

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Argo mengatakan, pihaknya telah memberikan waktu untuk mengklarifikasi tuduhan atau pembelaan, akan tetapi Lancip menolak memenuhi panggilan. Meski begitu, tim penyidik tetap melanjutkan prosedur yang berlaku.
 
"Karena sudah dua kali klarifikasi enggak hadir, setelah memeriksa saksi, saksi ahli. Kemudian penyidik melakukan gelar perkara, lalu dari penyelidikan kita naikkan penyidikan," ujar Argo.
 
Meski naik sidik, status Lancip belum ditetapkan sebagai tersangka. Polisi akan menjadwalkan panggilan ketiga kepada dia sebagai saksi.
 
"Iya masih sebagai saksi dulu," sebut Argo.
 
Sebelumnya, Lancip mangkir dua kali panggilan Polda Metro Jaya. Pemeriksaan pertama mestinya dilakukan pada Senin, 10 Juni 2019 tapi ia tak hadir karena alasan ada jadwal dakwah.
 
Kemudian, ia kembali tak hadir dalam pemanggilan kedua dengan alasan yang belum jelas. Dalam pemanggilan ini, sedianya polisi ingin meminta penjelasan terkait video ceramahnya yang membahas peristiwa kerusuhan saat demonstrasi penolakan hasil pemilu pada 21-22 Mei 2019.
 
Baca:Ceramah Ustaz Lancip Berujung Hukum
 
Pada video yang viral di media sosial tersebut Ustaz Lancip menyampaikan bahwa ada korban meninggal 60 orang dan ratusan orang belum diketahui keberadaannya. Padahal, Polisi mencatat korban meninggal dalam kerusuhan itu sebanyak delapan orang.
 
Melalui ceramahnya, Lancip juga mengaku langkahnya digiring oleh Allah SWT untuk datang ke Tanah Abang. Ia mengklaim melihat langsung peristiwa penembakan. Menurut kesaksiannya, orang yang sedang tertidur ikut ditembaki. Usai peristiwa rusuh terjadi, ia pun duduk di tengah jalan sembari minum dan diusir untuk segera pergi.
 
"Haus bos, minum dulu. Capek gw jalan dari sono. Ya Allah Ya Rabbi, untung gw kaga ditembak sama dia (polisi), dibentak-bentak sampai lima motor," ujar Lancip menirukan jawabannya saat peristiwa terjadi. Ia lantas meminta jemaahnya agar waspada karena bisa jadi pengajian diintimidasi.
 
Pemeriksaan terhadap Lancip merupakan rujukan atas adanya laporan polisi (LP) masuk pada 7 Juni 2019. Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/3473/VI/2019/PMJ/Dit Reskrimsus. Kemudian, rujukan Surat Perintah Penyelidikan nomor SP/Lidik/875/VI/RES.2.5/2019/Dit Reskrimsus, tanggal 8 Juni 2019.
 
Ustaz Lancip disangkakan Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan/atau Pasal 14 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.

 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif