Ilustrasi orangutan. Pexels.com
Ilustrasi orangutan. Pexels.com

Sudah Dievakuasi, Ini Daftar 7 Satwa Dilindungi yang Ditemukan di Rumah Bupati Langkat

Cindy • 29 Januari 2022 17:31
Jakarta: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara memastikan ketujuh satwa liar dilindungi yang ada di Rumah Bupati nonaktif Langkat Terbit Rencana Perangin Angin telah dievakuasi. Ketujuh satwa liar itu dipastikan dalam keadaan sehat. 
 
"Berdasarkan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan semua satwa dalam keadaan sehat semua," kata Plt Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Irzal Azhar, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 29 Januari 2022. 
 
Menurutnya, semua satwa tengah dirawat dalam rangka rehabilitasi untuk lepas liar. Rehabilitasi meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian obat dan vitamin, melatih cara makan sendiri, hingga pengayaan kandang layaknya habitat asli. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setiap satwa beda waktu rehabilitasinya tergantung kondisi satwanya," ucap dia. 
 
Baca: 11 Penghuni Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat Negatif Narkoba
 
Irzal menuturkan proses evakuasi satwa liar dilindungi tersebut atas kerja sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
Berikut daftar satwa liar dilindungi yang ditemukan di rumah Bupati nonaktif Langkat:
1. Orang utan Sumatera (critically endangered)
2. Monyet hitam Sulawesi (critically endangered)
3. Elang Brontok (least concern)
4. Dua ekor burung Jalak Bali (critically endangered)
5. Dua ekor burung Beo (endangered).

Bupati Langkat terancam 5 tahun penjara

Semua satwa yang diamankan petugas itu merupakan jenis satwa yang dilindungi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar jo. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. 
 
Pasal 21 ayat 2a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengatur bahwa, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. 
 
Sementara pada Pasal 40 ayat 2 mengatur bahwa, barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat 1 dan ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta. 
 
Baca: Geledah Kantor Bupati Nonaktif Langkat, KPK Angkut Berbagai Dokumen
 
(CIN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif