Bangkalan: Pantai Tlangoh di Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur kembali dibuka. Menariknya pantai sepanjang dua kilometer disulap memiliki beraneka spot foto dan meingkatkan perekonomian desa.
Kepala Desa Tlangoh Kudrotul Hidayat mengatakan, selain dilengkapi spot foto menarik, pantai juga dilengkapi fasilitas payung untuk berteduh, fasilitas berendam, dan toilet. Pantai juga punya puluhan warung makan dan minum yang siap melayani pengunjung.
“Konsepnya memang wisata keluarga. Anak-anak bebas bermain, orang tua mengawasi dan menikmati,” kata Kudrotul.
Menurut Kudratul, Pantai Tlangoh juga memiliki petugas kebersihan dan penjaga pantai. Tugasnya untuk menjaga keamanan dan kebersihan serta memastikan tidak ada yang berbuat tak senonoh di Pantai Tlangoh.
“Boleh saja datang bawa pacar. Tapi jangan macam-macam. Kami punya petugas penjaga pantai yang mengawasi perilaku pengunjung,” kata Kudrotul.
Menurut Kudrotul, Pantai Tlangoh sebenarnya sudah terkenal sejak lama karena diyakini punya khasiat bisa menyembuhkan segala penyakit. Mereka yang ingin sembuh dari sakit gatal-gatal hingga stroke biasanya berendam sejak pagi hingga matahari bersinar.
“Mereka baru boleh mandi air tawar setelah air hasil berendam menguap tuntas atau bersih,” kata Kundrotul.
Masalahnya, kepopuleran Pantai Tlangoh tidak bisa membangkitkan perekenomian warga. Lebih dari itu pantai ini dipenuhi sampah.
Nasib Pantai Tlangoh yang merana itulah yang membuat Kades dan pemuda desa mulai berpikir untuk menjadikan sebagai objek wisata.
“Karena itulah kami di awal tahun 2020 mendiskusikan dengan PHE WMO. Ternyata mendapat sambutan, dan bahkan dukungan serta bimbingan,” kata Kudrotul.
Destinasi wisata baru ini dibuka sekitar 7 bulan lalu, atau tepatnya sekitar Mei 2020. Dibuka justru saat pandemi Covid-19 terjadi.
“Covid-19 tidak menghalangi semangat anak-anak muda di Desa Tlangoh untuk bangkit," ungkap Kudratul.
Berkat dukungan PHE WMO, perangkat desa yang dipimpin oleh Kades kini bahu-membahu dengan kelompok sadar wisata, dan pemangku kepentingan lainnya mengubah pantai yang kumuh menjadi destinasi wisata keluarga andalan.
Kini setidaknya ada 100 warga Desa Tlangoh yang hidup dari tempat wisata ini, mulai jadi penjaga pantai, petugas kebersihan, penjaga parkir, penjaga pintu masuk, penjual tiket, penjaga toilet, penjaga warung hingga pemilik warung.
“Kami masih menabung untuk menambah wahana foto selfie dan mengembangkan permainan laut seperti parasailing, banana boat dan sejenisnya,” kata Kudrotul.
General Manager PHE WMO Dwi Mandhiri mengatakan keberhasilan Pantai Tlangoh, melengkapi keberhasilan PHE WMO saat mengembangkan Taman Pendidikan Mangrove (TPM) Labuhan, Program Wisata Laut Labuhan, Eco Edufarming Bandangdaja. Empat program unggulan itulah yang mengantarkan PHE WMO meraih Proper Emas di tahun 2020.
"Program ini menitikberatkan pada sektor wisata melalui pengembangan pariwisata di pesisir utara Bangkalan, Jawa Timur dengan target mewujudkan One Belt One Road (OBOR) pariwisata setempat," kata Dwi.
Proper Emas tahun diberikan pada PHE WMO karena dinilai berhasil mengimplementasikan kinerja lingkungan di internal perusahaan melalui upaya dan inovasi-inovasi sektor sumber daya alam, serta kontribusi di eksternal perusahaan melalui payung program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pengelolaan lingkungan potensi alam di Bangkalan.
Menurut Dwi, selain fokus pada pengembangan pariwisata di Pantau Utara, PHE WMO selama 2020 juga menyalurkan bantuan pendidikan untuk 199 siswa di Kecamatan Tanjungbumi, bantuan 3.136 paket sembako untuk nelayan Desa Macajah, Tlangoh, Banyusangka, dan Klampis Barat.
Selain itu juga membantu UMKM Desa Bandangdajah PIRT hasil bumi serta penyediaan usaha intslasi air isi ulang. Sementara bantuan pengembangan usaha nelayan du Desa Tlangoh dan Klampis Barat berupa alat tangkap rajungan.
Untuk bantuan fisik, antara lain, diwujudkan lewat renovasi jalan rusak di Desa Alas Kembang dan Banyusangka. Salah satu program lainnya adalah penyediaan tempat sampah segregasi untuk mendukung program sekolah lingkungan.
Dwi bersyukur pada tahun ini PHE WMO kembali meraih predikat Emas yang sebelumnya pernah dua kali diterima pada 2016 dan 2017. Penghargaan ini dapat diraih atas kerjasama yang baik, antara perusahaan dan masyarakat sekitar dalam implementasi program-program di bidang lingkungan dan pengembangan masyarakat.
“PHE WMO terus berupaya mengembangkan program yang memunculkan kemandirian dan berkelanjutan serta dijalankan dalam sebuah mekanisme partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan," kata Dwi.
General Manager PHE WMO Dwi Mandhiri mengatakan keberhasilan Pantai Tlangoh, melengkapi keberhasilan PHE WMO saat mengembangkan Taman Pendidikan Mangrove (TPM) Labuhan, Program Wisata Laut Labuhan, Eco Edufarming Bandangdaja. Empat program unggulan itulah yang mengantarkan PHE WMO meraih Proper Emas di tahun 2020.
"Program ini menitikberatkan pada sektor wisata melalui pengembangan pariwisata di pesisir utara Bangkalan, Jawa Timur dengan target mewujudkan One Belt One Road (OBOR) pariwisata setempat," kata Dwi.
Proper Emas tahun diberikan pada PHE WMO karena dinilai berhasil mengimplementasikan kinerja lingkungan di internal perusahaan melalui upaya dan inovasi-inovasi sektor sumber daya alam, serta kontribusi di eksternal perusahaan melalui payung program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pengelolaan lingkungan potensi alam di Bangkalan.
Menurut Dwi, selain fokus pada pengembangan pariwisata di Pantau Utara, PHE WMO selama 2020 juga menyalurkan bantuan pendidikan untuk 199 siswa di Kecamatan Tanjungbumi, bantuan 3.136 paket sembako untuk nelayan Desa Macajah, Tlangoh, Banyusangka, dan Klampis Barat.
Selain itu juga membantu UMKM Desa Bandangdajah PIRT hasil bumi serta penyediaan usaha intslasi air isi ulang. Sementara bantuan pengembangan usaha nelayan du Desa Tlangoh dan Klampis Barat berupa alat tangkap rajungan.
Untuk bantuan fisik, antara lain, diwujudkan lewat renovasi jalan rusak di Desa Alas Kembang dan Banyusangka. Salah satu program lainnya adalah penyediaan tempat sampah segregasi untuk mendukung program sekolah lingkungan.
Dwi bersyukur pada tahun ini PHE WMO kembali meraih predikat Emas yang sebelumnya pernah dua kali diterima pada 2016 dan 2017. Penghargaan ini dapat diraih atas kerjasama yang baik, antara perusahaan dan masyarakat sekitar dalam implementasi program-program di bidang lingkungan dan pengembangan masyarakat.
“PHE WMO terus berupaya mengembangkan program yang memunculkan kemandirian dan berkelanjutan serta dijalankan dalam sebuah mekanisme partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan," kata Dwi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)