Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. MI Pius Erlangga
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. MI Pius Erlangga

Satu Tersangka Kasus Suap Krakatau Steel Buron

Nasional krakatau steel OTT KPK
Husen Miftahudin • 23 Maret 2019 21:16
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah memburu satu tersangka suap pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel (PTKS), Kurniawan Eddy Tjokro (KET). Kurniawan merupakan pihak swasta yang berperan sebagai pemberi suap.
 
"Kami mengimbau kepada KET yang sekarang masih berada dalam posisi pencarian. Kami minta untuk segera datang ke Gedung Merah Putih KPK untuk menyerahkan diri guna proses lebih lanjut," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu, 23 Maret 2019.
 
Lembaga Antirasuah sudah menetapkan empat tersangka dalam kasus proyek pengadaan kontainer dan boiler di pabrik blast furnace PTKS, Cilegon, Banten. Selain Kurniawan, KPK juga menetapkan Kenneth Sutardja (KSU) sebagai tersangka, keduanya diduga sebagai pemberi suap. Kemudian, Direktur Teknologi dan Produksi PTKS Wisnu Kuncoro (WNU) dan Alexander Muskitta (AMU) dari swasta sebagai penerima suap.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Direktur Krakatau Steel Jadi Tersangka Kasus Suap
 
Ihwal suap ini terjadi pada 2019, saat Direktorat Teknologi dan Produksi PTKS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan, masing-masing bernilai Rp24 miliar dan Rp2,4 miliar. AMU diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada WNU dan disetujui.
 
AMU menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT Grand Kartech (PTKS) dan Group Tjokro (GT) senilai 10 persen dari nilai kontrak. "AMU diduga bertindak mewakili dan atas nama WNU sebagai Direktur Teknologi dan Produksi PTKS)," jelas Saut.
 
Selanjutnya, AMU meminta Rp50 juta kepada KSU dari PTGK dan Rp100 juta kepada KET dari GT. Pada 20 Maret 2019, AMU menerima cek Rp50 juta dari KET yang kemudian disetorkan ke rekening AMU.
 
Kemudian, AMU juga menerima uang sebanyak USD4 ribu atau setara Rp56,64 juta dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening AMU.
 
"Pada tanggal 22 Maret 2019, uang Rp20 juta diserahkan AMU ke WNU di kedai kopi di daerah Bintaro, Tangerang Selatan," jelas Saut.
 
Baca Juga:KPK Tangkap 2 Orang terkait OTT Krakatau Steel
 
Saut mengungkapkan total uang yang diamankan saat penangkapan senilai Rp20 juta dalam sebuah kantung kertas berwarna cokelat. Dari AMU, tim mengamankan sebuah buku tabungan atas nama AMU.
 
Atas perbuatannya, WNU dan AMU sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan KSU dan KET selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(ADN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif