Sidang mendengarkan keterangan saksi untuk terdakwa Hendra Kurniawan. (Medcom.id/Fachri)
Sidang mendengarkan keterangan saksi untuk terdakwa Hendra Kurniawan. (Medcom.id/Fachri)

Eks Staf Pribadi Ferdy Sambo Tak Tahu Soal Surat Penyelidikan Kasus Kematian Brigadir J

Fachri Audhia Hafiez • 08 Desember 2022 16:15
Jakarta: Saksi sekaligus mantan Staf Pribadi Ferdy Sambo, Novianto Rifai, mengaku tidak tahu terkait surat perintah penyelidikan (sprinlidik) kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Ketidaktahuan itu bermula saat dia dikonfirmasi soal prosedur penerbitan surat yang diketahui saksi.
 
"Saksi kan staf pribadi (eks) Kadiv Propam Ferdy Sambo, yang saya tanyakan kebiasan saudara saksi, kalau terkait surat misalnya surat perintah itu biasanya, dibuat ditandatangani pada jam kerja atau bisa mendadak malam di tanda tangani," kata jaksa penuntut umum (JPU) saat persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis, 8 Desember 2022.
 
"(Bisa) mendadak, kalau surat perintah mendadak itu kan surat urgen. Biasanya surat urgen yang dibutuhkan tanda tangani," ujar Novianto yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Hendra Kurniawan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, kategori surat urgen itu bisa diterbitkan sesuai kebutuhan perintah. Kemudian, bisa di luar prosedur jam kerja pukul 07.00 dan 15.00 WIB.
 
"Malam itu (bisa ditandatangani)," ucap Novianto.

Baca: Ferdy Sambo Emosional saat Dicecar Perannya dalam Penembakan Brigadir J


Sprinlidik, kata Novianto, bisa ditandatangani selain Kadiv Propam dan tidak boleh ditandatangani di luar kantor. Sementara, pejabat Polri yang berkenaan yakni petinggi di Divisi Propam Polri.
 
Jaksa menanyakan soal sprinlidik terkait kasus pembunuhan Brigadir J. Namun, dia tak mengetahuinya.
 
"Saksi tahu surat perintah penyelidikan surat perintah yang ditandatangani Hendra Kurniawan tahu tidak?" tanya jaksa
 
"Tidak tahu (surat sprinlidik)," ujar Novianto.
 
Sebelumnya, Hendra Kurniawan melalui kuasa hukumnya, Henry Yosodiningrat, memperlihatkan surat sprinlidik. Penerbitan surat itu sempat diragukan oleh tim jaksa penuntut umum (JPU).

Baca: Momen Hakim Cecar Ferdy Sambo karena Bantah Ikut Menembak Brigadir J


Sprinlidik itu diperlihatkan untuk membantah pernyataan Wakil Kepala Detasemen (Wakaden) C Biro Paminal AKBP Radite Hernawa dalam berita pemeriksaan acara (BAP) yang menyebutkan Hendra Kurniawan dan terdakwa Agus Nurpatria melakukan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) terkait penyelidikan lantaran mengamankan barang bukti berupa CCTV.
 
"Di halaman 17 (BAP) kamu menerangkan tindakan HK (Hendra Kurniawan) dan ANP (Agus Nurpatria) tidak sesuai dengan peraturan Kapolri dan Perkadiv dalam menangani kasus ini," kata Henry Yosodiningrat saat persidangan di PN Jaksel, Kamis, 1 Desember 2022.
 
"Apa penjelasan yang bisa disimpulkan bahwa perbuatan tidak sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi)?” tanya Henry.
 
“Dalam penyampaian penjelasan dalam penyidik, tidak pernah disampaikan adanya laporan, informasi, atau surat perintah,” ujar Radite.

Baca: Tepis Keterangan Ferdy Sambo, Bharada E: Banyak yang Salah 


Henry mengungkapkan ada sprin yang telah diterbitkan kepada kliennya. Namun, Radite mengaku tidak pernah diperlihatkan soal sprin itu.
 
Henry kemudian berdiri dan membawa sprin untuk Agus dan Hendra ke meja majelis hakim.
 
“Pernah diperlihatkan?” tanya hakim ke Radite.
 
“Tidak,” ujar Wakaden C Biro Paminal itu
 
“Kalau dilihatkan pendapat bakal beda?” tanya hakim
 
“Berbeda,” jawab Radite.
 
(LDS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif