Warga asing yang mengungsi dari Ukraina. Foto: AFP
Warga asing yang mengungsi dari Ukraina. Foto: AFP

Di Tengah Perang, Warga Asing di Ukraina dapat Perlakuan Diskriminatif

Marcheilla Ariesta • 02 Maret 2022 13:43
Shegyni: Ribuan pelajar asing di Ukraina ikut melarikan diri dari perang yang dilancarkan Rusia ke Ukraina. Para pelajar ini berasal dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah.
 
Seorang pelajar asal Afrika, Jean-Jacques Kabeya mengungkapkan, penjaga perbatasan melarangnya untuk keluar dari Ukraina.
 
Ia dan beberapa orang asing lainnya mengatakan, perlakuan rasis oleh penjaga perbatasan dan warga Ukraina sebagai hal yang biasa mereka terima.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dua hari setelah melarikan diri dari pengeboman di sekitar kota timur Kharkiv, Kabeya mencapai pos pemeriksaan di Shegyni, di perbatasan dengan Polandia, pada Minggu malam.
 
"Namun tentara dan penjaga di sana menolak kami," kata mahasiswa berusia 30 tahun yang belajar menjadi apoteker itu kepada AFP, Rabu, 2 Maret 2022.
 
"Mereka mengatakan kepada saya 'Anda akan tinggal di sini, Anda melarikan diri dari perang, tetap di sini; Anda akan berperang bersama kami -- Anda tidak akan pergi, apalagi Anda orang kulit hitam'," katanya.
 
Setelah 36 jam menunggu dengan sia-sua di perbatasan, ia kembali ke stasiun kereta di kota barat Lviv. DI sana, ia menemukan beberapa rekan senegaranya dari Republik Demokratik Kongo dan pergi dengan mereka.
 
"Ini bencana!" kata Kabeya sambil menambahkan bahwa dia masih berusaha mencari jalan keluar.
 
Ukraina adalah tujuan populer bagi mahasiswa asing, dengan puluhan ribu menuju ke sana untuk belajar.
 
Di Tengah Perang, Warga Asing di Ukraina dapat Perlakuan Diskriminatif
Warga yang mengungsi keluar dari Ukraina. Foto: AFP
 

Tetapi mahasiswa asing lainnya di Lviv memiliki cerita serupa, dan pemerintah Nigeria dan Afrika Selatan telah menyerukan perlakuan yang lebih baik bagi warganya.
 
Uni Afrika mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan keprihatinan atas perlakuan sangat rasis yang diterima mahasiswa asing. Meski demikian, beberapa negara melaporkan, warganya berhasil meninggalkan negara itu.
 
Di pos perbatasan Shegyni, masih ada beberapa ratus orang, yang menahan dingin, mengantri dengan sabar untuk menyeberang. Mereka berasal dari Pakistan, India, Aljazair, DR Kongo, Kamerun, Ghana dan Aljazair.
 
Beberapa mengatakan mereka telah menghabiskan empat malam di sana, dengan suhu turun serendah minus 10 derajat Celsius.
 
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain jalan ada…
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif