Ilustrasi--Pedagang membungkus minyak goreng curah di pasar tradisional di Aceh Timur. ANTARA/Hayaturrahmah
Ilustrasi--Pedagang membungkus minyak goreng curah di pasar tradisional di Aceh Timur. ANTARA/Hayaturrahmah

Masalah Distribusi Bikin Minyak Goreng Langka di Bogor

Rizky Dewantara • 17 Maret 2022 07:26
Bogor: Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UMKM Indag) Kota Bogor, Ganjar Gunawan, menyebut, kelangkaan minyak goreng di Kota Bogor bukan disebabkan oleh produsen. Melainkan pada pendistribusian ke pasar atau ke agen.
 
"Kondisi di lapangan memang kelangkaan minyak goreng di pasaran lebih kepada distribusi. Kewenangan mengenai masalah distribusi minyak goreng itu pihak kepolisian," ujar Ganjar, Kamis, 17 Maret 2022.
 
Ganjar menjelaskan pihaknya tidak bisa mengintervensi mekanisme penyaluran barang karena koordinasi dengan produsen dilakukan oleh pemerintah pusat, sementara distribusi juga langsung masuk ke mekanisme pasar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia melanjutkan mekanisme pendistribusian, setelah produsen bersedia menyiapkan barang (minyak goreng) lalu diberikan kepada distributor untuk disalurkan kepada sub distributor atau agen. Dari agen baru disalurkan kembali kepada pedagang eceran yakni toko-toko di pasar.
 
"Intinya kami tidak memiliki kewenangan terkait penyaluran atau pendistribusian minyak goreng. Ranahnya ada di kepolisian," akunya. 
 
Baca juga: Stok Minyak Goreng di Cirebon Dipastikan Aman
 
Ia juga menegaskan, saat ini Pemkot Bogor siap berkoordinasi dengan Polresta Bogor Kota untuk penindakan indikasi penimbunan minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah pusat.
 
Sebetulnya, kata dia, telah ada kebijakan keberpihakan pemerintah memberi aturan kepada produsen untuk menyisihkan sebanyak 20 persen kemudian kini 30 persen domestic market obligation (DMO) dari bahan baku minyak atau crude palm oil (CPO) kelapa sawit dari kesediaan ekspor, untuk kebutuhan dalam negeri.
 
"Berdasarkan data dari Kemenperin, realisasi produksi minyak goreng sawit 2021 mencapai 20,22 juta ton. Sementara itu, yang digunakan untuk memenuhi dalam negeri sebesar 5,07 juta ton atau 5,07 persen dan sisanya sebesar 15,55 juta ton atau 74,93 persen untuk tujuan ekspor. 
 
"Jadi kelangkaan minyak goreng di pasar pasar modern dan tradisional terjadi  bukan pada stok atau ketersediaan barangnya," tambah Ganjar.
 
Baca juga: Polisi Gerebek Gudang Penimbunan Minyak Goreng di Kalsel
 
Guna memantau harga dan distribusi, personel gabungan TNI dan Polri serta Pemkot Bogor turun langsung ke pasar tradisional dan modern di Kota Bogor.
 
"Total ada 200 personel gabungan yang kami sebar di 11 pasar di Kota Bogor. Mereka bertugas memonitor harga dan mengawasi distribusi minyak goreng," kata Kapolresta Bogor Kota Kombes Susatyo Purnomo Condro.
 
Menurutnya, hasil pemantauan sementara harga minyak goreng di 11 pasar, umumnya berkisar Rp14 ribu sampai Rp16 ribu per liter. 
 
"Namun untuk minyak goreng kemasan premium memang masih langka di Kota Bogor," ungkapnya.
 
Ia menambahkan setiap hari personel gabungan akan memantau distribusi minyak goreng dan mengatur agar tidak terjadi antrean panjang, tidak menimbulkan kericuhan, dan lain sebagainya.
 
"Saat ini kami belum menemukan pelanggaran, namun tim pengawas secara persuasif, mengimbau kepada para pedagang untuk tidak menjual dengan harga yang berlebihan dan kuantiti yang dibeli oleh para pembeli tidak berlebihan," imbuhnya.
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif