Kapolri Jenderal Tito Karnavian--MI/Rommy Pujianto
Kapolri Jenderal Tito Karnavian--MI/Rommy Pujianto

Membaca Safari Keagamaan Tito Karnavian

Nasional kapolri ormas islam
Arga sumantri • 08 Februari 2018 09:28
Jakarta: Belakangan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian rutin melakukan safari keagamaan. Tito rajin menyambangi langsung tokoh dan organisasi masyarakat (ormas) Islam di beberapa tempat.
 
Rabu, 31 Januari misalnya. Tito menyambangi markas ormas Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor Pengurus Besar NU, Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Pertemuan itu juga dihadiri belasan ormas lain.
 
Tito menganggap kunjungannya ke sejumlah ormas, merupakan hal biasa. Versi Tito, kunjungannya kali ini tak lebih sebagai upaya merangkul ormas guna ikut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat menghadapi tahun politik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami mohon bantuan dengan ormas, tujuannya membuat pilkada aman, damai, tanpa konflik, dan Indonesia bisa maju," kata Tito di Kantor PBNU.
 
Safari keagamaan Tito berlanjut pada Selasa, 6 Februari. Saat itu, Tito menyambangi tokoh NU Salahudin Wahid atau karib disapa Gus Sholah. Mantan Kapolda Metro Jaya itu menjenguk Gus Sholah yang sudah enam hari dirawat di RS Pusat Otak Nasional (RS PON) Cawang, Jakarta Timur.
 
Setelah menjenguk Gus Sholah, Tito mengunjungi Kantor DPP Syarikat Islam Indonesia di Jalan Jelambar, Grogol, Jakarta Barat. Eks Kadensus 88 Anti Teror itu menekankan pesan agar seluruh pihak selalu mendinginkan suasana di tengah hangatnya pilkada serentak.
 
"Jangan sampai kalah dengan isu untuk kepentingan sektoral yang rawan provokatif dan perpecahan bangsa," kata Tito.
 
Baca: Kapolri Safari ke Tokoh Islam
 
Malam harinya, Tito menemui pimpinan Ormas Muhammadiyah, Din Syamsudin. Tito berdiskusi ringan dengan Din malam itu.
 
Kemudian, Rabu 7 Februari, Tito kembali melakukan safari keagamaan. Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu memulainya dengan mengunjungi salah satu tokoh muslim terkemuka Habib Ali Ali Bin Abdurahman Assegaf, di Tebet, Jakarta Selatan.
 
Kedatangan Tito sekaligus ingin menjenguk pimpinan Majelis Taklim Al-Afaf itu yang tengah terbaring sakit. Pertemuan Tito dan Habib Ali berlangsung tertutup. Usai pertemuan, Tito mengatakan kalau ia dan Habib Ali membicarakan banyak hal juga meminta doa.
 
"Doa-doa dukungan moril agar saya bisa bekerja dengan baik untuk menjaga bangsa ini, menjaga masyarakat keamanan dan ketertiban masyarakat sesuai tugas polisi," ucap Tito.
 
Tito meneruskan safari keagamaannya di hari itu dengan mengunjungi markas Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Senen, Jakarta Pusat. Pertemuan Kapolri dan pengurus serta pimpinan 14 ormas di bawah naungan DDII, berlangsung sekitar tiga jam.
 
Asumsi Safari Ajang Klarifikasi
 
Ada yang beranggapan safari keagamaan Tito Karnavian adalah bagian dari upaya klarifikasi atas potongan pidatonya yang viral di media sosial. Berikut isi potongan pidato Tito yang viral:
 
"Perintah saya melalui video konferens minggu lalu, dua minggu lalu, saat Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas, menghadapi situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah. Dukung mereka maksimal.
 
Baca: Jimly: Tak Ada Niat Buruk dari Pidato Kapolri
 
Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Semua Kapolres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota.
 
Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka itu bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya, ya. Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini, itu adalah NU dan Muhammadiyah.
 
Termasuk hubungan, kami berharap hubungan antara NU dan Muhammadiyah juga bisa saling kompak, satu sama lainnya. Boleh beda-beda pendapat, tapi sekali lagi kalau sudah bicara NKRI, mohon, kami mohon dengan hormat, kami betul-betul titip, kami juga sebagai umat muslim, harapan kami hanya kepada dua organisasi besar ini.
 
Selagi NU dan Muhammadiyah itu menjadi panutan semua umat Islam Indonesia, kita yakin negara kita tidak akan pecah seperti Suriah, Irak, dan lain-lain, Libya, Mesir, tidak akan bergolak. Karena kedua tiang ini jelas, ideologinya jelas, sangat pro Pancasila."
 
Beragam reaksi datang dari sejumlah tokoh Islam hingga politisi Senayan. Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Indonesia, Hamdan Zoelva, tabayyun dengan menyambangi rumah dinas Kapolri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 
Hamdan Zoelva mengatakan, Tito telah menyampaikan permintaan maaf atas video potongan pidatonya yang jadi buah bibir warganet.
 
"Beliau mengatakan kalau memang ada yang kurang, ada yang salah, saya memohon maaf. Beliau sampaikan begitu," kata Zoelva di rumah dinas Kapolri, Rabu 31 Januari.
 
Tito juga menjelaskan soal nukilan pidatonya itu di markas PBNU. Tito menjelaskan, itu merupakan pidato lawasnya pada 2017. Kala itu, Tito berpidato di Pondok Pesantren Annawawi, Serang, Banten, dalam acara Nahdlatul Ulama pada 8 Februari 2017. Pondok pesantren itu diketahui diasuh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Maaruf Amin.
 
Tito mengatakan, pidato yang asli berdurasi sekitar 26 menit. Sementara, video yang viral itu hanya sekitar dua menit. "Dua menit itu mungkin ada bahasa-bahasa yang kalau hanya dicerna dua menit itu mungkin membuat beberapa pihak kurang nyaman," kata Tito.
 
Mantan Kapolda Papua itu pun menegaskan tak pernah punya niat menafikan ormas selain NU dan Muhammadiyah. Tito pun menganggap masalah itu sudah selesai.
 
"Sedikit pun tidak ada niat dari saya sebagai Kapolri termasuk institusi Polri untuk tidak membangun hubungan dengan organisasi Islam di luar NU dan Muhammadiyah. Polri sangat berkepentingan untuk membangun hubungan baik dengan ormas manapun sepanjang satu visi. Artinya menegakkan NKRI dan Pancasila," ujarnya.
 
"Jajaran kepolisian lainnya di polda, polres saya akan perintahkan juga untuk membangun hubungan yang sama ke bawah, dengan ormas-ormas Islam yang ada," tuturnya.
 
Safari keagamaan Tito dipastikan terus berlanjut. Ia sudah mengagendakan kunjungan berikutnya ke sejumlah lokasi di luar Jakarta.
 
"Saya juga rencana akan mendatangi kantor dan markas ormas Islam yang lain. Ke Medan, Persis di Bandung, di Majalengka juga ada kemudian Wahda Islamiyah di Sulsel," ucap Tito.
 
Tito berharap safari keagamaannya kali ini juga tidak dimaknai sebagai langkah politis. "Sekali lagi saya sampaikan tidak ada sedikit pun kepentingan politik saya pribadi. Jangan nanti diterjemahkan 'Wah Kapolri safari ke mana-mana kepentingan politik'. Tidak ada. Keinginan saya cuma satu bangun hubungan dengan semua elemen masyarakat utama ormas Islam untuk menjaga keutuhan NKRI," ujar Tito di markas DDII.

 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif