Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Ahmad Riza Patria. (Foto: Metro TV)
Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Ahmad Riza Patria. (Foto: Metro TV)

BPN Emoh Terus Dikaitkan dengan Ratna Sarumpaet

Nasional Kabar Ratna Dianiaya
Kautsar Widya Prabowo • 01 Maret 2019 14:53
Jakarta: Badan Nasional Pemenangan (BPN) Prabowo Subianto-Sandiga Uno tak mau kubunya terus menerus dikaitkan dengan kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Menyusul, beberapa nama elite BPN disebut dalam dakwaan Ratna.
 
"Tidak ada hubungannya BPN dengan kasus Ratna. Karena ini (dakwaan) sidang jadi digoreng-goreng terus," ujar juru bicara BPN Ahmad Riza Patria kepada Medcom.id, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.
 
Ia pun menyerahkan sepenuhnya proses persidangan kepada aparat penegak hukum dan menuntut agar dapat bersikap Adil. Sebab, pihaknya tidak bersedia memasang badan di belakang mantan anggota tim kampanye BPN ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau yang salah ya salah masa kita membela yang salah," tuturnya.
 
Selain itu, pihaknya menyesalkan langkah Ratna untuk menyebarkan berita bohong kepada masyarkat, hanya karena malu untuk mengakui bahwa ia melakukan operasi plastik. Terlebih dengan usia yang tidak lagi muda; memasuki usia 69 tahun.
 
Baca juga:Pasal Penjerat Ratna Sarumpaet Dianggap Janggal
 
"Karena malu enggak mau mengakui dia operasi plastik, tiba-tiba yang keluar dari ucapannya seolah dipukulin. Dia enggak menyangka berita ini menyebar dan dipertahankan sebagai suatu hal yang salah, namanya berbohong terbongkar," tuturnya.
 
Kendati demikian, ia mengapresiasi Ratna yang mau mengakui perbuatannya pada 3 Oktober 2018. Meski akan dapat mencoreng nama baiknya.
 
"(Ratna) mengakui kalau itu bohong padahal dia udah ngomong kemana-mana. Dia diproses secara hukum bagi kami karena ini kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan oleh Bu Ratna," pungkasnya.
 
Sebelumnya, Jaksa penuntut umum (JPU) Payaman menyebut Ratna mengaku pergi ke Bandung pada 21 September 2018. Namun, dia sejatinya tidak ke Bandung, melainkan ke Rumah Sakit Khusus (RSK) Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menjalani operasi muka.
 
"Ternyata terdakwa tidak ke Bandung tapi ke RSK, operasi perbaikan muka atau tarik muka atau pengencangan kulit muka sebagaimana dijadwalkan dokter," kata JPU pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis, 28 Februari 2019.
 
Ratna, kata dia, mendapatkan tindakan medis dari dokter RSK Bedah Bina Estetika. Dia kemudian ditempatkan di ruang perawatan untuk rawat inap sampai pada 24 September 2018. Selama menjalani rawat inap, dia mengambil foto wajah foto lebam dan bengkak memakai ponsel.
 
Baca juga:BPN Cuci Tangan Kasus Ratna Sarumpaet
 
“Pada 24 September 2018 pulang dalam perjalanan mengirim foto bengkak kepada saksi Achmad Ubangi, saksi Saharudin, saksi Makmur Julianto, saksi Rocky Gerung, Dede Saripudin, Said Iqbal, Nanik Sudaryati, Amien Rais, Dahnil Anzar, Fadli Zon, Basari, Simon Aloisius, Prabowo Subianto, Sugianto, dan Djoko Santoso merupakan rangkaian kebohongan terdakwa," jelas JPU.
 
Ratna Sarumpaet pada, Kamis, 28 Febuari lalu menjalani sidang dakwaan atas perbuatannya menyebar berita bohong atau hoaks. Ratna dikenakan dua dakwaan.
 
Dalam dakwaan pertama, Ratna dianggap telah melakukan perbuatan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Atas perbuatannya, ia dikenakan Pasal 14 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
 
Kemudian dalam dakwaan kedua, Ratna dianggap sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan atau golongan (SARA). Ratna disangkakan dengan pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 a ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif