Sidang unlawful killing di PN Jaksel. Foto: Medcom.id/Aria Triyudha
Sidang unlawful killing di PN Jaksel. Foto: Medcom.id/Aria Triyudha

Sidang Unlawful Killing, Begini Kronologi Penembakan Laskar FPI Versi Dakwaan

Aria Triyudha • 19 Oktober 2021 03:14
Jakarta: Sebanyak dua personel Resmob Polda Metro Jaya, Fikri Ramadhan dan Yusmin Ohorella, didakwa membunuh dan menganiaya. Keduanya terseret kasus unlawful killing atau penembakan di luar hukum terhadap empat eks anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI).
 
Dalam dakwaan unlawful killing itu, jaksa penuntut umum (JPU) mengatakan pembunuhan dan penganiayaan empat mantan laskar FPI itu terjadi di Kilometer (KM) 50 Tol Jakarta-Cikampek pada Senin, 7 Desember 2020. Kasus bermula dari ketidakhadiran Muhammad Rizieq Shihab pada pemeriksaan kedua kasus pelanggaran protokol kesehatan (prokes) di Polda Metro Jaya.
 
"Ternyata Rizieq menghindar dengan berbagai alasan dan tidak hadir. Polda Metro Jaya kemudian mendapat informasi pendukung massa Rizieq pada Senin, 7 Desember 2020, akan memutihkan, geruduk, dan kepung Polda Metro Jaya pada saat pemeriksaan Rizieq," ujar jaksa saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin, 18 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Polda Metro Jaya mengantisipasi pergerakan itu. Terdakwa Briptu Fikri Ramadhan, terdakwa Ipda M Yusmin Ohorella, Ipda Elwira Priadi Z (telah meninggal), saksi Aipda Toni Suhendar, Bripka Adi I, Bripka Faisal KA, dan Bripka Guntur P diperintahkan menyelidiki rencana massa pendukung Moh Rizieq mendatangi Polda.
 
Mereka kemudian memantau simpatisan Rizieq Shihab di perumahan The Nature Mutiara Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan tiga mobil, pada Minggu, 6 Desember 2020, pukul 22.00 WIB. Para polisi itu membuntuti ketika rombongan Rizieq meninggalkan perumahan itu menggunakan 10 mobil.
 
Baca: Sidang Unlawful Killing Eks Laskar FPI, Ini Dakwaan 2 Polisi
 
Mobil yang dikemudikan Bripka Faisal KA dan ditumpangi Briptu Fikri Ramadhan, Ipda M Yusmin Ohorella, Ipda Elwira Priadi Z dihalangi mobil Chevrolet Spin abu-abu dan Toyota Avanza silver. Gesekan itu terjadi di Pintu Keluar Tol Karawang Timur pada Senin dini hari, 7 Desember 2020 pukul 00.05 WIB.
 
Di Jalan International atau Jalan Interchange Kabupaten Karawang, mobil Toyota Avanza yang dikemudikan anggota FPI menyenggol mobil polisi. Meski sempat mengejar, mobil polisi kemudian dipepet dan diberhentikan mobil Chevrolet Spin. 
 
Sebanyak empat orang membawa senjata tajam muncul dari dalam mobil Chevrolet. Mereka menghampiri mobil berisi polisi tersebut. Salah seorang di antaranya kemudian menyerang dan mengarahkan senjata tajam ke kaca depan mobil.
 
Para polisi itu merespons dengan melontarkan tembakan peringatan ke atas. Mereka berteriak "polisi" dan meminta keempat orang itu tak bergerak. Keempat anggota FPI itu lalu berlari ke arah mobil yang ditumpangi.
 
Tidak lama berselang, dua orang muncul dari mobil laskar FPI dan  mengarahkan tembakan ke mobil polisi hingga tiga kali. Polisi membalas tembakan itu. Pasalnya, para anggota FPI itu berencana kabur. 
 
Anggota laskar FPI, Faiz AS, tertembak di bagian lengan oleh Bripka Faisal KA. Anggota FPI, Andi Oktiawa, tertembak di punggung kiri. Meski tertembak, kedua laskar FPI itu masuk ke mobil Chevrolet Spin. 
 
Aksi kejar-kejaran diwarnai saling tembak terjadi. Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella mengarahkan tembakannya ke arah penumpang bagian belakang mobil. Sementara itu, anggota FPI yang menembak ada di bagian depan pengemudi.
 
Mobil yang dikemudikan polisi kemudian menemukan mobil laskar FPI di Rest Area KM 50 di Tol Karang Barat. Mobil itu menabrak pembatas jalan dan kendaraan yang sedang terparkir.
 
 

Bripka Faisal KA, Briptu Fikri Ramadhan, Ipda M Yusmin Ohorella, dan Ipda Elwira menghampiri mobil yang ditumpangi anggota FPI. Mereka diminta turun dari mobil. Saat itu, ada enam anggota FPI. 
 
Polisi menemukan Faiz AS dan Andi Oktiawan telah meninggal. Sementara, empat anggota FPI lainnya, M Luthfil Hakim, Akhmad Sofyan, M Reza, dan Muhammad Suci Khadafi Poetra, diminta tiarap dengan tangan tak terborgol atau terikat.  Polisi, kata jaksa, sebenarnya wajib mengikat tangan pelaku kejahatan ketika tertangkap.
 
Keempat anggota FPI itu dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke Polda Metro Jaya. Mereka dikawal Briptu Fikri Ramadhan, Ipda M Yusmin Ohorella, dan Ipda Elwira Priadi. Namun, pengawalan dan pengamanan ini tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP).
 
Dalam perjalanan, anggota FPI M Reza dibantu Luthfil Hakim mencekik leher Briptu Fikri. Sofyan dan Suci Khadafi turut membantu menyeroyok dan menjambak Briptu Fikri.
 
Mengetahui kejadian itu, Ipda M Yusmin Ohorella mengurangi kecepatan kendaraannya. Ipda Elwira Priadi menembak Luthfil Hakim hingga empat kali dan A Sofyan dua kali.
 
Ipda M Yusmin Ohorella disebut seharusnya menepikan mobil sebagai pengendali kendaraan sekaligus pimpinan rombongan. Hal ini sesuai hierarki kepangkatan dan senioritas. Jaksa menilai Ipda M Yusmin Ohorella wajib menghentikan pengeroyokan dan percobaan perampasan senjata itu.
 
"Kalaupun terpaksa bisa menggunakan senjata api hanya sekadar melumpuhkan mengingat keempat anggota FPI itu tak lagi memiliki senjata tajam atau senjata api sebagaimana Pasal 44 ayat 2 Perkap RI Nomor 8 Tahun 2009 tentang penyelenggaraan tugas kepolisian," terang jaksa.
 
Ipda M Yusmin Ohorella dinilai bersalah karena membiarkan Ipda Elwira Priadi memanfaatkan senjata apinya menembak Luthfil Hakim dan Ahmad Sofyan ke sasaran mematikan di bagian dada. Tindakan ini dinilai sengaja untuk merampas nyawa orang lain melalui penembakan tanpa memperkirakan akibatnya.
 
Sementara itu, Briptu Fikri setelah terlepas dari cekikan dan dalam kondisi aman, disebut jaksa, tanpa rasa belas kasihan sengaja merampas nyawa orang lain. Dia menembak dada kiri M Reza hingga dua kali dan M Suci Khadafi tiga kali.
 
Keempat anggota FPI itu tewas. Ipda M Yasmin Ohorella lalu menepikan kendaraannya. Ia melapor kepada Kompol Ressa F Marassa Bessy. Briptu Fikri Ramadhan, Ipda M Yusmin Ohorella, dan Ipda Elwira PZ diperintahkan membawa keempat anggota FPI itu ke RS Polri untuk penanganan medis.
 
Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella oleh jaksa dikenakan dakwaan primer Pasal 338 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan. Sementara itu, dakwaan subsider terkait Pasal 351 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan.
 
Persidangan terdakwa unlawful killing, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella, dilanjutkan Selasa, 26 Oktober 2021. Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi.
 
(OGI)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif