NEWSTICKER
Sidang pemeriksaan saksi untuk terdakwa Direktur Keuangan PT AP II Andra Yastrialsyah. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang pemeriksaan saksi untuk terdakwa Direktur Keuangan PT AP II Andra Yastrialsyah. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Direktur PT AP II Sempat Tolak Beri Uang Muka Proyek BHS

Nasional Kasus Suap angkasa pura ii
Fachri Audhia Hafiez • 26 Februari 2020 15:05
Jakarta: Direktur Pelayanan dan Fasilitas Bandara PT Angkasa Pura (AP) II Persero, Ituk Herarindri, mengaku pernah menolak permintaan uang muka yang diajukan anak perusahaan, PT Angkasa Pura Propertindo (APP). PT APP ditujuk sebagai pelaksana proyek Semi Baggage Handling System (BHS) di PT AP II.
 
Ituk menjelaskan, perjanjian pekerjaan itu diteken 11 Januari 2019. Proyek menelan biaya Rp143,825 miliar. PT APP akan menerima uang muka 15 persen dari jumlah itu.
 
"Itu sekitar Rp21 miliar," kata Ituk saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Direktur Keuangan PT AP II Andra Yastrialsyah di Pengadilan Tindak Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ituk mengatakan PT APP baru mengajukan permohonan uang muka melalui Direktur PT APP Wisnu Raharjo, April 2019. Permohonan tersebut diajukan melalui anak buah Ituk, Marzuki Battung, selaku Executive General Manager Airport Construction Division PT AP.
 
"Saya pikir, kenapa ini di tanda tangannya bulan Januari tapi baru mengajukan down payment-nya April. Kan ada selisih empat bulan. Saya berpikir, kok lama sekali ya, ada apa. Nah kemudian saya menanyakan kepada Pak Uki (Marzuki), Pak ini proyeknya jalan enggak? 'Belum, Bu'," beber Ituk.
 
(Baca:Pinjaman Uang ke Eks Dirkeu AP II Gunakan Tanda Tangan Palsu)
 
Ituk menolak mengeluarkan Rp21 miliar kepada PT APP karena belum ada kejelasan progres awal pekerjaan. Mulai dari administrasi atau dari sisi pelaksanaan masih 'gelap'.
 
"Dalam kontrak, PT AP II berhak membatalkan atau memutuskan perjanjian ini baik sebagian atau seluruhnya apabila terpenuhi salah satu keadaan di bawah ini. Kemudian pelaksana pekerjaan belum atau tidak memulai pelaksanaan pekerjaan setelah 14 hari kalender. Maksimalnya kan 25 januari (sejak 11 Januari 2019) ya, bisa ditagihkan," jelas Ituk.
 
Andra Yastrialsyah didakwa menerima suap USD71.000 dan 96.700 dolar Singapura dari mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Darman Mappangara. Suap diberikan agar mengupayakan PT INTI menjadi pelaksana pekerjaan pengadaan dan pemasangan Semi BHS di kantor cabang PT AP II antara PT APP dan PT INTI.
 
Andra didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan, Darman Mappangara dituntut hukuman tiga tahun penjara terkait kasus ini. Dia juga dituntut membayar denda Rp200 juta subsider lima bulan kurungan.
 
(Baca:Dirut PT INTI Klaim Berjuang Menghidupkan Perusahaan)
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif