Staf Pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Miftahul Ulum. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Staf Pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Miftahul Ulum. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Staf Pribadi Menpora Ditanya soal Tupoksi

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Fachri Audhia Hafiez • 03 Januari 2019 22:46
Jakarta: Staf Pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Miftahul Ulum diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama 10 jam. Dia diperiksa terkait kasus dugaan suap penyaluran bantuan dari Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tahun anggaran 2018.
 
"Saya hanya ditanya tugas pokok dan fungsi saya sebagai staf pribadi," kata Miftahul di KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Januari 2019.
 
Miftahul diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy. Dia irit bicara dan menolak membeberkan jumlah pertanyaan yang disodorkan penyidik KPK.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya tidak berkomentar dulu," singkat dia sambil berjalan meninggalkan Gedung KPK.
 
Juru bicara KPK Febri Diansyah menerangkan, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan dua pejabat KONI selain Miftahul. Yakni, staf bagian perencanaan KONI, Twisyono dan staf bidang perencanaan KONI, Suradi.
 
"Untuk dua orang saksi dari KONI, penyidik mendalami pengetahuan para saksi tentang pengajuan proposal-proposal dari KONI kepada Kemenpora terkait dana wasping atlet," ujar Febri.
 
Baca:Staf Pribadi Menpora Diperiksa KPK
 
KPK sebelumnya menetapkan Deputi IV Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana sebagai tersangka. Dia ditetapkan bersama empat orang lainnya pascatertangkap tangan, Selasa, 18 Desember 2018.
 
Mereka ialah Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy; Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy; Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora Adi Purnomo; dan Staf Kementerian Pemuda Olahraga Eko Triyanto. Adi dan Eko diduga menerima suap Rp318 juta dari Ending dan Jhony.
 
Sedangkan Mulyana menerima uang dalam beberapa tahap. Pada Juni 2018, ia menerima satu unit mobil Toyota Fortuner. Ia juga menerima uang Rp300 juta.
 
Pada September 2018, Mulyana menerima satu unit Samsung Galaxy Note 9. Suap itu diberikan agar dana hibah segera direalisasikan.
 
Baca: Lima Tersangka Suap Kemenpora Ditahan
 
Ending dan Jhony selaku pemberi suap disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 123 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif