Jenderal Khalifa Haftar dianggap telah menghancurkan peluang terbaik untuk memecahkan masalah Libya. (Foto: AFP).
Jenderal Khalifa Haftar dianggap telah menghancurkan peluang terbaik untuk memecahkan masalah Libya. (Foto: AFP).

PBB Khawatirkan Libya Masuk dalam Jurang Perang

Internasional konflik libya
Arpan Rahman • 19 April 2019 19:17
Tripoli: Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa persaingan internasional dan dukungan untuk berseteru dengan faksi-faksi Libya telah membantu mendorong negara Afrika utara yang kaya minyak itu ke jurang perang sepenuhnya.
 
Sejak Khalifa Haftar,- yang didukung Mesir, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Rusia, dan Prancis,-meluncurkan serangan ke Tripoli, PBB telah menerima laporan bahwa peralatan militer, termasuk pesawat dan peluncur roket memasuki negara itu.
 
Baca juga: AS Minta Khalifa Haftar Hentikan Serangan ke Tripoli.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada indikasi bahwa materi mengalir ke kedua belah pihak dan itu merupakan eskalasi yang serius," kata Stephanie Williams, wakil kepala misi PBB ke Libya kepada Financial Times.
 
"Harus dihentikan karena memperluas konflik akan menjadi bencana besar. Ini adalah kota yang dihuni 3 juta orang," cetusnya, disitat dari laman Financial Times, Jumat 19 April 2019.
 
Jenderal Haftar mengepalai Tentara Nasional Libya (LNA) yang berdaulat pada diri sendiri, melancarkan serangannya di Tripoli, tempat pemerintah Kesepakatan Nasional yang didukung PBB berpangkalan, bulan ini.
 
Serangan atas ibu kota terjadi menjelang konferensi yang diorganisir PBB. Konferensi bertujuan mengarah pada pemilu dan telah menghancurkan harapan solusi politik demi mengakhiri bertahun-tahun kekacauan dan kekerasan di anggota OPEC.
 
Kekuatan barat dan regional -- termasuk pendukung Jenderal Haftar -- telah menyerukan "de-eskalasi" pertempuran. Tetapi mereka berhati-hati untuk tidak memilih LNA. Para diplomat dan analis mengatakan sekutu asing Jenderal Haftar membuat prajurit veteran itu berani meluncurkan ofensifnya ke ibu kota dengan dukungan diam-diam mereka.
 
Negara ini telah diganggu ketidakstabilan sejak pemberontakan populer menggulingkan Moammar Khadafi pada 2011, di mana otoritas saingan dan segudang milisi mencaplok bangsa ini menjadi wilayah kekuasaan.
 
Selama dua tahun, Jenderal Haftar, yang pasukannya menguasai kawasan timur, didekati oleh para pemimpin di Paris, Roma, Moskow, Abu Dhabi, dan Riyadh.
 
Laporan PBB sebelumnya menyebut UEA dan Mesir sebagai salah satu negara yang melanggar embargo senjata. Rusia telah membiayai Haftar dengan mencetak dinar Libya, dan ada laporan tentara bayaran Rusia bekerja dengan LNA.
 
Namun Haftar tidak merahasiakan tujuan utamanya -- untuk merebut Tripoli dan menguasai negara. Ketika ia menyerang ke selatan pada Februari dan mengambil alih ladang minyak terbesar Libya, Sharara, sekutunya mendukung langkah itu. Prancis mengatakan operasi Haftar telah "melenyapkan target teroris" dan "secara permanen menghambat kegiatan perdagangan manusia".
 
Baca juga: Serangan Tripoli Hancurkan Harapan akan Perdamaian Libya.
 
Para diplomat mengatakan kemudahan serangan itu mungkin telah meyakinkan Haftar bahwa sudah waktunya bergerak ke barat di Tripoli.
 
Perebutan kekuasaan regional juga terjadi ketika saingan UEA dan Arab Saudi, Turki dan Qatar, mendukung kelompok-kelompok Islamis yang bersekutu dengan pemerintah berbasis di Tripoli. Mesir memanfaatkan LNA guna mengamankan perbatasannya dengan Libya timur, dan para analis mengatakan Kairo mungkin khawatir bahwa serangan Tripoli akan meregangkan pasukan Haftar dan memicu kekacauan lebih lanjut.
 
Serangan itu juga telah mendorong perbedaan antara Perancis dan Italia atas kebijakan Libya kembali ke permukaan. Roma dengan gigih mendukung pemerintah Tripoli dan memandang Haftar sebagai penghalang otokratis dan tidak stabil bagi perdamaian.
 
Ketidaksepakatan telah diperburuk oleh hubungan yang tegang antara Macron dan Matteo Salvini, menteri dalam negeri Italia. Salvini baru-baru ini mengatakan akan "sangat serius jika Prancis, karena alasan ekonomi atau komersial, memblokir inisiatif Uni Eropa buat membawa perdamaian ke Libya".
 
Seorang pejabat senior Prancis mengatakan kepada Financial Times bahwa serangan Haftar muncul sebagai "kejutan" bagi Paris, yang mendesaknya proses politik, bukan militer. Para pejabat Prancis, termasuk Presiden Emmanuel Macron, telah berbicara dengan Haftar.
 
Serangan LNA sudah terhenti di pinggiran Tripoli, tidak ada pihak yang mau mundur. Pada Kamis, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan 205 orang telah tewas dalam pertempuran bulan ini.
 
"Ketika Anda mencermati, Anda melihat para pemain regional dan internasional hanya memberikan iming-iming untuk upaya PBB. Banyak yang melihat status quo bermanfaat bagi mereka," kata Mohamed Eljarh, kepala eksekutif LORC Research and Consultancy berbasis di Libya.
 
"Komunitas internasional harus menjadi bagian dari solusi, tetapi itu telah menjadi bagian dari masalah," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif