Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah. (AFP)
Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah. (AFP)

Hizbullah Belum Tentu Turun Tangan Jika Israel Serang Iran

Medcom • 09 Februari 2022 13:10
Beirut: Pemimpin kelompok Hizbullah Hassan Nasrallah mengklaim Israel tidak akan benar-benar menyerang Iran. Namun jika seandainya itu terjadi, Hizbullah belum tentu akan ikut berperang mendukung Teheran.
 
Nasrallah menegaskan, Hizbullah akan terlebih dahulu menimbang untuk ikut terlibat dalam perang atau tidak.
 
Dalam wawancara dengan stasiun TV Iran, Nasrallah mencoba ingin memperlihatkan independensi Hizbullah atas Iran, walau kelompoknya mendapat dukungan dari Teheran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Iran adalah negara regional yang kuat, dan segala bentuk peperangan yang melibatkannya akan menghancurkan wilayah sekitar," kata Nasrallah, dilansir dari The Times of Israel, Rabu, 9 Februari 2022.
 
Di tengah ramainya kritik dalam negeri yang menyebut Hizbullah bertindak untuk kepentingan Teheran, dan Lebanon, Nasrallah menantang para kritik untuk "memberi tahu kami satu saja tindakan yang dilakukan Hizbullah untuk Iran alih-alih Lebanon."
 
Ia juga membantah bahwa kedutaan besar Iran di Beirut terlibat dalam pengambilan keputusan di internal Hizbullah.
 
Nasrallah mengklaim bahwa Amerika Serikat (AS) takut berperang dengan Iran, dengan menyebut bahwa mereka tidak mampu menghentikan program nuklir Teheran. Ia juga memperingatkan akan adanya respons Iran yang "sangat intens dan tajam" apabila Israel, sekutu dekat AS, menyerang Iran.
 
"Iran sedang tidak bercanda dengan siapa pun," ujarnya.
 
Ia mengatakan rudal presisi Hizbullah tersebar di seluruh Lebanon, sehingga Israel perlu melancarkan perang berskala besar apabila ingin menghancurkan semuanya.
 
"Jika memang rezim Israel yakin dapat menang melawan Hizbullah, maka mereka seharusnya tidak perlu bimbang," kata Nasrallah.
 
 

Pesawat tanpa awak milik Israel yang melintas di atas Lebanon, menurut Nasrallah, telah "sangat berkurang" jumlahnya lantaran Hizbullah terus meningkatkan pertahanan udara.
 
Nasrallah menambahkan, ia menentang pembagian gas lepas pantai dengan Israel dan tidak terlalu mempedulikan negosiasi antara Beirut dan Tel Aviv mengenai penentuan zona ekonomi eksklusif negara-negara tersebut.
 
"Kami tidak menaruh perhatian terhadap pembahasan teknis tentang demarkasi perbatasan laut dengan Israel," katanya.
 
Baca:  Hizbullah Serang Sistem Pertahanan Udara Israel di Pegunungan Suriah
 
Pernyataan tersebut dikeluarkan Nasrallah beberapa minggu setelah Israel dan Lebanon mengumumkan untuk melanjutkan pembicaraan tentang area seluas sekitar 860 kilometer persegi (330 mil persegi) dari Laut Mediterania, yang diklaim kedua negara sebagai zona ekonomi eksklusifnya
 
Utusan AS yang bertugas menengahi pembahasan tersebut telah bertemu dengan pejabat Israel dan Lebanon.
 
Kedua negara memulai negosiasi tidak langsung melalui mediator AS pada tahun 2020 di markas perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon. Tapi, pembicaraan ini telah berulang kali dihentikan. Diskusi terbaru tentang masalah ini dilakukan Mei lalu.
 
Lebanon tenggelam dalam krisis ekonomi dan finansial sejak akhir 2019. Hal ini merupakan dampak dari praktik korupsi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
 
Negara kecil Mediterania itu ingin menyelesaikan sengketa perbatasannya dengan Israel untuk membuka potensi transaksi minyak dan gas yang menguntungkan. (Kaylina Ivani)
 
(WIL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif