NEWSTICKER
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. ANT/Dhemas Reviyanto.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. ANT/Dhemas Reviyanto.

ICW Heran Kapolri Tak Mematuhi Presiden

Nasional novel baswedan
Ilham Pratama Putra • 01 Agustus 2019 18:12
Jakarta: Indonesia Corruption Watch (ICW) heran Kapolri Jenderal Tito Karnavian tak mematuhi Presiden Joko Widodo dalam memasang tenggat waktu penyelesaiankasus penyiraman penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Kapolri memasang target penyelesaian kasus selama enam bulan, bukan tiga bulan sesuai perintah Presiden.
 
"Yang seharusnya Presiden jadi panglima tertinggi Kepolisian, kok seolah tidak mematuhi. Jadi ada kekeliruan menjalankan instruksi Presiden. Jangan sampai ini coba diulur," kata peneliti ICW Wana Alamsyah di Kantor ICW, Jakarta Selatan, Kamis 1 Agustus 2019.
 
Baca: Tim Teknis Kaji Temuan Investigasi Terdahulu

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wana menilai kasus yang menimpa Novel Baswedan bukan masalah pribadi. Kasus ini berhubungan dengan masalah keamanan yang dihadapi pegiat antikorupsi. Wana ingin Presiden mengambil sikap tegas dalam penyelesaian kasus ini.
 
"Dan ini perlu di-challange ke Jokowi, apakah dia ingin nanti di tiga bulan ke depan progresnnya semacam apa," kata Wana.
 
Menurutnya, tak ada alasan mengulur waktu untuk mengungkap kasus Novel. Sebanyak 90 anggota Polri telah diterjunkan mengunkap kasus yang tak kunjung beres ini.
 
"Apalagi, padahal sudah banyak bukti bertebaran, bahkan 100 bukti lebih. Nah ini menjadi tidak masuk akal ketika, mengatakan kalau 6 (bulan) tidak berhasil mengungkap, ya ditambah lagi 6 bulan," jelas Wana.
 
Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menandatangani surat perintah penyidikan (sprindik) tim teknis. Tim tersebut akan bekerja enam bulan mengusut kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.
 
Tim teknis bentukan Polri itu bakal mulai bekerja pada Kamis, 1 Agustus 2019. Tugas mereka dibagi sesuai sprindik berdasarkan kompetensi dan kemampuan personel. Tim teknis akan diisi personel yang memiliki kemampuan khusus. Salah satunya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
 
Novel diserang orang tak dikenal usai salat subuh di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa, 11 April 2017. Dua tahun lebih pascateror, polisi belum juga mengungkap sosok pelaku.
 
Kapolri Jenderal Tito Karnavian kemudian membentuk TPF untuk mengungkap kasus ini Selasa, 8 Januari 2019. Pembentukan tim ini adalah rekomendasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
 
Setelah enam bulan bertugas, TPF menduga teror terhadap Novel bermotif balas dendam. Kasus korupsi kasus yang ditangani Novel diduga menciptakan dendam akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan.
 
Teror ini kemungkinan besar bisa dilakukan seorang diri. Aktor penyerangan diduga memerintahkan orang lain melakukan aksi. Penyerangan diduga berkaitan dengan enam kasus yang ditangani Novel di KPK.
 
Baca:Istana Ngotot Kasus Novel Tuntas Tiga Bulan
 
TPF mencurigai tiga orang yang diduga kuat berkaitan dengan teror terhadap Novel. Mereka sempat berada sekitar rumah Novel sebelum penyerangan.
 
Satu orang tak dikenal (OTK) mendatangi rumah Novel, Jalan Deposito T8, RT 03/RW 10, Kelapa Gading, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, pada Rabu, 5 April 2017. Dua OTK lainnya terlihat di Masjid Al-Ihsan, Senin, 10 April 2017.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif