Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Foto: MI/Rommy Pujianto
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Foto: MI/Rommy Pujianto

KPK Tak Berhenti ‘Buru’ Mekeng

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Juven Martua Sitompul • 12 Desember 2019 19:35
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyiapkan strategi menghadirkan politikus senior Partai Golkar Melchias Markus Mekeng ke ruang penyidikan. Mekeng bakal diperiksa sebagai saksi dugaan suap pengurusan terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT) di Kementerian ESDM.
 
“Kita tunggu, akan dilakukan lagi pemanggilan, penyidik paham lah di situ kita tunggu saja,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.
 
Mekeng tercatat lima kali mangkir dari pemeriksaan. Dia sedianya diperiksa sebagai saksi buat tersangka pemilik perusahaan pertambangan PT Borneo Lumbung Energi dan Metal (BORN), Samin Tan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mekeng juga sudah dicegah ke luar negeri. Dalam sidang mantan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih, terkuak Samin Tan menyuap Eni dan meminta bantuan Mekeng buat pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT di Kementerian ESDM.
 
Eni mengaku permintaan Samin Tan disetujui karena adanya perintah dari Mekeng. Saat itu, Mekeng merupakan ketua fraksi Partai Golkar di DPR.
 
Saut menyebut penyidik berhati-hati mengusut Mekeng.“Mekeng kan statusnya belum tersangka jadi kita masih hati-hati dulu,” kata dia.
 
Kasus suap pengurusan terminasi ini merupakan pengembangan dari kasus suap PLTU Riau-1 yang menjerat beberapa pihak. Samin sudah ditetapkan sebagai tersangka pada medio Februari 2019.
 
Samin Tan diduga menyuap Eni. Tujuan pemberian suap itu agar Eni membantu proses pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT di Kementerian ESDM. PT AKT telah diakuisisi PT BORN.
 
Eni menyanggupi permintaan Samin Tan. Eni yang saat itu menjadi anggota Panja Minerba di Komisi VII DPR menggunakan forum rapat dengar pendapat untuk memengaruhi pihak Kementerian ESDM.
 
Eni diduga meminta sejumlah uang kepada Samin Tan buat keperluan pilkada suaminya, Muhammad Al Khadziq, di Kabupaten Temanggung. Pemberian terjadi dua kali melalui staf Samin Tan dan tenaga ahli Eni.
 
Pemberian pertama Rp4 miliar pada 1 Juni 2018 dan pemberian kedua Rp1 miliar pada 22 Juni 2018. Total suap yang diterima Eni dari Samin Tan Rp5 miliar.
 
Samin Tan disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif