Bentrok warga di Yahukimo, Papua/Metro TV
Bentrok warga di Yahukimo, Papua/Metro TV

Polisi Minta Warga Tak Takut Bersaksi untuk Kasus Kerusuhan di Yahukimo

Media Indonesia.com • 08 Oktober 2021 09:34
Dekai: Kapolres Yahukimo AKBP Deni Herdiana meminta warga suku Yali tidak takut untuk menjadi saksi dalam perkara penyerangan yang berujung pada kericuhan di Distrik Dekai, Yahukimo, Papua, pada Minggu, 3 Oktober 2021.
 
Pasalnya dalam insiden itu, warga suku Yali diserang oleh massa dari Suku Kimyal. Polisi pun menduga penyerangan dipicu oleh isu kematian mantan Bupati Yahukimo, Abock Busup.
 
"Kami minta bila masyarakat melihat pelaku lain agar segera melaporkan kepada kami, jangan takut untuk dijadikan saksi atas kejadian tersebut," kata Deni, Jumat, 8 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut dijelaskannya, kepolisian saat ini masih melakukan pengembangan terhadap penanganan insiden yang menyebabkan enam orang warga meninggal dalam kericuhan tersebut.
 
Baca juga: Aktivitas Pariwisata di Garut Disetop Sementara
 
Kendati demikian, kepolisian berterima kasih karena masyarakat Suku Yali tak melakukan aksi pembalasan pasca-diserang oleh Suku Kimyal. Sehingga, kata dia, keamanan di wilayah Yahukimo dapat terjaga.
 
"Kami dari Polres Yahukimo mengimbau untuk sama-sama kita menjaga keamanan dan ketertiban pasca-kejadian kemarin," jelasnya.
 
Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan penyidik masih memungkinkan untuk menetapkan tersangka baru dalam kasus ini.
 
Sejauh ini sudah ada 22 orang yang dijerat tersangka oleh kepolisian usai menyebabkan ribuan orang mengungsi pasca-kericuhan.
 
Baca juga: Populer Daerah, Anak Diturunkan di Tol Jakarta-Cikampek Hingga 5 Tewas Akibat Gas Beracun
 
"Penyidik masih mendalami terus. Kemungkinan ada tersangka baru sangat besar," kata Rusdi kepada wartawan.
 
Sebelumnya, aksi penyerangan di Yahukimo diduga terjadi karena masyarakat suku Kimyal tersulut isu negatif terkait kematian Abock Busup di Hotel Grand Mercure, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, pada 3 Oktober 2021.
 
Namun demikian, kepolisian mengeklaim tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dibalik kematian mantan Bupati itu. Abock meninggal di Jakarta ketika sedang transit. Ia kala itu endak mengikuti kegiatan di Bali sehingga harus bermalam di Jakarta.
 
Polisi, kata Rusdi, belum mengetahui secara rinci mengenai penyebab kematian Abock. Dia hanya menjelaskan bahwa Abock pertama kali ditemukan oleh seorang petugas hotel yang tak bisa membuka kamar miliknya.
 
"Keterangan dokter yang menangani atau menerima jenazah di Rumah Sakit, didapati keterangan bahwa ketika datang dead on arrival. Artinya korban telah meninggal ketika sampai di RS," ungkapnya. (Hilda Julaika)
 
(MEL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif