NEWSTICKER
Wisatawan di Italia gunakan masker untuk cegah virus korona. Foto: AFP
Wisatawan di Italia gunakan masker untuk cegah virus korona. Foto: AFP

Virus Korona Jadi ‘Penyakit X’ yang Telah Lama Ditakuti

Internasional Virus Korona virus corona WHO
Arpan Rahman • 25 Februari 2020 18:11
Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menegaskan bahwa virus korona ‘dengan cepat menjadi’ tantangan pandemi yang paling utama di dunia. Seorang penasihat WHO memperingatkan virus korona sesuai dengan kategori ‘penyakit X’.
 
Virus korona COVID-19 sudah membunuh Virus korona telah membunuh 2,701 orang di seluruh dunia. menjangkit sekitar 80,234 orang hingga saat ini dan membekukan ekonomi Tiongkok.
 
Baca juga: WHO Khawatir Korona COVID-19 Menjadi Pandemik Global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih dari 1.200 kasus telah dikonfirmasi di 30 negara lain di mana Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Italia di antara yang mengalami wabah besar dan lonjakan tingkat infeksi.
 
Penyakit ini menimbulkan kekhawatiran di antara para pejabat dan ilmuwan bahwa upaya mengatasi virus korona dengan memberlakukan karantina tidak berhasil.
 
"Apakah itu akan tercegah atau tidak, wabah ini dengan cepat menjadi tantangan pandemi sejati terutama yang sesuai dengan kategori penyakit X, terdaftar untuk daftar prioritas penyakit WHO yang perlu kita siapkan dalam masyarakat global kita saat ini,” sebut Marion Koopmans, seorang profesor viroscience di Erasmus University, melalui jurnal ilmiah Cell.
 
Koopmans yang juga bertindak sebagai penasihat WHO menilai para ahli kesehatan masyarakat dan pihak berwenang ‘membuang-buang waktu berharga’, karena tidak siap menghadapi penyakit yang berpotensi menjadi pandemi.
 
Penyakit X adalah nama pengganti yang diadopsi oleh WHO untuk patogen baru yang dapat menyebabkan penyakit dan berpotensi menjadi epidemi di masa depan tetapi belum diketahui oleh para ilmuwan.
 
Baca: Tiongkok Laporkan Angka Kematian Terendah akibat Korona.
 
Namun kepala WHO berusaha meyakinkan publik bahwa virus korona masih dapat ditahan, sementara mengakui bahwa itu ‘berpotensi’ menjadi pandemi.
 
"Menggunakan kata pandemi sekarang tidak sesuai dengan fakta, tetapi tentu saja dapat menimbulkan ketakutan," kata Tedros Ghebreyesus.
 
"Kita harus fokus pada pencegahan, sambil melakukan segala yang kami bisa untuk mempersiapkan pandemi yang potensial. Tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua," tambahnya, disiarkan dari The Independent, Selasa 25 Februari 2020.
 
Dr Ghebreyesus mengatakan peningkatan mendadak dalam kasus di Italia, Iran, dan Korsel ‘sangat memprihatinkan. "Untuk saat ini, kami tidak menyaksikan penyebaran global dari virus ini, dan kami tidak menyaksikan penyakit parah dalam skala besar atau kematian,” tegasnya.
 
Pada Senin, para pejabat kesehatan mengumumkan bahwa orang ketujuh telah meninggal di Italia setelah mengidap COVID-19. Lebih dari 220 orang di negara itu terinfeksi virus sejak Jumat, menurut data terbaru, sebagian besar dari mereka berada di wilayah Lombardy dan Veneto.
 
Kuwait, Bahrain, Oman, dan Irak juga sudah mencatat kasus virus corona baru pertama mereka, semua orang itu pernah berada di Iran, yang menambah jumlah korban dari penyakit menjadi 12 orang meninggal dan 61 orang terinfeksi.
 
Ian Mackay, seorang profesor virologi di Universitas Queensland, telah menyarankan bahwa wabah baru-baru ini di luar Tiongkok mungkin hanya puncak gunung es.
 
Studi lain, yang diterbitkan pekan lalu oleh Imperial College London, mengatakan bahwa sekitar dua pertiga dari kasus virus corona yang diekspor dari Tiongkok belum terdeteksi.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif