Mantan Gubernur Riau Annas Maamun saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jawa Barat. Antara/Agus Bebeng
Mantan Gubernur Riau Annas Maamun saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jawa Barat. Antara/Agus Bebeng

Grasi Annas Maamun Dianggap Diskriminasi ke Terpidana Lain

Nasional suap gubernur riau grasi Diskon Hukuman Koruptor
Medcom • 02 Desember 2019 14:57
Jakarta: Pemberian grasi kepada mantan Gubernur Riau Annas Maamun sangat disayangkan. Keputusan Presiden Joko Widodo dengan alasan 'kemanusiaan' diskriminatif terhadap narapidana kasus lain, termasuk kejahatan luar biasa yang sudah dihukum mati.
 
"Beberapa napi yang ditolak Merry utami mantan TKW yang menanti hukuman mati, Mary Jane TKW Philippines yang dihukum mati, Zulfikar Ali yang menderita sakit tetap dihujum mati; Rodrigo guarte, sakit skizofrenia paranoid tetap dihukum mati," kata Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar kepada Medcom.id, Senin, 2 Desember 2019.
 
Abdul Fickar menilai penerbitan grasi untuk terpidana koruptor atas nama kemanusian sah dilakukan. Namun, tak boleh ada pertimbangan aspek yuridis yang terlewat. Hal ini diterangkan agar napi lain tidak berbondong-bondong ajukan grasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seharusnya lebih ditekankan alasan yuridisnya. Karena itu grasi diberikan juga atas pertimbangan Mahkamah Agung (MA)," ujar Abdul
 
Annas memperoleh grasi dari Presiden Jokowi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 23/G Tahun 2019 tentang Pemberian Grasi, tertanggal 25 Oktober 2019. Maka Annas dinyatakan bebas pada 3 Oktober 2020, dari semula 3 Oktober 2021.
 
Keputusan Kepala Negara dihujani kritikan dari berbagai pihak. Pertanyaan hingga kekecewaan terhadap ringannya hukuman terpidana korupsi masih menyelimuti.
 
Presiden Jokowi menyebut pemberian grasi kepada Annas atas alasan kemanusiaan. Annas disebut mengidap komplikasi dan sudah tua.
 
"Dari sisi kemanusiaan memang umurnya juga sudah uzur dan sakit sakitan terus sehingga dari kaca mata kemanusiaan itu diberikan," kata Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu, 27 November 2019. (Flory Ambarita)
 

 

(SUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif