Petinggi Sunda Empire, yaitu Nasri Bank dan Raden Ratna Ningrum. (Foto: Medcom.id/Roni)
Petinggi Sunda Empire, yaitu Nasri Bank dan Raden Ratna Ningrum. (Foto: Medcom.id/Roni)

Profil dan Modus Kerajaan Gadungan yang Ramai Belakangan

Nasional penipuan keraton Rangkuman Nasional
Achmad Zulfikar Fazli • 05 Februari 2020 09:10
Jakarta: Belakangan masyarakat geger dengan munculnya sejumlah kerajaan di tanah air. Apalagi, pimpinan dari kelompok-kelompok ini mengklaim sebagai penguasa atas tanah dan kekayaan di bumi.
 
Faktanya, kelompok-kelompok ini memiliki pengikut. Kerajaan gadungan itu bahkan dibentuk lengkap dengan jabatan struktural seperti pemerintahan.
 
Raja sebutan dari pimpinan kelompok ini tak segan mengumbar janji kepada para pengikutnya. Misalnya, menjanjikan kesejahteraan dan kekayaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keberadaan kerajaan-kerajaan ini tak bertahan lama. Polisi bergerak memberangus kelompok-kelompok tersebut.
 
Berikut daftar kerajaan gadungan yang gegerkan tanah air:

1. Keraton Agung Sejagat

Warga di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, mengaku resah atas munculnya sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Keraton Agung Sejagat. Kelompok ini disebut memiliki 450 anggota dan mengklaim diri sebagai kerajaan baru setelah 500 tahun berakhirnya imperium Majapahit.
 
Santer diberitakan, Polri akhirnya mendalami gerak-gerik kelompok tersebut. Tak perlu waktu lama Polda Jawa Tengah menangkap Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Fanni Aminadia selaku raja dan ratu Keraton Agung Sejagat.
 
Profil dan Modus Kerajaan Gadungan yang Ramai Belakangan
Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id
 
"Pelaku diduga menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat," kata Kepala Biro Humas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono di Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Berdasarkan pemeriksaan terungkap juga jika pembentukan kerajaan gadungan ini bermotif ekonomi. Raja Totok dan Fanni diduga hendak mengeruk uang warga yang berminat menjadi pengikut mereka di Keraton Agung Sejagat.

2. Sunda Empire

Kelompok serupa Keraton Agung Sejagat mulai terangkat ke permukaan. Salah satunya di Kota Bandung, Jawa Barat, muncul kelompok Sunda Empire.
 
Sunda Empire dipimpin oleh Nasri Bank menjabat sebagai Perdana Menteri, Raden Ratna Ningrum sebagai Kaisar, dan Ki Agung Raden Rangga Sasana sebagai Sekretaris Jenderal Sunda Empire.
 
Sunda Empire mendeklarasikan diri melalui media sosial. Kerajaan gadungan ini memprediksi pemerintahan dunia berakhir pada Sabtu, 15 Agustus 2020. Kehidupan masyarakat dunia disebut akan lebih baik setelahnya.
 
Profil dan Modus Kerajaan Gadungan yang Ramai Belakangan
Sunda Empire. Dok: Facebook
 
Sunda Empire menyebut sistem pemerintahan dunia akan dikendalikan dari koordinat 0.0 di Bandung sebagai mercusuar dunia. Publik pun diajak menyongsong kehidupan yang lebih baik.
 
Sunda Empire juga mengklaim memiliki anggota sebanyak 54 negara. Kelompok ini bahkan meminta negara-negara wajib melakukan daftar ulang pada Agustus 2020.
 
Ketiga petinggi Sunda Empire itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa, 28 Januari 2020. Ketiganya dianggap telah membuat keonaran dan menyiarkan berita bohong.
 
"Mereka dikenakan Pasal 14 dan atau 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. Ancaman hukuman setinggi-tingginya 10 tahun," kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Saptono Erlangga di Mapolda Jabar, Selasa, 28 Januari 2020.

3. King of The King

Sebuah spanduk yang memuat tulisan kerajaan mirip Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire muncul di Jalan Benteng Betawi, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Kemunculan spanduk tersebut membuat resah warga sekitar.
 
Spanduk bertuliskan King of The King YM Soekarno Mr Dony Pedro. Di bawahnya juga terdapat tulisan yang mengklaim jika kerajaan gadungan tersebut bekerja sama dengan Presiden Direktur Bank UBS, Presiden PBB, Presiden MI yang disebut terbentuk untuk melunasi utang negara.
 
Profil dan Modus Kerajaan Gadungan yang Ramai Belakangan
Sebuah spanduk yang memuat tulisan kerajaan abal-abal mirip Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire muncul di Jalan Benteng Betawi, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Selasa, 28 Januari 2020. Dokumentasi/ istimewa
 
Tak butuh lama polisi menetapkan dua petinggi kerajaan King of The King, Syrus Manggu Nata dan Prapto, sebagai tersangka. Keduanya diduga menyebarkan berita bohong atau hoaks.
 
"SMN dan P awalnya sebagai terlapor statusnya dan kini sudah jadi tersangka," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, di Tangerang, Kamis, 30 Januari 2020.
 
Kedua pelaku akan dijerat Pasal 14 dan atau 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. Ancaman hukumannya 10 tahun penjara.

Waspada kemunculan kerajaan gadungan baru

Kepolisian tidak tinggal diam melihat fenomena munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia akhir-akhir ini. Aparat penegak hukum bakal mengusut tuntas modus operandi dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan kerajaan tersebut.
 
"Ada berbagai macam modus yang dilakukan. Ya, tentunya itu apakah dari kegiatan tersebut akan merugikan orang lain atau merugikan negara, kita perlu dalami, kita selidiki," kata Kepala Biro (Karo) Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 23 Januari 2020.
 
Kewaspadaan munculnya kerajaan ini juga berlaku hingga Indonesia bagian timur. Kapolres Jayapura Kota, AKBP Gustav Urbinas mengatakan pihaknya terus memantau kemungkinan munculnya kerajaan-kerajaan fiktif seperti Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, dan King of The King.
 
Urbinas bahkan akan menindak tegas jika ada kelompok yang ingin mencoba membuat kerajaan gadungan. Terlebih kelompok itu terlibat dalam penipuan, pemerasan, termasuk menyalahi aturan keberadaan sebuah organisasi sesuai dengan undang-undang Ormas.
 
"Kami selalu mengawasi yang menyangkut agenda masyarakat. Sesuai dengan UU bahwa untuk setiap kegiatan kemasyarakatan harus mengurus ijin keramaian. Juga untuk badan atau organisasi harus terdaftar di Kesbangpol setempat," kata Urbinas.
 

 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif