Protes menentang kekerasan terhadap perempuan merebak di Eropa dan Amerika Latin. Foto: AFP
Protes menentang kekerasan terhadap perempuan merebak di Eropa dan Amerika Latin. Foto: AFP

Protes Kecam Kekerasan Terhadap Perempuan Merebak di Eropa

Internasional unjuk rasa kekerasan terhadap perempuan
Medcom • 26 November 2021 18:06
Madrid: Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan Eropa dan Amerika Latin guna menuntut diakhirinya kekerasan terhadap perempuan. Aksi demonstrasi berlangsung pada Kamis, 25 November 2021.
 
Dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 26 November 2021, unjuk rasa yang berlangsung menandai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Para polisi di Istanbul, Turki menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.
 
Ribuan orang melakukan aksi di Madrid dan Barcelona. Sementara yang lain berkumpul di Paris dan London, serta lebih banyak berunjuk rasa di Guatemala dan Honduras. Para pengunjuk rasa pun diperkirakan akan turun ke sejumlah jalan di Chili, Meksiko, dan Venezuela.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, keadaan berubah buruk di Istanbul, setelah polisi anti huru-hara menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi. Ratusan pengunjuk rasa mendesak pemerintah untuk kembali bergabung dengan perjanjian internasional yang dirancang guna melindungi perempuan.
 
Pemerintah Turki diketahui telah meninggalkan Konvensi Istanbul yang penting awal tahun ini, dengan alasan prinsip kesetaraan gendernya merusak nilai-nilai keluarga tradisional. Hal tersebut membuat marah para aktivis perempuan.
 
Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan, 345 perempuan telah terbunuh di Turki selama 2021. 
 

 
Di Spanyol, dimana pemerintah telah menjadikan perang melawan kekerasan dalam rumah tangga sebagai prioritas nasional, ribuan orang turun ke sejumlah jalan Madrid dan Barcelona di lautan bendera ungu. Sementara yang lain berunjuk rasa di Valencia, Seville, dan kota lain.
 
Pengunjuk rasa yang mengenakan topeng ungu, topi, dan syal diketahui berjalan di belakang spanduk besar bertuliskan “Cukup kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Solusi sekarang!”
 
“Tidak semua dari kita ada di sini, yang terbunuh hilang,” teriak mereka saat mereka berjalan melewati air mancur Cibeles dan bangunan bersejarah lainnya yang telah diterangi dengan warna ungu, pun memegang papan bertuliskan “Tidak ada satu kematian lagi”.
 
“Di tingkat global, itu tetap menjadi momok dan masalah besar,” ujar mahasiswa sekaligus aktor berusia 30 tahun, Leslie Hoguin kepada AFP.
 
“Sudah saatnya kekerasan patriarki terhadap tubuh kita, hidup kita, dan keputusan kita berakhir,” tambah Hoguin.
 
Para pengunjuk rasa muak dengan pelecehan yang kian berlangsung terhadap perempuan, “Kami muak dengan kekerasan yang sedang berlangsung terhadap kami yang mengambil berbagai bentuk,” tutur pegawai negeri sipil berusia 50 tahun, Maria Moran.
 
“Kami ingin melihat prostitusi dihapuskan dan diakhiri dengan pembunuhan, pelecehan dan pemerkosaan,” tutur Moran.
 

 
Pada 2004, parlemen Spanyol diketahui sangat menyetujui Undang-Undang (UU) pertama Eropa yang menindak kekerasan berbasis gender. “Memberantas kekerasan seksis adalah prioritas nasional,” cuit Perdana Menteri Spanyol sekaligus feminis yang kabinetnya didominasi oleh perempuan, Sosialis Pedro Sanchez.
 
“Kita hanya akan menjadi masyarakat yang adil ketika kita selesai dengan segala macam kekerasan terhadap perempuan,” ucap Sanchez.
 
Terdapat 37 perempuan di Spanyol dilaporkan telah dibunuh oleh pasangan atau mantan pasangan mereka selama 2021. Sebanyak 1.118  saat pemerintah mulai menghitung sejak 2003.
 
Menurut Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kesetaraan gender, UN Women, hampir satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual, kebanyakan oleh seseorang yang mereka kenal.
 
“Kekerasan terhadap perempuan adalah krisis global. Di semua lingkungan kita sendiri ada perempuan dan anak perempuan yang hidup dalam bahaya,” kata Direktur Eksekutif UN Women, Sima Bahous dalam sebuah pesan video.
 
Paus Fransiskus juga mempertimbangkan terkait kekerasan terhadap perempuan. Paus mencuit, “Perempuan korban kekerasan harus dilindungi oleh masyarakat.” 
 
“Berbagai bentuk penganiayaan yang dialami banyak wanita adalah pengecut dan mewakili degradasi bagi pria dan seluruh umat manusia. Kita tidak bisa berpaling,” tambahnya. (Nadia Ayu Soraya)

 
(FJR)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif