Anggota Parlemen Malaysia Dato' Kamarudin Jaffar. Foto: MTVN/Raiza Andini
Anggota Parlemen Malaysia Dato' Kamarudin Jaffar. Foto: MTVN/Raiza Andini

Parlemen Malaysia Sebut Pelanggaran HAM di Rakhine Memilukan

Nasional konflik myanmar parlemen rohingya pengungsi rohingya
Raiza Andini • 06 September 2017 20:13
medcom.id, Nusa Dua: Konflik etnis Rohingya menuai berbagai kecaman di dunia, terutama anggota ASEAN. Sejumlah negara seperti Indonesia, Bangladesh dan juga Malaysia pun membuka diri bagi etnis Rohingya yang terusir dari negaranya.
 
Anggota Parlemen Malaysia Dato' Kamarudin Jaffar meminta pemerintah Myanmar untuk menghentikan aksi pelanggaran HAM di Rakhine State tersebut. Kamaruddin menyebut konflik di Rakhine State amat menyayat hati.
 
"Perkembangan yang berlaku saat ini amat memilukan amat menyedihkan. Ratusan ribu rakyat Myanmar keturunan Rohingya yang terpaksa mencoba lari dari negara Myanmar," terang Kamarudin usai rapat pleno di WPF, BNDCC, Nusa Dua, Bali, Rabu 6 September 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Baca: Ketidakhadiran Myanmar di Parlemen Dunia Amat Disayangkan)
 
Banyak pengungsi yang ditolak oleh negara tetangga saat mereka meminta perlindungan. Tak sedikit dari mereka yang tewas kelaparan dan terkena musibah saat berlayar melintas ke negara lain via laut.
 
"Gambar-gambar yang kita terima sudah menghadapi kematian yang amat ganas, cara pembunuhan yang ganas. Jadi saya dan rakyat Malaysia menganggap ini sebagai suatu yang terlarang pada sisi kemanusiaan, ini sangat menyedihkan," katanya.
 
(Baca: Myanmar Abstain dalam Pertemuan Parlemen Dunia di Bali)
 
Tercatat pengungsi Rohingya di Malaysia sudah mencapai ratusan ribu jiwa. Namun, pada tahun ini belum ada pengungsi dari Rakhine yang masuk lagi ke Malaysia.
 
Kamarudin berharap seluruh anggota parlemen di dunia mampu berperan aktif dan bersikap tegas menanggapi tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan tentara Myanmar.
 
"Seluruh parlemen di dunia harus tindak tegas di Myanmar bahwa tindakan para pelaku tidak kita terima dalam apapun keadannya. Tak ada alasan untuk apa yang terjadi di Myanmar," tutupnya.
 

 

(SUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif